Healthy Lifestyle untuk Booster Imun Menghadapi HMPV

Healthy Lifestyle untuk Booster Imun Menghadapi HMPV

Infeksi Human Metapneumovirus (HMPV) yang kembali mewabah baru-baru ini membuat geger Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Banyak anak-anak dan lansia di negara-negara tersebut yang terinfeksi HMPV. Meskipun sudah menjadi pola penyakit musiman, kehadiran HMPV di musim dingin tetap membuat khawatir penduduk dunia.

Meskipun kebanyakan gejalanya seperti flu biasa, kekhawatiran masyarakat akan bahaya virus HMPV penyebab pneumonia ini memang sangat beralasan. Selain belum ada obat dan vaksin yang khusus untuk menangkalnya, sebagian besar pasien yang merupakan anak-anak dan lansia memiliki kerentanan sistem imun. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan upaya agar sistem imun dari kedua golongan usia tersebut agar dapat mengantisipasi infeksi HMPV.

Karena sistem imun didukung oleh pola makan dan istirahat, bagaimana kedua hal tersebut bisa dikelola untuk membentengi tubuh dari infeksi HMPV? Adakah makan yang secara khusus berpotensi meningkatkan imunitas terhadap infeksi virus HMPV maupun virus sejenis lainnya? Bagaimana pula dengan pola istirahat yang baik bagi anak-anak dan lansia agar tetap fit?

Ketika suatu penyakit belum ada obatnya, maka diharapkan daya tahan tubuh berperan untuk mengantisipasinya. Dilansir dari laman  WHO, memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat juga dapat membantu menangkal infeksi HMPV. Mengonsumsi makanan yang seimbang, berolahraga secara teratur, dan tidur dengan cukup dapat membantu mengatasinya.

Makanan yang seimbang perlu memperhatikan bahan-bahan alami yang ada di dalamnya. Ada beberapa buah-buahan yang dapat meningkatkan imunitas untuk menghadapi HMPV. Buah-buahan yang dapat dikonsumsi di antaranya yang banyak mengandung resveratrol dan quercetin (Komaravelli dkk, 2015, Role of Dietary Antioxidants in Human Metapneumovirus Infection, Virus Res, 200: halaman 19-23).

Mengonsumsi buah-buahan seperti anggur dan kacang tanah akan memberikan asupan resveratrol yang cukup. Buah-buahan lain yang mengandung quercetin adalah apel, sedangkan bahan lain yang kaya akan quercetin termasuk kulit bawang merah, merica, dan buah beri. Bagian yang terbanyak mengandung kedua senyawa berkhasiat antivirus itu adalah kulit anggur dan kulit apel.

Karena anak-anak dan lansia sulit untuk menelan kulit anggur maupun kulit apel, maka cara pengolahan kedua buah tersebut bisa dengan dijus. Dengan demikian, kulit apel maupun kulit anggur bisa turut dikonsumsi dalam kondisi lembut. Selain itu, bentuk jus buah biasanya lebih diminati oleh anak-anak maupun lansia dibandingkan dengan bentuk buah aslinya.

Selain buah-buahan, sayuran juga memiliki khasiat untuk antivirus karena mengandung zat yang disebut dengan luteolin. Luteolin banyak terdapat pada sayuran seperti kubis, brokoli, merica, dan wortel (Li dkk, 20223, Application Potential of Luteolin in The Treatment of Viral Pneumonia, Journal of Food Biochemistry, Issue 1: halaman 1-2).

Selain dari makanan, pola istirahat yang baik untuk anak dan lansia juga dapat diterapkan untuk menjaga imunitas. Pada anak-anak, waktu tidur yang ideal perlu dijaga agar mereka tetap fit ketika bermain maupun belajar. Sedangkan pada lansia, durasi tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga kebugaran.

Penelitian pada pasien anak-anak yang terinfeksi HMPV di China menelusuri waktu tidur mereka sebelum terkena penyakit itu. Ternyata dengan pengalamannya dilanda wabah HMPV, peneliti China memandang perlu untuk mencermati waktu tidur orang-orang yang terdampak infeksi HMPV di lokasi taman kanak-kanak maupun sekolah dasar (Liu dkk, 2024, Molecular Epidemiology and Clinical Characteristics of an Outbreak on Respiratory Virus Coinfection in Gansu, China, Viruses, 16(4): halaman 540).

Siswa maupun pelajar yang bersekolah merupakan masyarakat yang rentan tertular HMPV di China. Di lingkungan sekolah, mereka belajar dan berkumpul dalam bangunan tertutup yang pada musim dingin memungkinkan terjadinya penularan virus secara massif. Oleh karena itu, peneliti juga melihat faktor-faktor resiko lainnya yang dimungkinkan mempengaruhi riwayat kesehatan anak-anak, termasuk waktu tidur mereka.

Durasi tidur yang kurang ternyata memang dapat menurunkan imunitas sehingga seseorang mudah terkena infeksi virus. Penelitian pada hewan uji mengungkapkan bahwa gangguan ritme sirkadian atau pola istirahat di malam hari menyebabkan gangguan meluas di paru-paru setelah kurang tidur sehingga dapat memicu dan/atau memperburuk konsekuensi negatif infeksi akibat virus (Taylor dkk, 2023, Sleep and circadian rhythm disruption alters the lung transcriptome to predispose to viral infection, iScience, No.2: 105877).

Pada anak-anak dan remaja, tidur yang cukup dapat diperhitungkan dengan durasi minimal 8 jam per hari. Riset tentang kebutuhan waktu tidur pada anak dan remaja merekomendasikan pelajar agar beristirahat dengan tidur 8-10 jam sehari (Sharmon and Illingworth, 2020, Adolescent Sleep and School Performance-the Problem of Sleepy Teenagers, Current Opinion in Physiology, Vol.15: halaman 23-28).

Pada lansia, waktu tidur ideal lebih sedikit daripada anak-anak. Oleh karena itu, kualitas tidur sangat penting untuk dijaga meskipun durasi tidur lansia lebih pendek daripada orang yang lebih muda. Sayangnya, banyak lansia tidak bisa mengoptimalkan kualitas tidur karena mengalami insomnia.

Salah satu solusi islami bagi lansia yang sulit tidur adalah dengan mempersiapkan aktivitas sebelum tidur berdasarkan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Berwudu dan berzikir sebelum tidur ternyata dapat membantu lansia untuk memperoleh kemudahan dalam mengawali tidur sehingga kualitas tidurnya lebih baik. Dampaknya, ketika bangun badan mereka lebih fit dan imunitasnya terjaga dengan optimal.

Penelitian di Indonesia terhadap lansia yang kesulitan tidur membuktikan bahwa aktivitas membasuh wajah dan tangan sebelum tidur dapat mengatasi insomnia. Efek dari wudlu sebelum tidur pada lansia dapat meningkatkan relaksasi sehingga memudahkan untuk tidur dengan berkualitas (Hamzens dkk, 2021, Effect of Ablution on the Incidence of Insomnia in the Elderly, Indonesian Journal of Islam and Public Health, Vol.1, No.1: halaman 15-20)

Apabila pola makan seimbang dengan memperbanyak buah dan sayur serta pola tidur yang cukup diterapkan untuk anak-anak dan lansia, maka hal ini sangat membantu untuk menghadapi HMPV. Selayaknya masyarakat tidak khawatir berlebihan dan tetap memberikan perhatian terhadap pola hidup sehat agar daya tahan tubuhnya tetap baik. Wallahu a’lam bis shawab.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Yuhansyah Nurfauzi
Apoteker dan Peneliti Farmasi. Alumni Madrasah Diniyah Ali Maksum PP Krapyak Yogyakarta, Program Studi S1 Farmasi-Apoteker UGM, Magister Farmasi ITB, dan Doktor Ilmu Farmasi UGM.


Editor:
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo