IHSG Hari Ini Masih Melemah, Apakah Pasar Modal Indonesia Bakal Setara Zimbabwe?

IHSG Hari Ini Masih Melemah, Apakah Pasar Modal Indonesia Bakal Setara Zimbabwe?

Arina.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Senin, 19 Oktober 2026, masih belum baik-baik saja. IHSG masih terdampak pengumuman perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

MSCI, penyedia indeks pasar saham global sebelumnya membuka konsultasi terkait peluang perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (negara berkembang) ke Standalone Market (berdiri sendiri).

Jika pada akhirnya pengumuman itu benar Indonesia masuk klasifikasi standlone market, maka pasar modal Indonesia bakal terdepak turun kasta setara dengan negara Standlone Market lain seperti; Palestina, Zimbabwe dan Ukraina.

Pengumuman ini segera merontokkan IHSG di BEI. Hari ini misalnya, IHSG dibuka kembali melemah 223,23 poin atau 4,31 persen ke posisi 4.961,88. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 28,06 poin atau 5,52 persen ke posisi 480,50.

“Selama mampu kembali menembus area 5.326–5.332, IHSG berpeluang rebound menuju resistance 5.631. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus support 4.999, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 4.471,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata seperti dikutip dari Antara.

Sebelumnya, pada Jumat, 16 Oktober 2026 pagi waktu Indonesia, MSCI mengumumkan membuka konsultasi dengan pelaku pasar global mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market. 

MSCI menerima masukan dari pelaku pasar mengenai potensi reklasifikasi MSCI Indeks Indonesia tersebut sampai 30 April 2027, dan akan mengumumkan keputusannya pada atau sebelum tanggal 30 Juni 2027.

MSCI menyatakan bahwa kekhawatiran pelaku pasar telah meningkat secara signifikan mengenai kemampuan investasi di pasar modal Indonesia, termasuk mengenai ketidakjelasan yang terus berlanjut dalam struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.

Meskipun otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan aksi reformasi, namun MSCI menilai perlunya penerapan yang konsisten dan bukti dampak material yang berkelanjutan dari aksi reformasi tersebut.

Dari dalam negeri, peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026 masih terbuka, yang berpotensi terjadinya kenaikan suku bunga sebesar 25-50 basis poin hingga akhir tahun, terutama jika tekanan terhadap rupiah semakin meningkat.

Liza mengatakan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, tingginya harga minyak dunia, serta risiko pelemahan nilai tukar menjadi faktor utama yang perlu dicermati karena berpotensi meningkatkan inflasi impor (imported inflasi) dan menambah tekanan terhadap stabilitas harga domestik.

“Kondisi tersebut menempatkan BI pada tantangan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Liza.

Sementara itu, BI mendorong penguatan kerja sama internasional melalui perluasan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang negara ketiga dan meminimalkan dampak volatilitas nilai tukar global.

Hal tersebut disampaikan Gubernur BI Destry Damayanti dalam rangkaian pertemuan IMF-Bank Dunia dan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 pada 12–18 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand. 

Sedangkan data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan inflasi yang masih kuat, dengan data inflasi CPI dan PPI berada di atas perkiraan pasar. “Kondisi itu membuat pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 85 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober, sementara peluang kenaikan sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai hampir 77 persen,” ujar Liza.

Dalam pertemuan puncak IMF, Ketua The Fed, Kevin Warsh tidak memberikan sinyal pasti mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya, tetapi menyatakan bahwa inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tidak mengubah penilaiannya

Sementara itu, risiko gangguan pasokan energi meningkat akibat eskalasi keamanan di Timur Tengah, yang mana serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz mengurangi arus minyak harian menjadi rata-rata 11,62 juta barel pada pekan hingga 13 Oktober, dibandingkan tingkat dasar 17,15 juta barel.

Kondisi tersebut meningkatkan biaya pengiriman dan premi risiko bagi produsen yang mengangkut minyak melalui kawasan tersebut. Di sisi lain, serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap kilang minyak Rusia juga membatasi ketersediaan bahan bakar di pasar global.

“Kombinasi gangguan distribusi di Timur Tengah dan Rusia memperbesar risiko kelangkaan pasokan energi, sehingga pasar minyak semakin sensitif terhadap perkembangan konflik dan keamanan jalur pelayaran internasional,” ujar Liza.

Bursa Eropa kompak menguat pada Jumat (16/10) pekan kemarin, antara lain Euro Stoxx 50 menguat 0,58 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,38 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,95 persen, dan indeks CAC 40 Prancis menguat 0,28 persen.

Berikutnya bursa Wall Street AS kompak melemah pada Jumat (16/10), diantaranya indeks S&P 500 melemah 1,10 persen, indeks Nasdaq Composite melemah 2,50 persen, serta Dow Jones Industrial Average melemah 0,34 persen.

Bursa saham regional Asia pagi ini, indeks Nikkei melemah 1,12 persen menjadi 64.594,00, indeks Shanghai melemah 0,49 persen menjadi 3.698,96, indeks Kospi melemah 0,22 persen menjadi 5.655,17, dan indeks Straits Times melemah 0,10 persen menjadi 5.409,95. Sedangkan indeks Hang Seng libur seiring hari libur Bursa Hong Kong.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo