Jakarta, Arina.id—Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. YBS (10), siswa laki-laki kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan meninggal gantung diri, Kamis (29/1).
YBS diduga nekat melakukan aksi tersebut setelah permintaannya untuk membeli buku tulis dan pulpen ditolak oleh ibunya akibat kesulitan ekonomi.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik sebagai simbol mendesaknya pemerataan sarana penunjang pendidikan di pelosok negeri.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengusut tuntas latar belakang kasus bunuh diri siswa SD berinisial YBS (10).
"Kami sangat prihatin. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Ini tidak boleh dibiarkan. Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali," ujar Habib Syarief dikutip laman PKB.
Menurutnya Kemendikdasmen harus melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan apakah terdapat kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan di wilayah tersebut.
"Karena sepengetahuan kami anggaran pendidikan dari APBN itu besar, harusnya kebutuhan dasar pendidikan dasar pendidikan seperti buku dan alat tulis bisa terpenuhi," katanya.
Lebih lanjut, Habib meminta pemerintah melakukan pendataan ulang secara menyeluruh terhadap kondisi ekonomi siswa di NTT dan wilayah tertinggal lainnya. Ia mendorong penguatan program bantuan perlengkapan sekolah gratis serta peningkatan peran guru dalam memantau kondisi psikologis peserta didik.
"Jangan sampai kita kehilangan generasi hanya karena kemiskinan dan kelalaian sistem. Sekolah harus lebih peka dan responsif terhadap kondisi sosial muridnya agar tragedi serupa tidak kembali terulang," pungkas Habib.
Sebelumnya, korban mengakhiri hidup di pohon cengkeh dekat pondok sederhana tempat dia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Dalam proses olah TKP, polisi menemukan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan oleh korban ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama).
Kasi Humas Polres Ngada lpda Benediktus E Pissort membenarkan bahwa surat tersebut diduga kuat ditulis oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya.
"Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan," ujar Benediktus.
Gregorius Kodo, seorang saksi mata, menuturkan kondisi keluarga korban sangat memprihatinkan. Itu yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ketika kejadian berlangsung, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun itu tengah berada di rumah tetangga.
Menurutnya, korban kurang kasih sayang orangtua. Ayah korban meninggal dunia pada saat korban masih dalam kandungan. Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya. Ibunya menafkahi lima anak, termasuk korban.
Editor: Suci


