Pentingnya Mendampingi Orang yang Terjebak dalam Rasa Malu

Pentingnya Mendampingi Orang yang Terjebak dalam Rasa Malu

Jakarta, Arina.id — Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fahruddin Faiz mengingatkan pentingnya mendampingi orang yang sedang terjebak dalam rasa malu dan emosi negatif. Menurutnya, kegagalan merupakan hal yang wajar, tetapi rasa malu yang berlarut-larut perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kondisi seseorang.

Faiz menjelaskan, pemahaman tersebut dapat dikaitkan dengan buku Power Versus Force: The Hidden Determinants of Human Behavior karya David R. Hawkins. Buku itu membahas tingkat kesadaran manusia yang dipetakan berdasarkan skala tertentu, mulai dari emosi negatif hingga kondisi yang dinilai lebih positif.

“Jadi, kalau punya teman, punya sahabat sedang malu, ayo kita jaga bareng-bareng,” ujar Faiz saat menjelaskan tingkatan kesadaran manusia sebagaimana dalam tayangan Ruang Sinau diakses Minggu (18/10/2026).

.Ia menuturkan, dalam pemetaan Hawkins, rasa malu berada pada tingkat kesadaran paling rendah dengan skor 20. Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena seseorang yang diliputi rasa malu dapat merasa gagal, tidak berharga, bahkan ingin menghilang dari lingkungannya.

Karena itu, Faiz mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap rasa malu sebagai persoalan sederhana. Dukungan dari teman dan orang terdekat diperlukan agar seseorang tidak terus-menerus terjebak dalam penilaian negatif terhadap dirinya sendiri.

“Gagal itu biasa. Tapi kalau lanjutannya malu, kamu harus mulai jaga-jaga,” tuturnya.

Rasa Bersalah hingga Kesombongan
Faiz menjelaskan, dalam pemetaan kesadaran yang dibahas Hawkins, rasa malu berada di bawah sejumlah emosi lain, seperti rasa bersalah, apatis, kesedihan, ketakutan, keinginan yang tidak terkendali, kemarahan, dan kebanggaan.

Rasa bersalah, misalnya, berada pada skor 30. Emosi ini muncul ketika seseorang menyadari kesalahan yang telah dilakukan. Sementara itu, apatis menggambarkan sikap tidak peduli terhadap kehidupan maupun keadaan diri sendiri.

Menurut Faiz, seseorang perlu memberi ruang bagi emosi yang dirasakan, termasuk kesedihan. Namun, ia mengingatkan agar seseorang tidak membiarkan dirinya berlarut-larut dalam kondisi tersebut.

“Kalau memang terpaksa harus sedih, beri waktu untuk kesedihanmu,” jelasnya.

Ia mencontohkan, seseorang dapat memberi waktu bagi dirinya untuk bersedih sebelum kembali menjalani aktivitas. Menangis atau mengungkapkan kesedihan bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi penting untuk berusaha bangkit setelah melewati masa sulit.

Faiz juga menyoroti rasa takut yang dapat menghambat seseorang dalam melakukan aktivitas. Menurutnya, seseorang perlu belajar menghadapi ketakutannya secara bertahap. Jika belum mampu mengatasinya, ia dapat mengambil jarak sementara dari situasi yang memicu ketakutan tersebut.

Sementara itu, keinginan yang tidak terkendali dan kemarahan juga termasuk dalam kelompok emosi negatif pada pemetaan tersebut. Meski demikian, Faiz menjelaskan bahwa kemarahan terkadang dapat diarahkan menjadi kegiatan produktif, misalnya melalui seni, menulis puisi, atau aktivitas kreatif lainnya.

Ia turut menyinggung kebanggaan yang dinilai perlu diwaspadai karena dapat berdekatan dengan kesombongan. Oleh sebab itu, seseorang perlu mengenali emosi yang muncul agar tidak terjebak dalam sikap yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Keberanian sebagai Langkah Positif
Dalam pemetaan Hawkins yang dijelaskan Faiz, keberanian menjadi tingkat awal dalam kelompok kesadaran positif dengan skor 200. Keberanian menunjukkan kesiapan seseorang untuk menghadapi tantangan dan mengambil langkah dalam hidup.

Faiz mencontohkan keberanian sebagai sikap untuk menghadapi keadaan, meskipun seseorang belum sepenuhnya memiliki semua hal yang dibutuhkan. Keberanian tersebut dapat menjadi modal untuk bergerak dan memperbaiki keadaan.

Melalui penjelasan itu, Faiz mengajak masyarakat untuk lebih mengenali kondisi emosional diri sendiri sekaligus memberikan perhatian kepada orang-orang di sekitarnya.

Menurutnya, memahami emosi menjadi salah satu langkah untuk menjaga hubungan antarmanusia dan mendorong seseorang keluar dari kondisi yang menghambat kehidupannya.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo