Beberapa bulan lalu, seorang perempuan berjilbab biru membawa buku berwarna krem bersampul aneka bunga, hewan, dan manusia dalam sebuah acara kepenulisan di Yogyakarta. Ia merekomendasikan buku itu sebagai referensi untuk menulis dengan detail. Saya yang merasa bingung cara menuliskan profil seseorang bergaya storytelling memutuskan meminjam buku itu. Karena waktu terbatas dan harus berbagi dengan yang lain, saya hanya bisa membaca beberapa judul. Tapi itu sudah cukup membuat saya punya keputusan; Kelak, saya akan membeli buku itu.
Benar saja, sebulan kemudian buku itu diantar kurir paket ke alamat saya. Untuk mendapatkan buku ini, saya membelinya lewat keranjang orange seharga di bawah seratus ribu. Tebalnya 247 halaman, 17 judul tulisan. Tak menyesal rasanya merogoh kocek seharga lima mangkok bakso demi buku ini. Tulisan di dalamnya membuat saya membayangkan dan berpikiran banyak hal, termasuk masa kecil.
Salah satu judul dalam buku itu menarik saya mengingat peristiwa tahun 2009-2010 bersama teman-teman. Kala itu saya masih mengenakan seragam putih merah. Di sekolah, kami sering melakukan banyak permainan dari yang realis hingga realis magis. Lompat karet, engklek, petak umpet, patok lele, uber hem, egrang, bola kaki, kasti, kelereng, gerobak sodor, kucing-kucing buta, susun bata, cuci kain buaya belum datang, adalah nama-nama permainan realis. Bermain indang–roh atau entitas yang dipercaya merasuki tubuh seseorang menyebabkan perilaku tidak sedar seperti meniru hewan atau berbicara dalam bahasa asing–adalah permainan realis magis.
Permainan realis meninggalkan kesan seperti pada umumnya, lain hal dengan realis magis. Meski dulu kami memainkan indang tanpa iringan bunyi-bunyian dan penonton–layaknya ebeg atau kuda lumping–tetap sangat seru. Jika salah satu teman tak sadar–kami menyebutnya kemasukan roh–akan muncul suara dan perilaku sangat aneh, misalnya menyerupai macan. Kalau sudah begitu, biasanya yang dipercayai paling sakti di antara kami akan mencoba menyembuhkannya.
Untuk mendapatkan indang berbeda, entah hewan atau jenis makhluk halus lain, kami biasanya menyusuri tempat-tempat yang disebut banyak orang angker. Saya baru menyadari yang dulu kami lakukan adalah salah satu bentuk kebudayaan yang tumbuh di Indonesia, seperti halnya di Banyumas.
Ingatan itu datang dengan cepat ketika saya membaca tulisan yang merekam peristiwa serupa berjudul Pengalamanku Ikut Pesta Antar-Dimensi Bareng Roh Halus di Ebeg Banyumas. Titah AW, sang penulis, menyoroti peristiwa itu dengan dua perspektif; kebudayaan dan sains. Ebeg dilihat sebagai kesenian yang diwariskan secara turun-temurun, sejak zaman nenek moyang, dan wadah untuk melunasi dua kebutuhan yang susah anak-anak penuhi: eksistensi dan eskapisme.
Dalam tulisannya itu, Titah menulis: Ketika akses ke kafe atau internet masih terbatas, sementara minuman kertas tentu saja dilarang, tradisi warisan nenek moyang ini menyediakan jalan keluar bagi mereka. Sebuah ruang untuk sejenak keluar mencicipi kebebasan dari hidup sehari-hari.
Titah AW turut menarasikan dengan detail peristiwa ebeg di Banyumas. Penuturan Titah membuat pembaca seolah bisa melihat dan terlibat langsung dalam peristiwa yang ditulis. Ia lihai memainkan detail, menangkap hal-hal kecil yang sering luput disampaikan penulis lain, padahal bisa menjadi data penting.
Contohnya, masih di tulisan soal ebeg di Banyumas, Titah menulis: Sambil menyedot es teh plastikan, mereka santai saja bergurau di samping teman yang masih merangkak atau merancau dengan suara kecil, “Kiye indhang-nya belum mau pulang,” kelakar mereka santai.
Detail “es teh plastikan” yang ditulis umumnya sering dianggap tidak penting, padahal itu bisa menjadi petunjuk, tidak sekadar aktivitas biasa. Detail itu memungkinkan pembaca memahami situasi ekonomi masyarakat, cuaca, dan tren minuman yang sedang digandrungi anak muda. Ungkapan kalimat langsung yang ditulis juga meninggalkan tanda ada solidaritas dari komunitas ebeg yang terus dipertahankan.
Selain soal ebeg di Banyumas, liputan menarik yang ditulis Titah adalah menyoal kata umpatan seperti jancuk, asu, bajingan, ndhasmu, jangkrik, dan lainnya. Ia menyoroti sebuah Sayembara Misuh yang digelar secara online oleh Jawa Sastra. Liputan itu bertajuk Mari Berlomba Misuh Demi Budaya Jawa, Jancuk!. Dalam tulisannya, Titah memberikan perspektif lain soal misuh. Memaki, mengumpat, atau mengeluarkan kata-kata kasar yang kerap diartikan sebagai hal negatif ternyata punya banyak wajah. Misuh punya cerita historis dan budaya. Saya terkekeh membaca kutipan akhir tulisan: Masih mending kalau misuhnya pakai Bahasa Jawa daripada bilang ‘fuck’, ‘shit’, atau apa. Misuh aja kok impor.
Penulis buku bertajuk Parade Hantu Siang Bolong (2025) berhasil memberi banyak warna pada tulisannya. Paling penting, ia punya sensitivitas keberagaman yang kokoh. Ini membuatnya bisa menulis dengan unik peristiwa yang terjadi di lapangan, tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan. Barangkali ini dipengaruhi oleh kehidupan pribadinya, dikisahkan pada halaman 42, bertajuk Bagaimana Mereka Memakamkan Bapak yang Penghayat. Titah sejak kecil dihadapkan pada perbedaan dan kelompok minoritas. Pengalamannya berproses di Yogyakarta, agaknya juga turut membuatnya matang dalam mengemas keunikan sebuah peristiwa.
Data Buku
Judul Buku: Parade Hantu Siang Bolong
Penulis: Titah AW
Penerbit: Warning Books
Tahun Terbit: Cetakan Ketujuh Juli 2025
ISBN: 978-623-93304-8-4
Editor: Kendi Setiawan


