Jakarta, Arina.id–KH Ma’ruf Amin mengatakan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) diibaratkan seperti kereta api yang berjalan di atas dua rel lurus yang tidak boleh dibelok-belokkan. Dua rel tersebut menjadi landasan arah gerak MUI dalam menjalankan perannya sebagai tenda besar umat Islam.
Dua rel yang merupakan tanggung jawab MUI tersebut adalah tanggung jawab keagamaan dan tanggung jawab kebangsaan–kenegaraan.
“Kereta api itu relnya satu arah. Tidak bisa belok-belok. Kalau ingin belok kanan-kiri, jangan naik kereta, naik taksi saja,” tegasnya saat memberi sambutan pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI yang digelar di Hotel Mercure Ancol Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa MUI adalah wadah besar yang menaungi lebih dari 80 ormas Islam dengan latar berbeda-beda. Ada yang keras, ada yang lunak, ada yang moderat. Namun di bawah MUI, seluruh ormas itu disatukan dalam satu frekuensi.
“Yang keras dilunakkan, yang terlalu lunak dikeraskan,” ujarnya pada Munas yang mengangkat tema besar Meneguhkan Peran Ulama Untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Rakyat.
Karena itu, MUI harus tetap fokus menjaga garis lurus untuk menjadi mitra kuat pemerintah dalam melindungi akidah, membentengi umat dari paham menyimpang, serta memajukan kehidupan keagamaan yang moderat.
Tugas keagamaan dan kebangsaan ini ia sebut sebagai amanah mulia yang pada akhirnya merupakan bentuk komitmen kepada Allah. Menurutnya, para ulama mewarisi mitsaq, perjanjian suci antara Allah dan para nabi, yang kemudian diturunkan kepada ulama sebagai pewaris tugas kenabian. Karena itu, ulama memikul tugas ganda yakni menjaga kemurnian ajaran agama sekaligus memastikan keberlangsungan cita-cita kebangsaan.
KH Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa tanggung jawab kebangsaan para ulama telah ditegaskan sejak berdirinya negara Indonesia melalui Undang-Undang Dasar 1945. Umat Islam sebagai kelompok mayoritas, bersama para ulama sebagai pemimpin moral, memiliki kewajiban mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam konstitusi tersebut.
Sebagai mitra pemerintah, KH Ma’ruf menegaskan bahwa MUI memiliki peran strategis yakni menjaga umat dari radikalisme, liberalisme, tekstualisme, serta berbagai penyimpangan yang merusak akidah. MUI mendorong penguatan Islam wasathiyah, Islam moderat yang rahmatan lil alamin agar umat tetap berada di jalan tengah.
Selain itu, MUI berkomitmen menjaga dua jenis persaudaraan yakni ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah sebagai basis persatuan bangsa. Ia menegaskan bahwa tidak mungkin membangun persatuan Indonesia jika sesama umat Islam saja tidak bersatu.
Lebih jauh, KH Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa tugas besar MUI juga menyangkut bidang pemberdayaan ekonomi umat. Menurutnya, kesejahteraan umat merupakan fondasi penting bagi kemajuan bangsa, mengingat umat Islam adalah mayoritas penduduk Indonesia. Jika umat sejahtera, bangsa sejahtera.
Karena itu MUI menjalankan program pemberdayaan ekonomi, termasuk gagasan Arus Baru Ekonomi Indonesia yang berorientasi pada pembangunan ekonomi dari bawah (bottom-up), bukan model top-down yang hanya menguntungkan kelompok konglomerat.
Dalam bermitra dengan pemerintah, KH Ma’ruf mendukung pemerintah dalam kebaikan, dan memberi pelurusan ketika dibutuhkan. “Bukan melalui kritik, tetapi lewat tausiyah, nasihat penuh cinta sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an,” katanya.
Selama berjalan di rel itu, MUI akan tetap menjadi kereta besar yang membawa umat menuju persatuan, ketahanan, dan kesejahteraan bangsa.
Editor:


