Greg Barton: Demokrasi Masih Bertahan di Indonesia Meski Mengalami Kemerosotan

Greg Barton: Demokrasi Masih Bertahan di Indonesia Meski Mengalami Kemerosotan

Arina.id — Demokrasi di Indonesia telah melewati perjalanan panjang sejak tumbangnya Presiden Soeharto pada Mei 1998. Menurut Prof. Greg Barton, pakar Islam dan gerakan sosial di Indonesia, banyak pengamat kala itu memprediksi bahwa transisi demokrasi tak akan bertahan lama. Alasannya sederhana: dianggap tidak ada kekuatan masyarakat sipil yang cukup besar untuk menjaganya.

Namun, realitas berkata lain. Masyarakat sipil tetap hadir melalui organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan gereja-gereja. Walaupun saat ini terjadi kemerosotan namun demokrasi tetap berjalan hingga kini.

"Demokrasi tetap ada, kalau ada yang korupsi, memakai kekuasaan dengan cara yang kurang adil, masih ada kritik. Masih ada jurnalis yang berani, ormas yang peduli isu ormas dan HAM," ujar Barton dalam wawancara eksklusif di program “Menjadi Indonesia” yang tayang di kanal YouTube NU Online.

Barton menilai, seandainya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih hidup, ia mungkin akan kecewa dengan beberapa hal yang terjadi di Indonesia saat ini. Namun, Gus Dur juga akan terkejut dengan satu hal bahwa demokrasi tetap bertahan.

Barton mengakui saat ini terdapat indikasi kemerosotan demokrasi Indonesia terlihat dengan isu-isu hari ini namun ia menekankan untuk tidak putus asa. 

"Itu salah satu pelajaran dari Gus Dur. Mau tidak mau kita tetap optimis dengan sikap saling menghormati, mencintai di tengah negara dan bangsa yang menghadapi krisis," ujarnya.

Membandingkan Indonesia 25 tahun lalu dengan sekarang, Barton melihat adanya kemajuan signifikan, namun juga kemunduran yang tidak sesuai harapan Gus Dur. Ia mengutip filosofi sederhana Gus Dur.

"Jika ada gelas yang satu terisi penuh, yang satunya lagi setengah saja, Gus Dur akan bilang setengah pun masih bisa diminum, masih ada harapan," jelasnya.

Menurut Greg Barton dalam bukunya Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, demokrasi yang dicita-citakan Gus Dur sebagai suatu sistem yang tidak hanya berfokus pada formalitas prosedural, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan pluralisme. 

Selain itu, demokrasi yang inklusif yang menghargai keberagaman agama dan budaya, serta melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. 

Gus Dur juga meyakini bahwa demokrasi bukan sekadar sistem politik, tetapi juga alat untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan seperti kebebasan, keadilan, dan persamaan hak bagi semua warga negara.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo