Minggu, 20 Juli 2025, di Solo. Presiden Prabowo Subianto berdiri di podium penutupan kongres Partai Solidaritas Indonesia, partai yang dipimpin putra bungsu Joko Widodo, Kaesang Pangarep.
Suara presiden kemudian melunak. “Saya sedikit emosional kalau mendengar kata-kata PSI,” katanya, “karena dahulu ayahanda saya pernah menjadi ketua PSI, yang PSI lama, yaitu Partai Sosialis Indonesia.”
Sambung Prabowo, “sekarang ada penerusnya, Partai Solidaritas Indonesia,” hadirin bersorak.
Seminggu kemudian, dari kanal diskusinya, Rocky Gerung balas dengan nada guru yang memeriksa kertas ujian. Presiden, katanya, harus mengoreksi pidato itu demi keadilan membaca sejarah republik. Partai Sosialis Indonesia yang didirikan Sutan Sjahrir pada 1948, ujar Rocky, adalah gudang ide, bukan gudang modal. Sejumlah media menulis ia menyebut Prabowo tidak paham pikiran ayahnya sendiri.
Adegan itu terdengar seperti pertengkaran biasa antara presiden dan pengkritiknya. Padahal yang terjadi lebih intim. Dua lelaki sedang memperebutkan warisan sebuah partai yang sudah dibubarkan 65 tahun lalu, seperti dua ahli waris bertengkar di depan rumah tua keluarga. Satu mewarisinya lewat darah, yang lain lewat buku, guru, dan meja diskusi.
Empat belas bulan kemudian, pada 2 Oktober 2026, keduanya berada di ruang yang sama. Prabowo, 74 tahun, melantik Rocky, 67 tahun, sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Publik terkejut. Warganet menagih janji Rocky pada 2019 untuk mengkritik Prabowo dua belas menit setelah dilantik.
Kita memang tidak perlu terkejut. Rocky dan Prabowo bukan dua orang asing yang tiba-tiba berdamai. Mereka dua dahan dari satu pohon tua yang sama, yang lama tumbuh ke arah berlawanan, lalu akhirnya bertemu di bawah atap yang sama.
Pohon Bernama PSI
Partai Sosialis Indonesia lahir pada 1948 dari tangan Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Republik. Partai ini menganut apa yang mereka sebut sosialisme kerakyatan, anti-kolonial, anti-komunis, menolak diktator proletariat, anti fasis, dan curiga pada pengkultusan pemimpin. Ia partai kaum terpelajar khas perkotaan dengan pengaruh di birokrasi dan sebagian tentara, tetapi miskin suara. Pada Pemilu 1955 PSI hanya meraih sekitar dua persen. Orang-orang PKI mengejek mereka “sosialis kanan” atau “sosialis salon”.
Pada 1960 Sukarno bubarkan PSI, bersama Masyumi, setelah sejumlah tokohnya terseret Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. Sjahrir ditahan dan meninggal di pengasingan. Tetapi partai yang mati itu tidak benar-benar hilang. Jaringan PSI bukan gerakan bawah tanah, melainkan jaringan intelektual. Orang-orang yang membaca buku yang relatif sama, minum kopi dan wine di meja yang sama. Mereka saling mengenal dengan cara berdebat.
Dari pohon itu tumbuh banyak dahan. Dahan pertama tumbuh ke arah negara, teknokrat, menteri, dan keluarga yang dekat kekuasaan. Dahan kedua tumbuh ke arah pinggir sebagai aktivis mahasiswa, penulis, dan pembangkang yang keluar-masuk penjara. Prabowo tumbuh di dahan pertama. Rocky dibesarkan di dahan kedua.
Dahan Pertama Sumitro dan Putranya
Sumitro Djojohadikusumo ekonom cemerlang PSI. Ia menteri keuangan dan menteri perdagangan di era parlementer. Pada 1957 meninggalkan Jakarta, bergabung dengan PRRI, lalu hidup sebagai buronan politik Sukarno, berpindah-pindah negara bersama keluarganya. Prabowo kecil ikut pengembaraan itu.
Setelah Sukarno jatuh, Sumitro pulang dan masuk kabinet Soeharto jadi menteri perdagangan, lalu menteri negara riset. Sosialis muda pemberontak Sukarno kini jadi teknokrat Orde Baru. Putranya masuk akademi militer jadi perwira Kopassus, dan 1983 menikahi putri Soeharto.
Darah PSI tidak pernah benar-benar disangkal. Di forum CEO Forbes pada Oktober 2025, Prabowo cerita bahwa pemikiran ekonominya dibentuk ayah dan kakeknya, dalam semangat anti-kolonial.
“Ayah saya pun seorang sosialis pada masa mudanya, dia memimpin Partai Sosialis Indonesia,” katanya.
Lingkar persahabatannya pun berakar di partai itu. Maher Algadri, kawannya sejak taman kanak-kanak, adalah putra Hamid Algadri, juga tokoh PSI. Dalam wawancara dengan Tempo pada 2014, Maher mengenang dua keluarga itu kerap berkumpul. “Sejak kecil bergaul dengan para pemikir negara,” katanya.
Dahan ini tumbuh ke arah matahari kekuasaan. Ia bawa kosakata sosialisme sejak kecil di dalam mesin negara, di kementerian, barak, dan keluarga Cendana.
Dahan Kedua: Gemsos, Malari, dan Guru-Guru Rocky
Dahan kedua bermula dari Gerakan Mahasiswa Sosialis, Gemsos, sayap mahasiswa PSI yang berdiri pada 1955. Salah satu perintisnya Rahman Tolleng, anak Sinjai Sulawesi Selatan, yang kuliah di ITB Bandung dan tak pernah menamatkan kuliahnya karena terlalu sibuk berpolitik. Ia senior Soe Hok Gie, Arief Budiman, dan Goenawan Mohamad.
Nasib Tolleng nasib dahan kedua. Ia ikut menumbangkan Sukarno, sempat duduk di DPR-GR, ikut membidani Golkar, lalu dipenjara 16 bulan setelah peristiwa Malari 1974. Bertahun-tahun kemudian ia mengenang bahwa ia ditangkap karena dikategorikan orang PSI, yang menurut Ali Moertopo, operator politik Soeharto, adalah biang kerok kerusuhan itu. Dalam gelombang penangkapan yang sama, seorang aktivis muda Fakultas Ekonomi UI juga masuk penjara, Sjahrir, yang dipanggil Ciil.
Ciil menikahi Nurmala Kartini Panjaitan, adik kandung Luhut Binsar Panjaitan. Prabowo mengangkat salah seorang anak mereka, Pandu Sjahrir sebagai Chief Investment Officer (CIO) Danantara.
Rahman Tolleng dan Ciil, mereka kelak mengisi hidup Rocky. Tolleng ia sebut “guru yang baik, sabar untuk berdiskusi”. Bersama Tolleng, Marsillam Simanjuntak yang juga alumni Gemsos, dan Gus Dur, Rocky mendirikan Forum Demokrasi pada 1991. Fadjroel Rachman, yang ikut berhimpun di sana, menyebut lingkungan itu “habitat PSI”. Intelek dan akademis. Bersama Ciil, Rocky mendirikan Partai Perhimpunan Indonesia Baru pada 2002, dan memimpin Sekolah Ilmu Sosial di yayasan yang diketuai Ciil.
Bahkan skripsi Rocky pun berbau PSI. Ia memilih Mazhab Frankfurt, tradisi new left yang curiga pada partai komunis, persis seperti sosialisme Sjahrir yang anti-PKI. Ketika Tolleng wafat pada 2019, Rocky menyebut pandangan politik gurunya itu “sosialis, liberal”. Dua kata itu juga yang mendefinisikan Rocky.
Dahan ini tumbuh ke pinggir. Ia bawa kosakata sosialisme yang sama, tetapi hidup di luar negara, di ruang diskusi, penjara, artikel media dan forum-forum yang diawasi mata-mata.
Bertemu di Tengah Jalan
Kapan dua dahan itu bersentuhan? Rocky pernah menyebut Prabowo “teman saya diskusi dulu-dulu”. Tercatat gejalanya. Pada Januari 2019, Rocky berdiri di panggung deklarasi alumni pendukung Prabowo-Sandiaga di TMII, menolak disebut tim sukses, tetapi berharap tim itu menang, sambil janji akan kritik Prabowo dua belas menit setelah dilantik. Dua setengah bulan kemudian di Surabaya, Prabowo sebut nama Rocky di antara orang-orang yang akan membantunya di pemerintahan bila menang.
Lebih menarik cara Rocky mengkritik Prabowo setelah ia berkuasa. Kritik itu nyaris tak pernah menyerang arah ideologinya. Kritik itu menyerang orang-orang di sekeliling Prabowo yang dianggap tidak setia pada arah itu.
Pada April 2026, di kanal Total Politik, Rocky menyebut “Prabowonomik” sebagai jalan Prabowo sebagai pemimpin sosialis, bukan hanya di Indonesia tetapi di Asia. Masalahnya, kata Rocky, sebagian besar menterinya tidak paham pikiran sang presiden. “Presiden ingin jadi sosialis, tapi tikungannya berbahaya.” Pada 22 September 2026, ia menjelaskan apa yang ia maksud radical break, membongkar konstruksi teknokratik kabinet “karena tidak sosialistis”. Ia ingin kebijakan Prabowo berakar pada “genealogi dari konstitusi” yang berwatak sosialistik.
Itu bukan bahasa oposisi. Itu bahasa saudara seperguruan, tujuh tahun lebih muda, berani menegur kakaknya karena dianggap lupa pada ajaran keluarga. Rocky tidak minta Prabowo berhenti jadi sosialis. Ia minta Prabowo jadi sosialis yang benar, dan menyingkirkan para teknokrat dungu yang menghalanginya.
Bahkan pertengkaran Juli 2025 soal PSI pun bisa dibaca dengan cara yang sama. Rocky tidak membantah bahwa Prabowo pewaris Sumitro. Ia hanya keberatan Prabowo mewariskan PSI kepada partai yang salah.
Ironi di Pohon yang Sama
Rocky dan Prabowo memang dua dahan dari satu pohon yang sama namun tidak bisa mengabaikan setidaknya sejumlah ironi tajam di dalamnya.
Pertama pada Januari 1974. Prabowo saat itu berusia 22 tahun dan sedang menuntaskan pendidikan di akademi militer; Rocky baru 15 tahun. Ketika Rahman Tolleng dan Ciil Sjahrir dijebloskan ke penjara karena dicap orang PSI, Sumitro Djojohadikusumo, tokoh PSI paling terkenal, sedang duduk sebagai menteri negara riset di kabinet Soeharto. Dalam satu musim politik yang sama, dahan pertama duduk di kabinet, dahan kedua duduk di penjara.
52 tahun kemudian, putra sang menteri sosialis melantik murid para tahanan itu.
Kedua soal rumah warisan. Juli 2025, Rocky menegur Prabowo karena dianggap tak memahami pikiran ayahnya sendiri. Oktober 2026, Rocky diangkat jadi penasihat sang anak. Murid ideologis kini menasihati ahli waris biologis tentang warisan yang sama.
Ironi ketiga ada pada kalimat Rocky sendiri. PSI lama, katanya, adalah gudang ide, bukan gudang modal, dan berdiri sebagai oposisi terhadap kekuasaan. Kini ia duduk di Wantimpres yang anggotanya termasuk taipan Dato’ Sri Tahir dan pengusaha jalan tol Jusuf Hamka. Dan sejarah PSI sendiri tak sepenuhnya cocok dengan nostalgianya, Sumitro menteri dua rezim, Tolleng ikut membidani Golkar, Marsillam Simanjuntak Sekretaris Kabinet dan Jaksa Agung era Gus Dur, dan Ciil duduk di Dewan Pertimbangan Presiden era SBY. Tradisi ini sejak awal punya satu kaki di luar pagar dan satu kaki di dalam.
Ironi keempat duduk di kursi sebelah. Di antara anggota Wantimpres yang dilantik bersama Rocky ada Jusuf Wanandi, pendiri CSIS, lembaga kajian yang lahir pada 1971 besutan Ali Moertopo. Orang yang dulu menjebloskan kubu PSI ke penjara dan menudingnya sebagai dalang Malari. Lima dekade kemudian, murid Tolleng dan pendiri lembaga dari lingkaran Moertopo menjadi kolega dalam satu dewan etis. Sejarah perlawanan tidak menghapus jejak para pelakunya dan memastikan mereka makin menua.
Ironi kelima adalah kata disiden. Pada April 2026 Prabowo menyapa Rocky, “Ternyata Pak Rocky masih disiden.” Kata masih dalam kalimat itu terdengar seperti seorang kakak yang menunggu adiknya pulang. Lima bulan kemudian, si adik pulang.
Jadi, Siapa Rocky?
Selama hampir satu dekade, publik membaca Rocky lewat satu kacamata bahwa dia oposisi. Kacamata itu membuat pelantikannya terasa seperti pengkhianatan atau keajaiban. Tetapi kalau dibaca lewat sanadnya, gambarnya berubah dan tidak perlu merasa kecewa.
Rocky bukan anarkis yang menolak kekuasaan sepenuhnya. Ia juga bukan oposan yang hidup dari kemarahan. Ia intelektual dari tradisi sangat spesifik, sosialis dan liberal sekaligus, anti-komunis, anti-fasis, anti-pengkultusan, elitis dalam selera, percaya bahwa ide yang benar harus menuntun negara. Tradisi itu menaruh curiga pada kekuasaan, tetapi tidak pernah alergi padanya. Ia hanya ingin kekuasaan dipegang dengan cara berpikir yang benar.
Dengan kacamata itu, permusuhan Rocky dengan Jokowi bisa dibaca lebih dari perkara kebijakan. Dari silsilah ini, Jokowi tampak sebagai pemimpin tanpa genealogi ideologi yang jelas, dikelilingi teknokrat dan modal. Prabowo, betapapun Rocky kritik, adalah putra Sumitro. Sang pewaris yang menurut Rocky salah membaca warisan, tetapi tetap pewaris. Rocky kritik Jokowi seperti orang luar melempar batu ke penghuni rumah. Ia mengkritik Prabowo seperti anggota keluarga menegur saudara yang salah mengurus rumah warisan.
Karena itu, kita tidak perlu heran. Rocky tidak pernah pindah kubu. Ia duduk di meja makan keluarga ideologis yang sama, hanya pindah dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Keluarga itu sudah ia kenal sejak skripsi tentang kiri yang curiga pada kiri, sejak Tolleng, sejak Fordem. Kalimatnya, “Saya cuma pindah dari luar ke dalam.”
Rocky lebih jujur dari dugaan banyak orang. Bagi tradisi PSI, luar dan dalam tidak berjarak, hanya bersebelahan.
Perlu kita perhatikan pelajaran dari pohon yang sama. Para pendahulu Rocky yang masuk ke dalam tidak selalu berakhir sesuai rencana. Sumitro didengar, lalu dipindahkan ke pos yang lebih gelap karena berbeda pandangan dengan Soeharto. Tolleng ikut membidani Golkar, lalu dipenjara oleh rezim yang ikut ia bangun. Tradisi ini kaya ide tetapi miskin massa, dan karena itu selalu bergantung pada kesediaan penguasa untuk mendengar.
Rocky kini menggantungkan akal sehatnya pada kesediaan yang sama. Publik tidak perlu heran ia masuk. Tetapi justru karena itu, patut ditunggu apa yang terjadi ketika sang adik mulai beda pendapat dengan kakaknya, sementara sang kakak berkuasa penuh atas rumahnya.
Soal kritik bajingan tolol kepada Jokowi ia bedakan antara jabatan dari orangnya. Logika “saya menghina presiden, bukan Jokowi-nya” semestinya berlaku dua arah. Jika dulu yang ia serang institusi, bukan pribadi, maka kini yang ia layani pun institusi, bukan Prabowo.
Sebab ukuran keberanian seorang disiden bukan pada kemampuan masuk ke dalam, melainkan kesanggupannya tetap mengatakan sesuatu sekalipun tidak ingin didengar Presiden yang memberinya kursi. Dulu ia sosialis pinggiran melucuti kekuasaan dari luar. Kini tanpa penolakan, dari dalam kekuasaan yang akan mendefinisikan Rocky.
Abi S Nugroho
Pengurus Lakpesdam PBNU
Editor: Muhammad Zunus


