Dituduh Sebagai Mata-mata, Pegawai Departemen Perdagangan AS Ditahan China

Dituduh Sebagai Mata-mata, Pegawai Departemen Perdagangan AS Ditahan China

Arina.id - Di tengah perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, media-media di negeri Paman Sam menggangkat kabar tentang seorang pegawai pemerintahan AS yang ditahan Beijing. Warga negara naturalisasi itu ditahan sebab dituduh sebagai mata-mata.

Chenyue Mao, warga naturalisasi peranakan China-Amerika yang bekerja di Kantor Paten dan Merek Dagang di Bawah Departemen Perdagangan AS tersebut berkunjung ke China di tengah perang dagang antara kedua negara. Ia dikenai larangan keluar saat keluyuran ke Tiongkok.

Departemen Luar (Deplu) Negeri AS saat ini sedang berupaya menyelamatkan pria tersebut."Departemen Luar Negeri tidak memiliki prioritas yang lebih tinggi daripada keselamatan dan keamanan warga negara Amerika," kata seorang pejabat yang tidak mau disebut Namanya itu.

"Kami memantau kasus ini secara cermat dan bekerja sama dengan pejabat Tiongkok untuk menyelesaikan situasi ini secepat mungkin."

Pernyataan tersebut muncul setelah The Washington Post pada hari Minggu, 20 Juli 2025, melaporkan seorang pria Tionghoa-Amerika yang bekerja untuk Departemen Perdagangan AS dilarang meninggalkan Tiongkok setelah gagal menjelaskan pekerjaannya di aplikasi visa.

Washington Post mengutip empat sumber tanpa nama yang mengetahui masalah tersebut. Mereka mengatakan karyawan tersebut telah melakukan perjalanan ke China beberapa bulan lalu untuk mengunjungi keluarga.

South China Morning Post yang berbasis di Hong Kong, di hari yang sama juga melaporkan pria tersebut ditahan di Chengdu, Sichuan, pada April 2025. "Tindakan yang dianggap Beijing sebagai mata-mata sebab merugikan keamanan nasional".

Laporan The Post mengutip sumber anonim yang mengetahui masalah tersebut. Sementara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington, seperti dilaporkan Al-Jazeera, menegaskan negaranya menjujung supremasi hukum negaranya meskipun tidak mau merinci kasusnya.

"Mengenai kasus tersebut Tiongkok menjunjung tinggi supremasi hukum dan menangani urusan masuk dan keluar sesuai dengan hukum," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun kepada wartawan di hari yang sama.

Konfirmasi Washington mengenai larangan keluar tersebut muncul setelah Beijing pada hari Senin, 21 Juli 2025, mengatakan telah memblokir keberangkatan seorang warga negara AS yang bekerja untuk raksasa perbankan Wells Fargo.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan, pria yang disebut bernama Chenyue Mao, seorang direktur pelaksana berkantor pusat di Atlanta, dikenai sanksi dalam kasus kriminal yang tidak disebutkan secara pasti. Washington dan Beijing telah lama saling menuduh melakukan spionase dan mencampuri urusan dalam negeri masing-masing. 

Pada hari Senin, Departemen Kehakiman AS mengatakan seorang peneliti Amerika kelahiran Tiongkok telah mengaku bersalah atas pencurian rahasia dagang, termasuk cetak biru untuk sensor inframerah yang dirancang untuk mendeteksi peluncuran rudal nuklir dan melacak rudal balistik.

Jaksa mengatakan Chenguang Gong, seorang warga negara AS-Tiongkok, mentransfer lebih dari 3.600 berkas perusahaan ke perangkat penyimpanan pribadinya selama bekerja di sebuah firma penelitian dan pengembangan yang berpusat di Los Angeles.

"Sebelum mulai bekerja di perusahaan itu, Gong telah beberapa kali bepergian ke China untuk mencari pendanaan guna mengembangkan teknologi dengan aplikasi militer," kata jaksa.


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo