Belajar dari Hanzhalah bin Abi Amir, Sosok Syahid yang Dimandikan Malaikat

Belajar dari Hanzhalah bin Abi Amir, Sosok Syahid yang Dimandikan Malaikat

Arina.id - Seorang pria yang baru saja menikah dan sedang melakukan bulan madu, tergerak hatinya untuk berjihad setelah mendengar seruan ajakan berjihad di perang Uhud. Meskipun dalam keadaan jinabat, karena baru selesai memberikan nafkah batin kepada istrinya, dia bergegas untuk pergi meskipun Rasulullah telah memberinya dipensasi untuk berbulan madu. Akhirnya, dia kembali pulang dengan hanya tinggal nama, dia adalah Hanzhalah bin Abi Amir.

Mungkin kisah ini terkesan hanya ada dalam film kolosal seperti adegan dalam film Sang Kiai di mana Harun (Adipati Dolken) santri kinasih KH. Hasyim Asy’ari harus ikut berperang melawan sekutu pada pertempuran 10 November di Surabaya dan meninggalkan istrinya Sari (Meriza Febriani) yang hamil muda. Harus tahu jika istrinya sedang hamil ketika sudah dalam perjalanan perang, namun dia kembali pulang dalam keadaan tidak bernyawa.

Kisah Hanzalah bin Abi Amir diabadikan dalam hadits riwayat Ibn Hibban dalam Sahih-nya no. 3361 [Beirut: Dar Ibn Hazm, 2021, juz 4, hal. 244] sebagai berikut:

أَخبَرنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، مَوْلَى ثَقِيفٍ، حَدثنا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الأُمَوِيُّ، حَدثنا أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَقُولُ: وَقَدْ كَانَ النَّاسُ انْهَزَمُوا عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى انْتَهَى بَعْضُهُمْ إِلَى دُونِ الأَعْرَاضِ إِلَى جَبَلٍ بِنَاحِيَةِ الْمَدِينَةِ، ثُمَّ رَجَعُوا إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ كَانَ ‌حَنْظَلَةُ ‌بْنُ ‌أَبِي ‌عَامِرٍ الْتَقَى هُوَ وَأَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ، فَلَمَّا اسْتَعْلَاهُ حَنْظَلَةُ رَآهُ شَدَّادُ بْنُ الأَسْوَدِ، فَعَلَاهُ شَدَّادٌ بِالسَّيْفِ حَتَّى قَتَلَهُ، وَقَدْ كَادَ يَقْتُلُ أَبَا سُفْيَانَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: "إِنَّ صَاحِبَكُمْ حَنْظَلَةَ تُغَسِّلُهُ الْمَلَائِكَةُ، فَسَلُوا صَاحِبَتَهُ"، فَقَالَتْ: خَرَجَ وَهُوَ جُنُبٌ لَمَّا سَمِعَ الْهَائِعَةَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: "فَذَاكَ قَدْ غَسَّلَتْهُ الْمَلَائِكَةُ".

Artinya: "Dari Abdullah bin Zubair mengatakan aku mendengar Rasulullah bersabda tentang Hanzhalah ketika orang-orang berlari meninggalkan Rasulullah hingga mereka sampai di lereng gunung arah kota Madinah, kemudian mereka kembali ke Rasulullah, di saat itu Hanzhalah bin Abi Amir berhadapan dengan Abu Sufyan bin Harb, ketika Hanzhalah akan membunuhnya, Syadad bin al-Aswad melihat hal itu kemudian membunuh Hanzhalah dengan pedangnya, dan hampir saja Hanzhalah membunuh Abu Sufyan. Kemudian Rasulullah bersabda “Sesungguhnya teman kalian Hanzhalah dimandikan oleh para malaikat, tanyakan kepada keluarganya”, istrinya menjawab dia keluar berperang dalam kondisi junub ketika mendengar pengumuman perang, Rasulullah bersabdah “oleh karena itu dia dimandikan oleh para malaikat”.

Syekh Taqiyuddin Ahmad bin Ali al-Maqrizi dalam Imta’ul Asma’ bima linnabiyyi minal Ahwal wal Amwal wal Hafadati wal Mata’ [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1999, juz 13, hal. 260]  mengutip al-Waqidi dalam Maghazi-nya kronologi kisah Hanzhalah sebelum syahid di perang Uhud sebagai berikut:

وكان ‌حنظلة ‌بن ‌أبي ‌عامر تزوج جميلة بنت عبد اللَّه بن أبي بن سلول، فأدخلت عليه في الليلة التي في صبحها قتال أحد، وكان قد استأذن رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم أن يبيت عندها فأذن له، فلما صلى الصبح غدا يريد رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم، ولزمته جميلة فعاد فكان معها، فأجنب منها ثم أراد الخروج، وقد أرسلت قبل ذلك إلى أربعة من قومها فأشهدتهم أنه قد دخل بها، فقيل لها بعد: لم أشهدت عليه؟ قالت: رأيت كان السماء فرجت فدخل فيها حنظلة ثم أطبقت، فقلت: هذه الشهادة! فأشهدت عليه أنه قد دخل بها، وتعلق بعبد اللَّه بن حنظلة، ثم تزوجها ثابت بن قيس بعد فولدت له محمد بن ثابت بن قيس.

Artinya: "Hanzhalah menikah dengan Jamilah putri Abdullah bin Ubay bin Salul dan tinggal bersama di malam yang paginya terjadi perang Uhud, Hanzhalah telah meminta izin kepada Rasulullah untuk bermalam bersama istrinya dan beliau mengizinkan. Ketika Hanzhalah sholat subuh, Rasulullah menginginkannya untuk ikut berperang, dan istrinya mengizinkan, kemudian dia kembali ke rumah kemudian melakukan hubungan suami istri, lalu dia akan pergi berperang. Sebelum itu, istrinya menyuruhnya untuk memanggil empat orang dan istrinya bersaksi kepada mereka bahwa dia sudah melakukan hubungan suami istri dengannya. Mereka bertanya kepada istri Hanzhalah “mengapa kamu bersaksi akan hal tersebut ?” dia menjawab “aku melihat langit cerah kemudian kami berhubungan suami istri kemudian langit petang, aku mengatakan ini adalah pertanda!”. Kemudian dia bersaksi akan hal itu dan dia mengandung Abdullah bin Hanzhalah, setelah kematian Hanzhalah ia dinikahi oleh Tsabit bin Qais dan melahirkan Muhammad bin Tsabit Qais."

وأخذ ‌حنظلة ‌بن ‌أبي ‌عامر سلاحه، فلحق برسول اللَّه صلى الله عليه وسلم بأحد وهو يسوي الصفوف، قال: فلما انكشف المشركون اعترض ‌حنظلة ‌بن ‌أبي ‌عامر لأبي سفيان بن حرب فضرب عرقوب فرسه فاكتسعت الفرس، ويقع أبو سفيان إلى الأرض! وحنظلة يريد ذبحه بالسيف، فأسمع الصوت رجالا لا يلتفتون إليه من الهزيمة، حتى عاينه الأسود بن شعوب، فحمل على حنظلة بالرمح فأنفذه، فمشى حنظلة إليه بالرمح وقد أثبته، ثم ضربه الثانية فقتله،

Artinya: "Hanzhalah mengambil pedangnya dan bertemu Rasulullah di area Uhud dan beliau membariskan para pasukan ketika perang berkecamuk Hanzhalah menyerang Abu Sufyan dengan menebas urat tumit kudanya hingga tersandung kakinya sendiri dan Abu Sufyan terperosok ketanah, kemudian Hanzhalah akan membunuhnya dengan pedangnya, Abu Sufyan berteriak di antara pasukan yang tidak menghiraukannya sehingga Aswad bin Sya’ub menolongnya dan menyerang Hanzhalah dengan tombak dan melukainya, kemudian Hanzhalah mendatangi Aswad dengan membawa tombang yang dia cabut dari tubuhnya, lalu Aswad membunuhnya dengan tebasan kedua hingga dia syahid."

Sejak saat itu Hanzhalah terkenal dengan julukan al-Ghasil atau yang dimandikan yakni dimandikan oleh para malaikat. Julukan ini diabadikan dalam nama anaknya yakni Abdullah bin Ghasil atau terkenal dengan sebutan Ibnu Ghasil salah satu sahabat muda perawi hadits yang banyak disebutkan dalam kitab-kitab hadits. 

Kebanyakan orang meminta cuti panjang untuk berbulan madu dengan istrinya setelah menikah untuk menikmati masa transisi dari lajang ke status berpasangan. Bahkan terkadang mereka juga meminta menunda untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial keagamaan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Hanzhalah bin Abi Amir. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo