Dark
Light
Dark
Light

Teori Militer Runtuh Ketika Rudal Iran Menembus Pertahanan Canggih dan Berlapis Langit Israel

Teori Militer Runtuh Ketika Rudal Iran Menembus Pertahanan Canggih dan Berlapis Langit Israel

Jakarta, Arina.id - Ketika rudal hipersonik milik Iran berhasil menjebol pertahanan udara canggih milik Israel pada serangan balasan Jumat, 13 Juni 2025 lalu, maka otomatis teori militer pun segera runtuh. Pandangan itu disampaikan Jurnalis Senior khusus Liputan Timur Tengah, Mustafa Abdul Rahman.

Dalam teori militer, kata dia, untuk memenangkan perang, maka perlu menguasai pertahanan udara atau langit musuh dengan pesawat tempur tercanggih. Hal itu yang kemudian membuat Israel sombong. Pesawat-pesawat canggihnya berhasil menyerang sejumlah kota di Iran. Pejabat Israel kemudian mengeluarkan peryataan "telah menguasai langit Iran".

Namun ternyata Teheran bisa membalikkan keadaan. "Iran juga berhasil menguasai langit Israel sekarang bukan dengan armada pesawat canggih tapi dengan rudal balistik hipersonik. Ini teori baru yang mungkin belum ada di akademi-akademi militer," katanya dalam diskusi Forum Kramat di PBNU, Jumat 20 Juni 2025.

"Sehingga perang yang sudah berlangsung seminggu ini susah siapa yang menang siapa yang kalah. Tapi kalau saya menyebutnya draw, ibarat permainan sepak bola ini 0-0, 1-1, atau 2-2, sampai saat ini. Karena kedua negara sama-sama masih menguasai langit, Iran menguasai langit Israel, Israel menguasai langit Iran," ujarnya.

Mustafa menambahkan, Iran adalah negara pertama yang menggunakan rudal balistik tersebut sejak perang dunia kedua, walaupun negara seperti China, Korea Utara, dan Rusia sudah memilikinya. "Dan tidak pernah terjadi dalam sejarah berdirinya negara Israel, langit Israel belum pernah dikuasai musuh, belum pernah, baru sekarang," katanya.

Teori kedua, kata Mustafa, yaitu runtuhnya sistem pertahanan rudal Israel yang dikenal sangat canggih dengan pertahanan yang berlapis-lapis. Pada bagian pertama, Israel dijaga oleh pertahanan Rudal Arrow 3 yang terletak di luar atmosfer. Bagian kedua dilindungi Arrow 2 tepat di bawah atmosfer. Ketiga, pertahanan rudal David Sling.

"Di bawahnya lagi ada yang namanya Iron Dom, ini jangkauannya jangka pendek. Ini sebetulnya untuk menghadapi rudal-rudalnya Hamas dan Hizbullah. Jadi ada empat sistem pertahanan anti rudal Israel yang dipersiapkan untuk menangkis rudal-rudalnya Iran," katanya.

Tak hanya itu, ternyata Amerika juga menempatkan pertahanan anti rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), yang ditempatkan di Israel tapi dioperasikan oleh Amerika. Ia mengatakan bahwa Israel mengklaim hanya 20 persen rudal Iran yang lolos dari penjagaan berlapis.

"Tapi hanya 20 (persen) yang lolos, tapi lihat dampaknya ke kota Tel Aviv sama Haiva. Kalau kita sudah sering lihat stasiun televisi media-media Arab (seperti) Al-Jazirah dan lain, betapa kehancuran di Kota Tel Aviv dan Haiva sekarang, dan Israel mengakui kehancuran Kota Tel Aviv sekarang ini terbesar sejak berdirinya negara Israel sejak 1948," ujarnya menegaskan.

Kemudian soal serangan Israel, Pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman mengatakan penyerangan Israel terhadap Iran pada Jumat pekan lalu melanggar aturan Pasal 51 Piagam PBB yang mengatur hak negara untuk membela diri jika terjadi serangan bersenjata. PBB kemudian mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional. 

Ia menyebut, langkah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggunakan taktik preventive strike atau perang pencegahan dengan menyerang Iran lebih dahulu, karena menganggap Iran menembakan rudal terlebih dahulu adalah sebuah kekeliruan.

"Sekarang posisinya Israel kalau nanti Iran menyerang, daripada (Iran) menyerang duluan, kami (Israel) serang duluan. Berartikan belum terjadi serangannya, jadi dari sisi hukum internasional itu menyalahi," katanya.

Dina mengatakan laporan terakhir Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) atau lembaga PBB yang mengurus proyek nuklir seluruh dunia kecuali Israel, belum menemukan tanda-tanda Iran membuat senjata maupun bom nuklir. "Yang terbaru diwawancarai televisi, Rafael Grossi Direktur IAIE (mengatakan) 'ya kami tidak menemukan bukti bahwa Iran akan membuat senjata nuklir'," jelasnya.

"Berartikan tuduhan Netanyahu ini tidak ada buktinya dan tuduhan yang sama sebenarnya udah dikeluarkan pada 1996. Sejak 96 sudah berbicara seperti itu Iran itu sebentar lagi akan membuat senjata nuklir, sekarang sudah 2025," lanjutnya.

Dina mengatakan, kemelut Iran dan Israel merupakan sebuah rekayasa untuk menekan opini publik dunia atas serangan Israel ke Palestina. "Dengan perang ini Netanyahu ingin mengalihkan opini publik dunia dari Gaza," katanya.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo