Arina.id-Ketegangan wilayah perbatasan antara Spanyol dan Maroko di kawasan ujung Afrika Utara membetot perhatian masyarakat dunia. Ribuan pemuda--yang oleh pengamat Barat disebut usia militer antara 18 hingga 35 tahun--asal Maroko menerobos masuk wilayah Ceuta Spanyol yang berbatasan langsung dengan negeri Magribi.
Pihak berwenang menyebut, setidaknya sembilan orang dilaporkan meninggal dunia setelah kerumunan besar imigran menembus perbatasan ke Ceuta. Kematian ini terjadi setelah pemerintah lokal setempat mengatakan bahwa antara 1.500 hingga 2.000 orang telah masuk dalam 10 hari terakhir.
Bahkan ratusan imigran lagi diperkirakan tiba pada hari Kamis, 30 Juli 2026, hingga mendorong pemerintah setempat, Jesus Vivas, menyatakan "keadaan darurat kemanusiaan dan sosial mutlak" serta menyerukan kepada Madrid segera mengirim pasukan militer guna menguasai kembali perbatasan.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menolak seruan deklarasi keadaan darurat nasional, dengan alasan bahwa langkah tersebut belum tergolong krisis migrasi. Namun mereka menjanjikan sumber daya tambahan untuk mengatasinya. Kemudian, Kementerian Dalam Negeri Spanyol juga mengumumkan angkatan bersenjata akan mengirim 60 tentara memperkuat perbatasan.
Rekaman amatir sejumlah video serbuan para imigran Maroko ini viral mewarnai jagat lini masa, menunjukkan mereka berteriak "Viva Espana!" saat memasuki wilayah tersebut. Banyak di antara para imigran kemudian berenang dari sisi Maroko menggunakan perangkat perahu karet dan ratusan lain terlihat berjalan mendaki beton pemecah gelombang lalu berlarian menuju jalan lokal.
Kantor berita negara EFE melaporkan ada juga imigran yang terpantau menyeberangi perbatasan melalui darat dengan cara memanjat pagar. Aktivis hak-hak migran Zakaria Zarroqui mengatakan lonjakan jumlah migran mirip dengan yang terjadi pada Mei 2021, ketika sekitar 10.000 pemuda Maroko dan sub-Sahara memasuki enklave tersebut dalam hitungan hari.
"Situasi masih di luar kendali saat kita berbicara sekarang," kata Zarroqui, menambahkan bahwa orang-orang masih berbondong-bondong ke kota Fnideq di Maroko dalam upaya menyeberang perbatasan, seperti dikutip dari Aljazeera.
Penyebab utama ribuan imigran muda Maroko menyeberang secara massal ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta untuk mencari peluang ekonomi lebih baik, menghindari kemiskinan di negara asal, serta adanya pembukaan akses perbatasan secara mendadak di tengah isu pengetatan maupun dinamika kebijakan dan pengawasan perbatasan.
Sepanjang sejarah hubungan dua negara bertetangga itu, beberapa kali wilayah perbatasan Ceuta memang diterobos imigrasi Maroko. Momen seperti ini terjadi ketika terjadi pelonggaran atau terbukanya akses di kawasan perbatasan darat dan pantai Tarajal secara tidak biasa yang dimanfaatkan untuk berenang atau menerobos masuk.
Faktor lain juga terkait kuatnya jaringan penyelundup di kawasan tersebut. Pihak berwenang kerap menuding adanya peran jaringan kriminal penyelundup manusia yang memicu pergerakan massal.
Analisis keterkaitan dengan ketegangan geopolitik
Jika dilihat dari peta ketegangan politik, memang ada dinamika politik hubungan internasional yang selalu dikaitkan antara Spanyol, Maroko dan Israel. Apalagi antara Spanyol dan Israel saat ini sedang berada di titik yang sangat panas.
Pemerintah Spanyol menerapkan kebijakan keras terhadap Israel terkait konflik Gaza, termasuk memperkuat embargo senjata, melarang kapal militer Israel berlabuh, dan menampung evakuasi pengungsi Palestina. Sikap pro-Palestina dari Spanyol ini menciptakan jarak politik yang lebar dengan Israel.
Lalu apa hubungannya dengan Israel? Penggede negara Yahudi tersebut sering terlibat perdebatan dan adu argumentasi pedas terkait nasib Palestina. Pernah pada 2019 silam, Yair Netanyahu--anak dari Presiden Israel Benjamin Netanyahu--mengunggah pernyataan lewat akun Twitter (X) miliknya yang menyerukan agar umat Islam Maroko seharusnya membebaskan tanah jajahan dan mengusir Spanyol dari wilayah Ceuta dan Melilla.
Seruan itu memicu kemarahan publik dan politisi Spanyol. Pemimpin partai sayap kanan Spanyol saat itu mengecam Yair sebagai sosok yang "bodoh dan sembrono" karena mencampuri kedaulatan negara lain.
Di sisi lain, hubungan Maroko dan Israel sangat erat terutama dalam urusan diplomasi kerja sama militer sejak deklarasi normalisasi hubungan kedua negara. Sebagai contoh, saat Spanyol menolak kapal militer atau logistik terkait Israel untuk berlabuh di pelabuhannya, Maroko justru mengizinkan kapal-kapal tersebut bersandar di pelabuhan mereka (seperti di Tangier).
Meskipun Israel tidak menggerakkan para migran, posisi Maroko yang memiliki aliansi strategis dengan Israel dan AS (terkait pengakuan wilayah Sahara Barat) sering kali membuat Maroko merasa memiliki posisi tawar geopolitik kuat terhadap Uni Eropa, khususnya Spanyol.
Dalam beberapa analisis krisis perbatasan terdahulu, Maroko terkadang dituding sengaja melonggarkan penjagaan perbatasan perairan Ceuta sebagai bentuk tekanan politik atau alat negosiasi diplomatik dengan Spanyol.
Editor:


