Trump Direstui Parlemen Lanjutkan Operasi di Karibia, Manduro Bakal Melawan

Trump Direstui Parlemen Lanjutkan Operasi di Karibia, Manduro Bakal Melawan

Arina.id- Kampanye perang terhadap kartel narkoba yang didalihkan Amerika Serikat (AS) untuk memasuki perairan Karibia terus menaikkan tensi keteganggan dengan Venezuela. Penggerahan kapal perang besar-besaran oleh Washington kini direspon Caracas secara tegas.

Akankah perang merembet ke Amerika Selatan? Presiden AS Donald Trump sudah mengirim surat pemberitahuan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Mike Johnson dan Ketua Senat sementara Chuck Grassley, untuk melanjutkan operasi militer di perairan Karibia. Surat tertanggal 04 September 2026, itu beredar di kalangan media-media barat.

CNN mengutip isi surat seperti ini: "Saya menulis untuk memberi tahu Anda tentang aksi militer yang dilakukan pada 2 September 2025 di Laut Karibia, dan potensi aksi serupa di masa mendatang. Saat ini, belum mungkin untuk mengetahui cakupan dan durasi penuh operasi militer yang akan diperlukan. Pasukan Amerika Serikat tetap siap untuk melaksanakan operasi militer lebih lanjut."

Pada 19 Agustus, tiga kapal perusak Angkatan Laut AS, USS Gravely, USS Jason Dunham dan USS Sampson, dikirim ke Karibia Selatan, di pinggir pantai Venezuela untuk melakukan operasi melawan kartel narkoba. Kemudian kapal selam nuklir USS Newport News, kapal penjelajah rudal USS Lake Erie, kapal amfibi dan 4.500 personel militer juga dipindahkan ke sana.

Pada 2 September, Trump mengatakan tentara Amerika telah menewaskan 11 anggota kartel narkoba Venezuela dalam sebuah operasi di perairan internasional. Menurut Trump, Venezuela tidak mengambil langkah-langkah memadai untuk memerangi perdagangan narkoba. 

Sementara itu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan negaranya menghadapi ancaman invasi paling serius dari Amerika Serikat dalam 100 tahun terakhir. Ia menegaskan negaranya siap memasuki perjuangan bersenjata jika diserang Amerika Serikat.

Dikutip dari Anadolu, Manduro menambahkan, meski saat ini Venezuela masih berada pada fase perjuangan tanpa senjata, setiap serangan terhadap negaranya akan memicu perlawanan dari "seluruh rakyat melawan agresi, baik lokal, regional, maupun nasional."

Pernyataan itu muncul pada Jumat, 05 September 2026, setelah Trump mengatakan bahwa jet-jet tempur Venezuela akan ditembak jatuh jika mendekati kapal perang AS. Hal itu dikatakan Trump mengomentari aksi dua jet tempur F-16 Venezuela yang terbang di atas kapal AS di Kawasan itu.

Trump menilai tindakan Venezuela tersebut berbahaya dan Departemen Pertahanan AS menyebut tindakan itu sangat provokatif. 

Di sisi lain Maduro meminta Trump untuk menghentikan rencananya melakukan perubahan rezim secara paksa di Venezuela, seluruh Amerika Latin, dan Karibia. "Hormati kedaulatan, hak atas perdamaian, serta kemerdekaan negara kami," kata Maduro, seraya menekankan bahwa Venezuela selalu bersedia berdialog dengan AS.

Sementara itu Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, kepada TASS, mengatakan tekanan terang-terangan dari Barat (AS) terhadap Venezuela dan meningkatnya situasi di sekitarnya merupakan metode berbisnis yang sama sekali tidak dapat diterima dan menimbulkan ancaman terhadap keamanan.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo