Riyadh, Arina.id — Kelompok Houthi pada Rabu (14/10/2026) mengklaim telah menyerang fasilitas milik perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco. Klaim tersebut muncul setelah pejabat Saudi melaporkan serangan terhadap sebuah gedung di kawasan yang menjadi pusat operasional perusahaan energi tersebut.
Sementara itu, ledakan kuat mengguncang ibu kota Arab Saudi, Riyadh. Koalisi yang memerangi Houthi menyatakan telah mencegat sebuah rudal yang ditembakkan kelompok yang didukung Iran tersebut ke arah Riyadh.
Arab Saudi, eksportir minyak mentah terbesar di dunia, dalam beberapa hari terakhir menghadapi serangan berulang di tengah meningkatnya konflik dengan Houthi. Sebagai balasan, Arab Saudi melancarkan serangan terhadap basis utama kelompok tersebut di Sanaa, ibu kota Yaman, yang telah dikuasai Houthi selama bertahun-tahun.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan pasukannya telah melancarkan “operasi militer berkualitas tinggi yang menargetkan Aramco di Dhahran”. Serangan juga diarahkan ke bandara Riyadh dan sebuah kilang minyak di ibu kota Arab Saudi tersebut.
“Operasi ini dilakukan menggunakan sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak,” kata Saree.
Ia menambahkan bahwa serangan ke wilayah Arab Saudi akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang, dengan sasaran bandara dan fasilitas minyak negara tersebut.
Sebelumnya, seorang pejabat Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan sebuah gedung milik Aramco di Dhahran terkena serangan. Insiden itu memicu kebakaran terbatas, tetapi tidak menimbulkan korban luka maupun korban jiwa.
Dhahran merupakan lokasi kantor pusat Aramco, sebuah kompleks luas yang terdiri atas sejumlah gedung dan kawasan permukiman.
Dua karyawan perusahaan yang berbicara kepada AFP dengan syarat anonim mengatakan sebuah menara di kompleks kantor pusat tersebut terkena serangan pada malam hari.
“Tiga lantai teratas telah hancur,” kata salah seorang karyawan.
Sumber lain yang mengetahui persoalan tersebut membenarkan adanya serangan dan menyatakan gedung itu terdampak. Namun, AFP belum memperoleh akses ke lokasi sehingga belum dapat memverifikasi secara independen tingkat kerusakan yang terjadi.
Ledakan Mengguncang Riyadh
Sebagian besar serangan terhadap Arab Saudi sebelumnya menyasar infrastruktur di pinggiran ibu kota. Namun, rentetan serangan terbaru tampak semakin mendekati pusat kota.
Seorang jurnalis AFP melaporkan warga di pusat Riyadh terlihat menghentikan kendaraan dan menengadah ke langit untuk menyaksikan situasi.
Pada Selasa (13/10/2026) malam, kepulan putih dari rudal pertahanan udara terlihat melintas di langit, disusul suara ledakan.
Seorang saksi mata yang berbicara kepada AFP mengatakan dirinya melihat sebuah proyektil melintas di atas pusat perbelanjaan. Benda tersebut meninggalkan jejak cahaya kekuningan yang diikuti asap sebelum terdengar ledakan.
“Orang-orang tetap tenang. Tidak ada yang berbicara. Kami ketakutan dan semuanya memandang ke langit,” ujarnya.
Ledakan kembali terdengar pada Rabu, menurut laporan jurnalis AFP di Riyadh. Warga juga menerima peringatan melalui telepon mengenai ancaman serangan udara dan imbauan untuk berlindung. Peringatan tersebut dicabut beberapa menit kemudian.
Koalisi Saudi Serang Fasilitas Minyak di Yaman
Di sisi lain, koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas minyak di wilayah barat Yaman.
Juru bicara koalisi, Turki Al-Malki, mengatakan serangan itu menyasar fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi Houthi dalam mengancam Arab Saudi, Yaman, Laut Merah bagian selatan, dan jalur pelayaran.
Koresponden AFP di Sanaa melaporkan terdengar ledakan di kota tersebut. Sementara itu, saluran televisi Al-Masirah yang berafiliasi dengan Houthi mengabarkan bahwa serangan yang disebutnya sebagai “agresi Saudi” menargetkan sebuah perusahaan minyak.
Koalisi pimpinan Arab Saudi telah memberikan dukungan militer kepada pemerintah Yaman untuk melawan Houthi sejak 2015. Konflik berkepanjangan tersebut telah memicu krisis kemanusiaan di negara itu.
Di ibu kota Sanaa yang dikuasai Houthi, warga terlihat mengantre di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar karena khawatir terjadi kelangkaan pasokan.
Houthi Kembali Lancarkan Ancaman
Eskalasi terbaru ini menyusul serangan terhadap bandara internasional Riyadh pada Sabtu (10/10/2026), yang menewaskan 13 orang. Serangan tersebut disebut sebagai yang paling mematikan di wilayah Arab Saudi sejak 2015.
Dalam rapat kabinet yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman, pemerintah Arab Saudi menegaskan tidak akan membiarkan keamanan negaranya maupun kebebasan navigasi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb terancam.
Sejumlah negara telah mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang berada di Arab Saudi. Prancis, misalnya, pada Selasa meminta warga negaranya menghindari bandara Riyadh, Jeddah, dan Dammam.
Aktivitas lalu lintas di Riyadh juga terlihat lebih lengang pada pekan ini. Kondisi tersebut terjadi setelah kegiatan belajar seluruh sekolah dialihkan ke sistem jarak jauh dan sejumlah perusahaan memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah, menurut laporan jurnalis AFP.
Konflik ini juga menambah tekanan terhadap perekonomian Arab Saudi. Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa memperkirakan produk domestik bruto (PDB) negara tersebut akan menyusut 3,3 persen tahun ini. IMF juga memproyeksikan penurunan pertumbuhan ekonomi kawasan akibat blokade Iran terhadap Selat Hormuz.
Arab Saudi sebelumnya telah menghadapi tekanan akibat pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz sejak perang di Timur Tengah pecah pada Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran.
Kembali berkobarnya perang di Yaman pada Juli semakin memperburuk situasi dan membawa konflik hingga ke wilayah Arab Saudi.
Selain menyerang wilayah daratan, Houthi juga menargetkan kapal-kapal tanker minyak di Laut Merah, yang menjadi jalur alternatif ekspor minyak Arab Saudi.
Editor:


