Arina.id - Sebanyak 70 atlet sepak bola dunia telah bergabung dalam kelompok hak asasi bernama Athletes for Peace, dengan agenda nyata meminta Asosiasi Sepakbola Eropa (UEFA) menangguhkan hubungan dengan asosiasi sepak bola negeri Zionis akibat kejahatannya terhadap warga Palestina.
Dalam surat yang dikirimkan kepada presiden UEFA Aleksander Ceferin, Selasa, 10 November 25, Athletes for Peace mendukung asosiasi sepak bola Eropa tersebut agar memutuskan hubungan dengan Asosiasi Sepak bola Israel (IFA).
"Tidak ada tempat bersama, satu panggung, atau satu arena dalam masyarakat sipil internasional dengan rezim yang melakukan genosida, apartheid, dan kejahatan lainnya terhadap kemanusiaan," demikian surat yang ditulis oleh Game Over Israel, seperti dikutip dari Aljazeera, Rabu 12 November 2025.
"Pelanggaran yang terus dilakukan oleh Israel termasuk kejahatan. Tindakan semacam ini hanya bisa diakhiri oleh gerakan bersama secara besar-besaran dan masif, termasuk langkah-langkah pemblokiran aktivitas mereka masuk ke acara olahraga atau kegiatan kebudayaan."
Atlet yang terlibat dalam gerakan ini termasuk Pemain Perancis Pemenang Piala Dunia Paul Pogba, Atlet Belanda Anwar El Ghazi, pemain Maroko Hakim Ziyech dan atlet Spanyol Adama Traore.
Kelompok advokasi hak asasi manusia, The Hind Rajab Foundation and the Gaza Tribunal, juga menandatangani surat tersebut. Petisi menandai kelanjutan dari kampanye sebelumnya yang meminta UEFA melarang Israel ikut dalam kompetisi sepak bola dunia, alasannya merujuk pada kekejaman yang mereka lakukan selama perang di Gaza.
September 2025, Presiden Federasi Sepakbola Turki Ibrahim Haciosmanoglu juga mendukung seruan untuk menskors Israel dari sepakbola Eropa. Kemudian diikuti Asosiasi Sepakbola Irlandia (FAI) juga melakukan tindakan serupa pada awal November kemarin.
Sebelumnya, meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas sudah ditandangani dengan difasilitasi Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu, kenyataannya Israel masih terus membatasi bantuan dan tetap membunuh warga Palestina di wilayah tersebut.
Pemimpin kelompok hak-hak dan Penyelidik PBB menggambarkan perang Israel di Gaza sebagai genosida. Sebanyak 69.182 warga Palestina telah tewas dalam serangan Israel, termasuk 421 pemain sepakbola. Perang juga menghancurkan infrastruktur olahraga di Gaza, termasuk stadion dan fasilitas pelatihan.
Surat dari kelompok-kelompok hak asasi tersebut menegaskan bahwa Israel telah menggunakan sepakbola untuk melegitimkan penduduk di daerah tersebut. Contohnya, mengizinkan klub-klub dari wilayah permukiman ilegal di Tepi Barat untuk berpartisipasi dalam liga profesionalnya, yang jelas melanggar aturan FIFA.
"Partisipasi tim dari pemukiman ilegal di liga sepak bola Israel adalah pelanggaran prinsip-prinsip dasar hukum internasional. Kalau UEFA dengan IFA masih berhubungan - menyediakan dana dan mengizinkan tim Israel bermain di turnamen internasional - berarti UEFA bisa diartikan telah memfasilitasi pelanggaran dan mereka bisa bertanggung jawab."
Di sisi lain, partisipasi klub Israel dalam kompetisi sepakbola Eropa telah menjadi sumber debat dan kontroversi selama dua tahun terakhir. Tahun lalu, pertandingan antara Ajax dan Maccabi Tel Aviv FC memicu bentrokan di Amsterdam setelah suporternya meneriakkan "Kematian untuk Arab", kemudian menyerang pengemudi taksi dan menghapus bendera Palestina di dinding rumah warga.
Pada Oktober 2025, ada larangan datang bagi suporter Maccabi Tel Aviv dalam pertandingan Liga Europa melawan Aston Villa. Hal itu memicu krisis politik di Inggris Raya, serta tuduhan anti-Semitisme.
"Keputusan ini didasarkan pada laporan intelijen sekarang dan sebelumnya, termasuk bentrokan yang berujung kekerasan dan kebencian jahat yang terjadi selama pertandingan Liga Europa 2024 antara Ajax dan Maccabi Tel-Aviv di Amsterdam," demikian menurut laporan polisi West Midlands dalam pernyataan awal bulan ini.
Namun pemerintahan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dengan cepat membantah penjelasan polisi dan mengabaikan pertimbangan keamanan di baliknya, sehingga memicu kritik dari pembela hak-hak Palestina.
"Kami tidak akan mentolerir anti-Semitisme di jalanan kami," kata Starmer dalam sebuah unggahan di media sosial menanggapi larangan tersebut. "Peran polisi adalah untuk memastikan semua penggemar sepak bola dapat menikmati pertandingan, tanpa takut akan kekerasan atau intimidasi."
Maccabi Tel-Aviv duduk di posisi ke-34 di Liga Eropa dengan satu poin dari empat pertandingan, akhirnya kalah dalam pertandingan 2-0 dengan Aston Villa minggu lalu.
Sementara itu, surat kepada UEFA pada Selasa kemarin menekankan bahwa larangan bagi negara yang melanggar hukum internasional tidak akan terjadi sebelumnya; hal ini pada kenyataannya adalah norma.
"Setelah diketahui bahwa badan pemerintah sepak bola, seperti UEFA, secara historis pernah menghentikan keikutsertaan negara karena pelanggaran yang mengerikan terhadap hukum internasional - kekerasan politik apartheid Afrika Selatan, pasca-perang Jerman, Republik Federal Yugoslavia, dan baru-baru ini, Rusia," katanya.
"Kami mendorong Anda untuk mengikuti hukum internasional dan preseden moral dan menangguhkan Israel segera."
Editor:


