Sebuah buku setebal lebih dari 500 halaman memuat cerita-cerita tokoh-tokoh besar seputar menulis. Buku itu berjudul Memikirkan Kata, Panduan Menulis untuk Semua (2019) yang diterbitkan Galeri Buku Jakarta. Tampilannya menyenangkan mata. Pembaca bisa melihat foto-foto penulis beserta nasihat seputar cara menulis.
Salah satu tokoh yang saya pilih adalah M.L. Stein. Ia merupakan jurnalis, profesor, dan penulis buku panduan jurnalistik Amerika yang sangat dihormati di dunia pendidikan pers. Nama aslinya Meyer L. Stein.
Karya-karya tulisnya banyak menjadi referensi utama dalam penulisan berita, teknik wawancara, dan dasar-dasar jurnalistik di berbagai universitas
Dalam buku Memikirkan Kata, ada bagian di halaman 59 yang memuat judul Nasihat bagi yang Ingin Menjadi Penulis Lepas. Tulisan itu memuat lima poin penting yang perlu diperhatikan dalam penulisan nonfiksi. Stein, menulis poin tersebut didasarkan pada pembacaan ratusan naskah karya para mahasiswa usia 19 hingga 67 tahun.
Berikut nasihat darinya:
1. Anda Tidak Bisa Menulis Nonfiksi Hanya dengan Berdiam Diri di Rumah
Menulis nonfiksi tidak bisa bergantung pada pengalaman pribadi, keluarga dan teman untuk mendapatkan bahan tulisan. Pengalaman pribadi mungkin bisa menarik perhatian editor tetapi umumnya pengalaman itu hanya sesekali saja bisa menjadi sumber ide tulisan. Menulis nonfiksi secara tidak langsung dituntut untuk mencari materi seluas mungkin.
Stein selalu mendorong mahasiswanya untuk melakukan wawancara. Ia meyakinkan bahwa menghubungi orang asing untuk diwawancara tidak sesulit yang dipikirkan. Begitu sudah memecahkan kebekuan lewat satu atau dua pertanyaan, komunikasi akan berjalan dengan lebih lancar dan mudah.
2. Jangan Menulis Topik yang Terlalu Luas
Pernah suatu kali Stein meminta mahasiswanya datang ke kelas dengan membawa ide soal topik tulisan nonfiksi. Sebagian dari mereka mengusulkan topik soal “Lingkungan”, “Berkemah”, “Pengungsi Perang Vietnam”, “Krisis Pangan” dan “Berselancar.
“Bagaimana dengan topik lingkungan?” Stein bertanya. Mahasiswa tersebut mengangkat bahu dan tidak benar-benar mengetahui topik ini. Menurut Stein kesalahannya ada pada pengajuan topik dengan cakupan terlalu luas, tidak fokus pada satu pembahasan.
Pendekatan seperti itu bagi Stein tidak membuat karya nonfiksi punya nilai jual. Penulis profesional selalu mencari topik-topik konkret dengan konteks yang luas. Jika menemukan subjek besar, sebaiknya lupakan saja. Perdalam satu topik sampai menemukan sesuatu yang konkret.
Misalnya jika ada seseorang yang ingin menulis mengenai aktivis lingkungan, carilah informasi yang bersifat khusus dari mereka yang terlibat langsung dengan isu tersebut. Ketika melakukan wawancara pada narasumber ajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban konkret dan bukan hal-hal yang bersifat umum. Seperti: Siapa? Apa? Kapan? Dimana? Mengapa? Kenapa tidak? Pertanyaan tersebut akan mengantarkan penulis pada informasi penting.
Misalnya jika ada pemberitaan kebakaran hutan, jangan dulu berpikir soal kehancuran lingkungan yang disebabkan bencana tersebut. Sebagai gantinya bisa mencari cerita menarik di balik kejadian tersebut untuk menjadi bahan tulisan nonfiksi. Mungkin ada petugas pemadam yang mendapat penghargaan karena memadamkan kebakaran. Dari mana proses pemadaman dilakukan? Bagaimana cara memulai pemadaman? Bagaimana cara menilai kualitas pemadaman itu? Apakah ada metode baru dalam memadamkan kebakaran hutan? Demikian contoh daftar pertanyaannya.
Menemukan sudut pandang yang tepat untuk sebuah karya non fiksi bagi Stein butuh lebih banyak waktu, tetapi akan sangat berharga untuk menarik perhatian editor majalah.
3. Tulisan Nonfiksi Perlu Data dan Fakta Akurat
Seorang mahasiswa Stein pernah menulis artikel tentang kebangkitan orkestra musik klasik. Ide ini menarik. Tetapi si penulis rupanya mengharapkan para pembaca percaya bahwa genre musik ini layak menjadi perhatian dengan dasar argumennya sendiri. Penulis tersebut menjelaskan secara mendetail tentang popularitas orkestra lokal, tetapi data tersebut belum cukup untuk mendukung klaimnya.
Sein sangat sering membaca tulisan panjang tapi kekurangan data. Ia meyakini keterampilan menulis sangat penting, tetapi tidak cukup untuk membuat karya non fiksi memiliki legitimasi. Editor majalah selalu menginginkan fakta dan lebih banyak fakta lagi.
Jarang sekali pendapat penulis bersifat otoritatif di mana khalayak pembaca. Pendapat pribadi penulis pun jarang diminati. Penulisan profesional memerlukan kumpulan fakta yang didapat melalui wawancara, riset pustaka dan observasi.
Saran Sein, ketika sudah menulis draft artikel, carilah titik-titik lemahnya. Jika ada kalimat dengan bahasa puitis, gantilah dengan pemaparan fakta-fakta yang kuat. Jika masih ada fakta atau data yang kurang, datangi narasumber lagi. Ingat, artikel-artikel nonfiksi tidak bisa melayang di atas gelembung imajinasi.
4. Bumbui Artikel dengan Anekdot
Anekdot bisa membuat perbedaan terhadap nilai jual sebuah karya nonfiksi. Anekdot adalah kisah singkat yang mengungkapkan kelemahan, keberanian karakter, dan aspek lucu dari seseorang. Bagian ini bisa menarik perhatian pembaca sebab membuat artikel lebih hidup.
Anekdot juga menambah kredibilitas artikel. Contoh, kisah seorang miliuner yang kelewat hemat, akan lebih kuat diceritakan jika ada insiden orang kaya itu mendadak keluar dari kantor menuju rumahnya hanya untuk mengambil bekal makan siang.
Bagaimana cara mendapatkan kisah seperti itu? Tentu lewat wawancara mendalam. Sangat jarang penulis mendapatkan bahan cerita anekdot dari sumber yang mereka wawancarai. Banyak narasumber juga tidak mengetahui kisah yang mereka sampaikan lewat wawancara bisa menjadi bahan anekdot penting bagi artikel. Karena itu, saat wawancara, penulis sebaiknya rajin memancing narasumber agar mau menyebutkan peristiwa-peristiwa remah yang sebenarnya bisa memberi warna pada artikel.
5. Karya Nonfiksi Harus Ditulis dengan Hidup dan Jernih
Banyak penulis nonfiksi pemula kerap mengulang kesalahan dengan menuliskan kalimat yang berbunga-bunga, bertele-tele, sehingga tidak sesuai dengan standar kualitas terbitan majalah. Gejala lain dari penyakit ini adalah terlalu banyak penggunaan kata pasif, eufemisme, kata sifat dan bahasa formal maupun akademis.
Editor biasanya selalu mencari karya yang menarik dengan gaya kontemporer serta menghibur sekaligus informatif, atau bahkan bisa memantik emosi pembaca. Gaya penulisan bertele-tele pasti membuat editor membuang sebuah karya nonfiksi.
Daftar kesalahan lain pada karya non fiksi para pemula adalah gagasan utama yang lemah; memuat seruan moralitas dan pendapat pribadi tanpa dasar; kurangnya atribusi; buruknya tata bahasa, sintaksis, ejaan dan tanda baca.
Kelima poin yang dituliskan Stein seputar nasihat penulisan nonfiksi secara umum menyoroti dorongan untuk menggali data dari sebanyak-banyaknya narasumber, menemukan ide yang unik, berdasarkan fakta, mengandung anekdot, dan ditulis dengan jernih.
Di luar dari hal tersebut, Stein menutup tulisannya dengan saran “komitmen”. Penulis yang baik dan serius akan rela menghabiskan waktu untuk berlatih dan belajar menjadi penulis.
Editor:


