Doa Mewujudkan Kedamaian dalam Rumah Tangga

Doa Mewujudkan Kedamaian dalam Rumah Tangga

Tidak ada rumah tangga yang terhindar dari percekcokan dan pertengkaran antar suami istri. Cekcok dalam rumah tangga diibaratkan seperti garam dalam masakan, tanpanya cita rasa masakan akan hambar dan tidak bisa dinikmati kelezatannya.

Pertikaian dalam rumah tangga bisa memberikan pelajaran pendewasaan satu sama lain jika bisa disikapi dengan kedewasaaan mental dan kesabaran yang tinggi. Bahkan bisa memperkuat rasa kasih sayang di antara keduanya.

Selain upaya pengendalian mental dan emosional antar pasangan suami istri yang bisa menyelamatkannya dari perceraian dan pertikaian yang berkepanjangan, adanya ikhtiar langit juga perlu diperhatikan oleh pasangan suami istri bisa memperkuat perdamaian dan keharmonisan rumah tangganya.

Muhammad bin Ali Khirid al-Alawi menyebutkan dalam kitab al-Wasa’il al-Syafi’ah (hal. 346) bahwa salah satu upaya untuk mewujudkan perdamaian antar pasangan suami istri dan perdamaian antar dua kubu yang berseteru adalah membacakan surat Qurays sebanyak 24 kali.

Muhammad Amin bin Syaikh Abu Bakar bin Salim dalam Budurus Sa’adah juga mencatat doa untuk mengupayakan perdamaian antar pasangan suami istri sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِيْ عَظَمَتِكَ دُوْنَ اللُّطَفَاءِ وَعَلَوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى العُظَمَاءِ وَعَلِمْتَ مَا تَحْتَ أَرْضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ وَكَانَتْ وَسَاوِسُ الصُّدُوْرِ كاَلعَلَانِيَّةِ عِنْدَكَ وعَلَانِيَّةُ القَوْلِ كالسِّرِّ فِيْ عِلْمِكَ وَانْقَادَ كُلُّ شَيْءٍ لِعَظَمَتِكَ وَخَضَعَ كُلُّ ذِيْ سُلْطَانٍ لِسُلْطَانِكَ وَصَارَ أَمْرُ الدُّنْيَا والآخِرَةِ كُلُّهُ بِيَدِكَ اِجْعَلْ لِيْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ أَمْسَيْتُ فِيْهِ فَرَجاً وَمَخْرَجاً  وَاَنْ تَكْشِفَ عَنِّي الغَمَّ وَالحَزَنَ.

اللَّهُمَّ اِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّيْ وَعَلَانِيَّتِيْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِيْ وَتَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَأعْطِنِي سُؤْلِي وَتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ اللَّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ اِيْمَاناً دَائِمًا يُبَاشِرُ قَلْبِيْ وَأَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَنِي اِلَّا مَا كَتَبَهُ عَلَيَّ وَأَرْضِنِي بِمَا قَسَمْتَهُ لِيْ يَا ذَا الجَلَالِ والاِكْرَامِ

Artinya: “Ya Allah sebagaimana Engkau bersikap lembut dalam keagungan-Mu mengalahkan segala yang lembut, dan Engkau Maha Tinggi sebab keagungan-Mu mengalahkan segala yang tinggi, dan Engkau Maha Mengetahui apa yang ada di perut bumi sebagaimana Engkau mengetahui apa yang ada di atas Arsy-Mu, segala bisikan hati bagi-Mu adalah hal yang tampak, ucapan yang tampak bagi-Mu seperti rahasia dalam ilmu-Mu, segala sesuatu tunduk karena keagungan-Mu, segala yang berkuasa tunduk karena kekuasaan-Mu, sehingga segala urusan dunia dan akhirat ada di kekuasaan-Mu. Maka jadikanlah bagiku aku di setiap kegelisahan yang kualami sebuah kelapangan dan jalan keluar, dan hilangkanlan segala kesusahan dan kesedihan dariku.

Ya Allah Engkau yang Maha Mengetahui rahasia dan keterbukaanku, maka terimalah permohonan ampunanku. Engkau Maha Mengetahui kebutuhanku, maka berikanlah permintaanku. Engkau yang Maha Mengetahui tentang diriku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah aku memohon keimanan yang abadi yang menggembirakan hatiku, dan aku memohon keyakinan yang benar sehingga aku mengetahui bahwa tiada segala sesuatu yang terjadi padaku kecuali itu merupakan suratan takdirku, dan ridhoilah aku atas segala yang telah Engkau bagikan kepadaku wahai dzat yang Maha Agung dan Maha Mulia”. 

Kemudian bertawasul dengan membaca doa berikut ini: 

اِلَهِي تَمَّ نُوْرُكَ فَهَدَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَعَظُمَ حِلْمُكَ فَعَفَوْتَ فَلَكَ الحَمْدُ وَجْهُكَ اَكْرَمُ الوُجُوْهِ وَجَاهُكَ أَعْظَمُ الجَاهِ وَعَطِيَّتُكَ اَفْضَلُ العَطَايَا وأَهْنَئُهَا تُطَاعُ رَبُّنَا فَتَشْكُرُ وَتٌعْصَى رَبُّنَا فَتَغْفِرُ تُجِيْبُ الْمُضْطَّرَّ وَتَكْشِفُ الضُّرَّ وَتُنْجِيْ مِنَ الكَرْبِ وَتَغْفِرُ الذَّنْبَ وَلَا يُجْزِيْ بِآلَائِكَ اَحَدٌ وَلَا يَبْلُغُ مَدْحَكَ قَوْلُ قَائِلٍ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ يَا ذَا الْجَلَال ِوَالاِكْرَاِم 
أَسْأَلُكَ يَا رَحْمنُ يَا رَحِيْمُ يَا مَلِكُ يَا قُدُّوْسُ يَا سَلَامُ يَا مُؤْمِنُ يَا مُهَيْمِنُ يَا عَزِيْزُ يَا جَبَّارُ يَا مُتَكَبِّرُ يَا خَالِقُ يَا بَارِئ ُياَ مُصَوِّرُ يَا غَفَّارُ يَا قَهَّارُ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ 
أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ اِلَيْكَ يَا اللهُ بِجَاهِ هَذِهِ الأَسْمَاءِ العَظِيْمَةِ وَبجَاهِ هَذَا الدُّعَاءِ العَظِيْمِ وَبِجَاهِ أَسْمَائِكَ الحُسْنَى وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ وَأَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ اِلَيْكَ يَا اللهُ

Artinya: “Wahai Tuhanku, telah sempurna cahaya-Mu sehingga engkau memberikan petunjuk. Segala puji bagi-Mu dan Maha Agung belas kasih-Mu sehingga Engkau memberi ampunan. Segala puji bagi-Mu dzat-Mu adalah dzat yang paling mulia dari segalanya, kehormatan-Mu adalah kehormatan yang paling agung, pemberian-Mu adalah pemberian yang paling utama dan yang paling indah. Kami taat kepada-Mu maka Engkau memberi rasa syukur kepada kami, kami tidak taat kepada-Mu, Engkau memberi ampunan kepada kami. Engkau mengabulkan permintaan orang yang terdesak, Engkau menghilangkan ancaman, Engkau menyelamatkan dari kesusahan, Engkau mengampuni dosa. Tiada yang mampu membalas segala nikmat yang Engkau berikan, ucapan orang-orang tidak bisa sama sekali mengungguli pujian untuk-Mu. Engkau Maha Suci dan Maha Luhur wahai dzat yang Maha Agung dan Maha Mulia.

Aku memohon kepada-Mu wahai dzat yang Maha Pengasih di dunia dan akhirat, Maha Ppengasih di akhirat, Maha Memiliki, Maha Suci, Maha Menyelamatkan, Maha Memberikan Keamanan, Maha Mengawasi, Maha Mulia, Maha Perkasa, Maha Besar, Maha Pencipta, Maha Pewujud, Maha Membentuk, Maha Pengampun, Maha Kuasa, Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, wahai dzat yang Maha Agung dan Maha Mulia.

Aku memohon kepada-Mu dan aku menghadap kepada-Mu Ya Allah dengan kehormatan nama-nama agung ini, dan dengan kehormatan doa yang agung ini, dan dengan kehormatan nama-nama-Mu yang baik, dan kata-kata-Mu yang sempurna. 

Aku memohon dan menghadap kepada-Mu Ya Allah.”

Kemudian setelah itu diiringi dengan doa atau hajat yang ingin dikabulkan yakni perdamaian antar pasangan suami istri dan keharmonisan rumah tangga. ( Muhammad Amin bin Syaikh Abu Bakar bin Salim, Budurus Sa’adah, [Indonesia: Maktabah BSA, 2020], hal. 328-329.).

Muhammad Amin BSA juga mencatat wirid yang ia kutip dari Mujarabat al-Dairabi yang bermanfaat untuk meluluhan hati seseorang. Wirid ini juga digunakan untuk meluluhkan hati antar pasangan suami istri yang saling bertengkar. Wirid tersebut adalah membaca ayat berikut ini sebanyak 30 kali di waktu tengah malam Jumat 

فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ࣖ 

Artinya: “Jika mereka berpaling (dari keimanan), katakanlah (Nabi Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan pemilik ‘Arasy (singgasana) yang agung.” (QS. Al-Taubah, Ayat: 129).

Kemudian diiringi dengan membaca doa di bawah ini setiap selesai membaca ayat di atas. Doa tersebut yaitu:

اَللَّهُمَّ يَا رَبِّ أَنْتَ حَسْبِيْ عَلَى

(sebutkan nama orang yang dituju semisal fulan bin fulan)

إِعْطِفْ قَلْبَهُ عَلَيَّ وَذَلِّىلْهُ

Artinya: “Ya Allah wahai Tuhanku, engkau dzat yang mencukupiku atas (nama orang yang dituju) luluhkanlah hatinya untukku dan rendahkanlah hatinya”

Dengan ikhtiar amalan ini InsyaAllah, Allah akan melembutkan dan meluluhkan hatinya dan menjinakkannya sehinga dia tidak akan berbuat sesuatu yang membahayakan kepada orang yang berikhtiar wirid tersebut. Dan tentunya Allah lah dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wallahu a’lam bis shawab


Editor:
Al-Quran Digital

Doa Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo