Arina.id - Keinginan Tel Aviv agar Amerika Serikat (AS) melompat ke tengah bara konflik Israel vs Palestina sepertinya benar-benar bakal terwujud. Meskipun saat ini tiga negara eropa (E3)--Inggris, Prancis dan Jerman--sedang bernegosiasi dengan Iran, namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus melempar komentar yang bernada menekan terhadap Teheran.
Trump lebih memercayai tuduhan Israel soal bom nuklir Iran, dan justru menyalahkan intelijennya sendiri. Presiden Amerika itu juga mengabaikan pernyataan Badan Energi Atomik Internasional (IAEA) yang menyebut Iran saat ini tidak mengembangkan senjata nuklir.
Sebelumnya, seperti dilaporkan The Guardian, pada Maret 2025, Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard bersaksi di Capitol Hill Kongres AS bahwa komunitas intelijen AS terus meyakini bahwa Tehran tidak membuat senjata nuklir. Akan tetapi Trump mulai mempertanyakan dan mempersoalkan kesaksian intelijennya itu.
Media-media barat lain juga melaporkan kesaksian Gabbard di Capitol Hill yang mengatakan kalau Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei tidak mengizinkan program nuklirnya berkembang menjadi senjata. Ketika kesaksian Gabbard dikonfirmasi ke Trump di New Jersey, presiden AS itu menjawab, "Baiklah, maka komunitas intelijen saya salah". Trump sepakat dengan Israel kalau Iran di ambang pengembangan senjata nuklir.
Setelah disalahkan Trump, Gabbard yang belum pernah mengomentari pemberitaan dirinya soal kesaksian di Capitol Hill sekarang mendadak berbalik 180 derajat. Ia kemudian memposting video kesaksiannya di Platform X setelah komentar Trump dan menuduh media memutarbalikkan pernyataannya. "Media yang tidak jujur secara sengaja mengeluarkan kesaksian saya dari konteks dan menyebarkan berita palsu sebagai cara untuk menciptakan perpecahan," tulis Gabbard.
"Intelijen Amerika memiliki bukti bahwa Iran berada dalam posisi untuk memproduksi senjata nuklir dalam beberapa minggu hingga bulan, jika mereka memutuskan untuk menyelesaikan perakitan. Presiden Trump telah jelas bahwa itu tidak bisa terjadi, dan saya setuju."
Namun kesaksian Gabbard sebenarnya justru sejalan dengan Direktur Jendral IAEA Rafael Grossi yang tidak melihat bukti nyata bahwa Iran memiliki program senjata nuklir aktif. Rabu,18 Juni 2025, dalam sebuah wawancara dengan media, Grossi mengatakan tidak ditemukan bukti bahwa Iran sedang membangun senjata nuklir.
Truthout dan Aljazeera juga melaporkan pernyataan Grossi itu. Ia mengatakan kalau IAEA tidak menemukan bukti bahwa Iran berusaha menciptakan senjata nuklir. Grossi menyatakan bahwa meskipun aktivitas rahasia di luar pengawasan agensi tidak dapat diabaikan, namun laporan yang mengatakan bahwa Iran tidak secara aktif mengembangkan senjata nuklir sejak 2003 tetap akurat.
Menurut Grossi, mereka yang mengklaim memiliki rincian tepat tentang pergerakan Iran menuju senjata nuklir semata-mata hanya berspekulasi. "Jika ada aktivitas yang bersifat rahasia atau tersembunyi atau jauh dari pengawas kami, kami tidak mengetahuinya," kata Grossi.
Trump tidak mungkin mengabaikan Israel
Presiden Donald Trump mengatakan tidak mungkin menekan Israel untuk mengentikan serangan mereka untuk mengizinkan negosiasi Iran. "Saya rasa sangat sulit untuk mengajukan permintaan itu sekarang. Jika seseorang menang, hal ini sedikit lebih sulit dibandingkan jika seseorang kalah, tapi kami siap, bersedia dan mampu, dan kami telah berbicara dengan Iran."
Presiden AS mengulangi akan menunggu dua minggu untuk memutuskan apakah AS harus memasuki konflik atau tidak. Dia juga meragukan negosiasi dengan pejabat Eropa dapat mengamankan gencatan senjata. "Iran tidak ingin berbicara dengan Eropa, mereka ingin berbicara dengan kami," kata Trump. "Eropa tidak akan dapat membantu Iran."
Sabtu dini hari, 21 Juni 2025, Israel dan Iran saling serang. Israel meluncurkan serangan yang menyasar situs pengembangan nuklir Iran, sementara negeri para Mullah juga menembakkan rudal ke Tel Aviv namun militer Israel mengaku bisa mencegatnya. Sejak genderang perang Israel dan Iran dimulai pada Jumat, 13 Juni 2025, ratusan orang tewas di pihak Israel dan Iran.
Editor:


