Ingin Anak Bermental Tangguh? Ini yang Harus Dilakukan para Orang Tua

Ingin Anak Bermental Tangguh? Ini yang Harus Dilakukan para Orang Tua

Sebagai orang tua, kadang kita dihantui oleh banyak pertanyaan yang muncul berseliweran dalam benak terkait masa depan yang akan ditempuh oleh anak-anak. Apakah mereka akan tumbuh seturut dengan bayangan idealis kita? Apakah mereka akan sanggup beradaptasi secara positif dengan arus perkembangan pergaulan dalam kehidupan sosialnya kelak? Apakah anak-anak mampu mengimbangi gerak zaman yang dipenuhi ketidakpastian? Apakah saya, sebagai orang tua telah sempurna menanamkan daya juang yang paripurna agar anak mampu mandiri menyelesaikan setiap persoalan yang menghampiri? Dan berbagai pertanyaan serupa lainnya.

Setelah anak memasuki dunia sekolah, kita sadar betul bahwa menjadi orang tua tak lagi sesederhana kita menimang dan menggendongnya menuju altar mimpinya. Aktivitas anak tak lagi sekadar bermain lalu istirahat menikmati mimpi indah dalam alam tidurnya. Anak-anak mulai tumbuh remaja menuju dewasa. Dalam proses itu, anak-anak merasa memiliki kemerdekaan yang tak mau dicampuri dengan intervensi berlebihan dari orang tuanya. Ia bertemu dan mengenal orang-orang baru, teman sekolahnya, teman les, jejaring dalam kegiatan ekskul. Ia juga berjumpa dan mengenal orang dewasa selain lingkungan keluarga. 

Dari beragam interaksi itulah, tak jarang memunculkan permasalahan. Anak-anak cenderung ingin menyelesaikannya secara mandiri. Namun, tanpa terbiasa menghadapi sendiri persoalan yang muncul, anak-anak bisa jatuh pada kebingungan yang menjelma dalam berbagai bentuk sikap, berbohong, menjadi pengekor temannya yang dominan, todak cakap mengelola emosi, larut dalam kesendirian, dan lebih parah terjebak pada rasa putus asa yang berat dan membahayakan kesehatan mentalnya. 

Tempo lalu, saya mengampu pembelajaran literasi kepada santri di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Tegal Jawa Tengah. Saya terlibat dalam perbincangan yang mendalam dengan salah satu santri. Ia mengatakan bahwa hampir setiap hari kepalanya sakit pada jam-jam tertentu, yaitu kira-kira pukul 11.00 hingga sore hari. Malam hari kepalanya mulai terasa ringan.

Anehnya, sekira pukul 10 malam hingga larut, sakit kepala itu betul-betul hilang dan rasanya ingin tetap melek hingga dini hari menikmati lepasnya penat yang menekan. Peristiwa semacam ini terus berulang hampir setiap hari, atau minimal dalam seminggu ia mengalami ini sebanyak tiga kali.

Singkatnya, santri tersebut mengalami tekanan tuntutan yang luar biasa di sekolah ditambah tugas dan kewajibannya sebagai santri yang masih akan memburunya hingga penghabisan hari. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa mental tangguh sulit mewujud jika orang dewasa yang seharusnya menuntun dan membimbingnya untuk meraih cita-cita malah berlaku sebaliknya, memberikan beban yang berat dengan target capaian yang kerap tidak disesuaikan dengan perkembangan psikologis anak-anak.

Untuk itu, diperlukan mental tangguh dalam banyak situasi yang acak sebagai konsekuensi logis dalam jalinan pergaulan anak-anak yang semakin luas.

Dalam bukunya, Jadi Tangguh, Siapa yang Butuh?, Vicky Anastasha menyebut bahwa mental tangguh atau resiliensi adalah daya lenting atau kemampuan anak untuk cepat bangkit dan tumbuh baik meski diterpa masalah. Anak-anak yang memiliki sikap resiliensi mempunyai kesadaran hadirnya risiko dalam pergulatan perbedaan pemikiran, kemauan, dan mungkin saja kompetisi. 

Resiliensi menggambarkan kapasitas daya juang dan keberanian untuk menatap secara positif setiap kesulitan yang datang. Resiliensi juga terbitnya kesadaran bahwa jalan hidup tak selalu mulus, namun bukan berarti kita boleh menyerah dan membiarkan diri jatuh pada keterpurukan.

Vicky Amemberikan penjelasan pentingnya sikap resiliensi pada anak agar tumbuh dengan : 
1. Pulih dari kegagalan dengan lebih cepat
2. Percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan
3. Memahami bahwa emosi negatif seperti sedih, marah, kesal, kecewa tidak akan bertahan selamanya, sehingga lebih cepat mengelola emosinya
4. Tidak suka menghindari masalah atau menyelesaikan masalah dengan cara negatif atau agresif. 

Hal yang perlu diingat, resiliensi tidak lahir tiba-tiba. Sikap itu dapat dikuasai melalui latihan terus-menerus. Kendati begitu, jangan dibayangkan mengasah sikap tangguh pada anak-anak seperti belajar atletik yang harus berada pada area khusus. Belajar sikap tangguh adalah terkait bagaimana membangun komunikasi positif antara orang tua dan anak-anak. Berikut ini sejumlah cara yang perlu dilakukan untuk membangun karakter tangguh/resiliensi pada anak-anak.

1. Jangan bebankan target ambisius kepada anak-anak
Orang tua dan guru harus waspada dengan ini. Alih-alih mempersiapkan anak untuk berhasil meraih impiannya, tugas dan tuntutan target malah bisa berdampak buruk meruntuhkan cita-cita anak. Sudah seharusnya anak-anak membangun sendiri impian yang sesuai dengan visi hidupnya.

Diperlukan kelonggaran ruang untuk anak-anak menjadi dirinya sendiri tanpa kata-kata yang kerap ‘menggurui’. 

2. Terapkan disiplin positif, bukan marah-marah
Disiplin positif merupakan upaya membangun kesadaran kedisiplinan tanpa kekerasan, baik secara mental, verbal, atau hukuman fisik. Penerapannya adalah dengan memberikan pemahaman mendalam kepada anak-anak dampak logis yang terjadi apabila anak melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Misalnya, anak-anak membiasakan bangun pagi bukan karena diiming-imingi pujian atau bukan pula karena takut dihukum, melainkan karena dengan bangun pagi, mereka akan lebih segar, sehat, dan semangat dalam belajar. 

3. Ajarkan aturan emas (golden rule)
Aturan ini mengajarkan, “Lakukan kepada orang lain apa yang kamu ingin orang lain lakukan kepadamu”. Kalimat sederhana ini memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa setiap perbuatan haruslah dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan kesadaran ini, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang tak terburu-buru membuat kesimpulan pada setiap persoalan yang melintas. Ia akan dibekali pemikiran jernih yang penuh ketenangan dan kebajikan.

4. Bantu anak mengenali diri sendiri
Pernahkah Anda bermain kartu dengan anak-anak? Kartu-kartu yang berisi sejumlah pertanyaan yang anda susun sendiri. Setiap membuka kartu berisi satu pertanyaan yang harus dijawab. Pertanyaan itu dijawab baik oleh anak-anak maupun anda sendiri sebagai orang tua. Tujuannya memberikan contoh bagaimana menyusun kata-kata yang baik.

Misalnya, kartu-kartu tersebut berisi pertanyaan, Siapa Aku? Apa hal baik yang pernah dilakukan dalam satu hari ini? Berapa orang yang sudah ditemui dan bercakap-cakap dengannya dengan mendalam? Apakah kamu memiliki hobi? Pernahkah kamu mengalami kesedihan, pada saat apa? Dan seterusnya, pertanyaan-pertanyaan yang menggali apa yang dirasakan, dialami, dan harapan anak-anak. Belajar dengan cara seperti ini, pelan-pelan melatih anak-anak memahami diri dengan lebih baik.

5. Ajarkan doa ini
Ada sebuah doa yang bunyinya baik sekali terkait diri sang buah hati. Doa ini diambil dari buku Nilai Dasar Perdamaian karya Irfan Amalee dan Erik Lincoln.

Doanya adalah, "Ya Allah, karunialah saya rasa tenteram untuk menerima hal-hal yang tidak dapat saya ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat saya ubah, dan hikmah untuk mengetahui perbedaannya"
 


Editor:
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo