Al-Kindi bernama lengkap Abu Yusuf Ya’kub ibn Ishaq Al-Kindi. Ia berasal dari satu daerah bernama Kindah di Yaman. Meski dikenal berasal dari Kindah, Al-Kindi justru tercatat lahir di Kufah, Irak pada tahun 801 M. Al-Kindi adalah anak Gubernur Kufah, Irak bernama Ishaq Al-Sabbah. Ayahnya menjabat sebagai Gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi (744-785 M) dan Harun Ar-Rasyid (766-809 M).
Al-Kindi melewatkan masa kecilnya dengan menghafal Al-Qur'an dan belajar ilmu hitung. Ia juga belajar fiqih dan ilmu kalam. Namun dari sekian banyak yang dipelajari, ia lebih tertarik pada sains dan filsafat yang ditekuni selama sisa hidupnya. Semasa pergulatan mencari ilmu, Al-Kindi banyak berhubungan dan mendapat pelajaran dari ulama-ulama Mu’tazilah yang mengedepankan rasio dalam menafsirkan teks-teks agama. Hal itulah yang membuat dirinya mengikuti dan membela akidah Mu’tazilah.
Setelah dewasa, Al-Kindi pergi ke Baghdad dan mendapat lindungan dari Khalifah al-Ma’mun (813-833 M) dan Khalifah al-Mu’tasim (833-842 M). Di kota inilah Al-Kindi mendapat kemasyhuran sebagai filsuf Islam di zamannya. Di era ketika Al-Kindi hidup, menguasai bahasa Yunani menjadi keniscayaan untuk para penggiat ilmu, karena banyak sumber ilmu pengetahuan berasal dari bahasa tersebut. Al-Kindi tidak turut ketinggalan dalam mempelajari dan menguasai bahasa Yunani. Penguasaan bahasa ini yang memudahkan Al-Kindi untuk terjun dalam belantara ilmu pengetahuan.
Al-Kindi dikenal sebagai intelektual serba bisa. Ia tidak hanya masyhur karena pemikirannya mengenai filsafat Islam semata, ia juga dikenal sebagai dokter, astronom, psikolog, serta ahli matematika dan berbagai cabang pengetahuan lain. Hal itu dibuktikan dengan berbagai karya yang ia tulis yang jumlahnya kurang lebih sebanyak 241 buku. Ratusan buku ini terdiri dari buku filsafat, logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik, matematika, dan sebagainya. Gambaran dari berbagai topik pembahasan dalam karya-karya tersebut menunjukan bagaimana luasnya pengetahuan Al-Kindi. Namun sayangnya, sebagian besar karyanya telah hilang. Alhasil, yang hari ini umat Islam bisa miliki dari warisan intelektual Al-Kindi hanyalah beberapa bagian dari keseluruhan konsep pemikirannya.
Kecemerlangan Al-Kindi dalam ilmu pengetahuan terbantu oleh lingkungan sosial yang sangat mendukung tinggi intelektualisme. Ia hidup di kala Bani Abbasiyah sedang gencar-gencarnya menerjemahkan berbagai buku filsafat Yunani ke bahasa Arab. Al-Kindi merupakan bagian dari para intelektual yang berpengaruh terhadap jalannya proses tersebut. Ia malahan bisa dibilang merupakan pemimpin dari proyek ini.
Menurut W. Montgomery Watt dalam Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam (1979), penerjemahan berbagai karya filsafat Yunani ke bahasa Arab dilakukan karena para khalifah dan intelektual Abbasiyah berkepentingan untuk mengimbangi polemik sekaligus memberi pembelaan kepada ajaran Islam. Pasalnya, di luar tradisi Islam kala itu, ada banyak kelompok yang tradisi berpikirnya secara tidak langsung menyerang doktrin Islam.
Montgomery Watt menyebut setidaknya ada dua tradisi yang menjadi pesaing besar tradisi pemikiran Islam. Pertama, tradisi pemikiran yang berasal dari Gunde Shapur. Tradisi ini berkembang dari tahun 765-870 M. Tradisi ini mengajarkan ilmu kedokteran yang di dalamnya terdapat kurikulum filsafat. Kedua, tradisi filsafat Alexandria. Para khalifah merasa bahwa penerjemahan karya filsafat Yunani dapat membantu melawan dua tradisi berpikir itu.
Para intelektual Abbasiyah uniknya tidak hanya menerjemahkan secara tekstual berbagai teks filsafat Yunani ke bahasa Arab. Mereka menerjemahkan sekaligus menyusun ulang pemikiran baru dari berbagai karya yang telah diterjemahkan tadi, entah yang bentuknya memberi penjelasan dari berbagai karya terjemahan tersebut atau menulis teks baru. Dampak dari itu membuat dinamika intelektual berkembang dengan luar biasa. Lahir banyak pemikir besar yang pemikirannya berpengaruh terhadap umat manusia. Al-Kindi adalah salah satunya. Ia oleh orang barat dikenal sebagai filosof Arab. Disebut demikian karena Al-Kindi adalah orang Arab pertama yang secara khusus dan serius mengkaji isu-isu filsafat di dunia Islam secara disiplin. Al-Kindi merupakan muslim pertama yang secara sistematis mempopulerkan filsafat Yunani di kalangan umat Islam.
Tuhan dan Filsafat Neoplatonisme
Al-Kindi memaknai filsafat sebagai ilmu tentang hakekat kebenaran. Tujuan para filsuf dalam ilmunya adalah untuk sampai pada kebenaran dan dalam tindakannya bertindak sesuai dengan kebenaran. Hanya saja, Al-Kindi menggaris bawahi bahwa untuk sampai pada kebenaran ini haruslah sesuai dengan kesanggupan manusia. Pasalnya, ia meyakini bahwa tidak semua hal bisa digapai dengan kemampuan manusia. Al-Kindi menyadari mengenai keterbatasan akal dalam menjawab semua persoalan. Setidaknya ada tiga topik bahasan penting yang menjadi gambaran filsafat Al-Kindi, yaitu ilmu ketuhanan, ilmu keutamaan/etika, ilmu tentang semua yang berguna dan cara memperolehnya, serta cara menjauhi perkara-perkara yang merugikan.
Dalam konteks pemikiran filsafat secara luas, Al-Kindi menganut aliran filsafat neoplatonisme. Menurut Mohammad Hatta dalam Alam Pikiran Yunani (1986), filsafat neoplatonisme singkatnya berpangkal kepada keyakinan bahwa segala hal Yang Asal itu adalah satu dengan tidak ada pertentangan di dalamnya. Yang Satu itu bukan kualitas dan bukan pula yang terutama dari segala keadaan dan perkembangan dalam dunia, segalanya datang dari suatu yang disebut Yang Asal. Yang Asal itu ialah sebab dari kuantitas, bukan akal bukan jiwa, bukan dalam bergerak bukan pula dalam berhenti. Yang Satu itu tidak dapat dikenal sebab tidak ada ukuran untuk membandingkannya. Orang hanya dapat mengatakan apa yang tidak sama dan serupa dengan Dia, tetapi tidak dapat dikatakan apa dia. Yang Asal inilah yang menjadi permulaan dan sebab yang pertama dari segala yang ada. Pokok pikiran ini secara sederhana dapat dimaknai bahwa segala yang ada bermula dari Yang Satu yang menjadi asal dari segala sesuatu. Seluruh yang ada merupakan pancaran dari Yang Satu. Konsep tersebut dalam filsafat dikenal dengan emanasi.
Pokok ajaran neoplatonisme inilah yang oleh Al-Kindi dipakai untuk menyusun filsafatnya sendiri. Salah satu topik pembahasan dalam filsafat Al-Kindi adalah mengenai Tuhan. Kata Al-Kindi, Tuhan adalah wujud yang sempurna. Ia bukan berasal dari tidak ada kemudian menjadi ada. Tuhan mustahil untuk tidak ada. Ia selalu dan pasti ada dan akan selalu pasti ada. Tuhan ada bukan didahului oleh wujud lain. Melainkan justru Ia yang menjadi sebab dari wujud lain.
Tuhan menurut Al-Kindi tidak mempunyai hakekat dalam arti aniah atau mahiyah. Tidak aniah karena Tuhan tidak termasuk dalam benda-benda yang ada dalam alam. Tuhan justru adalah pencipta alam. Tuhan juga tidak mempunyai hakikat dalam arti mahiyah yang bermaksud tidak ada yang serupa dengan Tuhan. Ia adalah zat satu dan tidak ada yang menyerupainya. Ia semata-mata satu dan hanya Ia yang satu. Selain Tuhan, semuanya mengandung arti banyak (Nasution 1973: 16). Penjelasan ini dekat dengan pokok ajaran filsafat Plotinus mengenai Yang Satu. Itulah sebabnya dikatakan bahwa filsafat Al-Kindi dipengaruhi oleh pokok pikiran neoplatonisme.
Pemikiran Al-Kindi semacam ini jelas menimbulkan polemik. Banyak ulama dan filsuf lain yang mengkritik filsafat Al-Kindi tersebut. Meski begitu tidak bisa dipungkiri bagaimana kontribusi Al-Kindi dalam perintisan filsafat di tubuh umat Islam. Ia menyajikan filsafat Yunani kepada kaum muslimin setelah pikiran-pikiran asing itu “diislamkan” atau “diarabkan”. Hal tersebut dilakukan semata agar pikiran yang berkembang dalam filsafat Yunani tidak bergesekan dengan doktrin tauhid dalam Islam, sekaligus membendung tuduhan bahwa filsafat tidak sejalan dengan Islam. Al-Kindi berpendapat bahwa filsafat tidaklah bertentangan dengan Islam. Malah bagi Al-Kindi, filsafat bisa dipakai untuk menjelaskan ajaran Islam dengan lebih baik. Itulah sebabnya para pengkaji Al-Kindi mengatakan bahwa Al-Kindi menyusun naskah filsafat yang digambarkan sebagai filsafat Yunani untuk orang-orang Islam (Madjid 1984: 25-26).
Berbagai pemikiran Al-Kindi menjadi pondasi dasar dari perkembangan filsafat Islam di era setelahnya. Filsuf muslim macam Al-Farabi (870-950 M) dan Ibnu Sina (980-1037 M) adalah dua contoh filsuf yang terpengaruh pemikiran Al-Kindi dan sukses menyempurnakan ide-ide besar Al-Kindi yang belum tuntas, seperti gagasan mengenai emanasi. Tanpa Al-Kindi, Al-Ghazali tidak akan menulis kritik luar biasa yang termanifestasi dalam Tahāfut al-Falāsifah, karena kitab yang isinya bantahan terhadap pemikiran para filosof itu tidak mungkin lahir kalau Al-Kindi tidak membawa tradisi filsafat ke dalam peradaban Islam. Al-Kindi meninggal tahun 873 M. Ia meninggalkan warisan tak ternilai untuk peradaban manusia yang akan terus berpengaruh sepanjang zaman.
Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).
Editor:


