Perlawanan tanpa Jeda Ahed Tamimi

Perlawanan tanpa Jeda Ahed Tamimi

Ahed Tamimi, remaja ikon perlawanan Palestina, ditangkap tentara Israel. Dia dituduh menyebarkan kebencian. Tak akan melemahkan perjuangannya meski Damon memberinya pengalaman buruk.

Bukan malam yang menyenangkan. Saat gelap, pada 6 November 2023 lalu, tentara Israel masuk ke rumah dan merangsek ke kamarnya. Ahed Tamimi pun ditangkap lalu difoto. Dari Nabi Saleh, kota tempat dia tinggal, Ahed kemudian dibawa pergi dalam keadaan gelap yang dingin. Sejak itu, wanita berusia 22 tahun itu tak ketahuan rimbanya. 

Hasil jepretan kamera itu kemudian muncul di akun X (dulu Twitter) milik Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Dengan memajang foto dengan tatapan mata Ahed yang marah, Ben-Gvir pun memuji keberhasilan pasukan Israel menangkap Ahed. 

Ben-Gvir juga menuduh Tamimi sebagai teroris yang menyatakan simpati dan dukungan kepada Nazi. Alasan itu yang membuatnya ditangkap. Menurut media Israel, Ahed menulis postingan dalam bahasa Ibrani dan Arab tentang ancaman terhadap Israel.

“Kami akan membantai Anda, dan Anda akan mengatakan bahwa apa yang dilakukan Hitler terhadap Anda adalah sebuah lelucon,” tulis Ahed dalam postingannya itu. “Kami akan meminum darahmu dan memakan tengkorakmu.”  

Nariman al-Tamimi, ibu Ahed, tentu saja membantah itu. “Ada lusinan akun yang memakai namanya lengkap dengan memasang fotonya. Dia tidak ada hubungannya dengan itu,” katanya.

Rupanya bukan hanya Ahed seorang yang ditangkap malam itu. Menurut The Palestinian Prisoners Society, organisasi non pemerintah, Tamimi adalah salah satu dari 70 orang yang ditangkap dalam penggerebekan Israel pada Senin dini hari di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. 

Kepergian Ahed ini merupakan kehilangan yang kedua bagi Nariman. Sebelumnya, sang suami, juga ditangkap bulan lalu. Seperti anak perempuannya, dia pun tidak memiliki informasi apapun mengenai keberadaan suaminya.

Mati Rasa

Andai boleh memilih, tentu Ahed Tamimi tak mau menjadi anak Palestina. Dibesarkan di Nabi Saleh di Tepi Barat, yang diduduki Israel sejak perang pada 1967. Kaum Arab Palestina, umumnya merasa bahwa Israel sengaja mengusir mereka dari rumah sendiri. 

Pembangunan pemukiman orang Yahudi adalah sebabnya.  Pos pemeriksaan Israel membatasi pergerakan warga Palestina di sana. Bahkan mereka tidak dapat mencapai tanah yang sah adalah miliknya sendiri.

Walhasil, sejak kecil Ahed disuguhi adegan kekerasan yang ditampilkan tentara Israel. Penggerebekan pada malam hari, pembongkaran rumah, serangan dengan semprotan merica, hingga pembunuhan menjadi pemandangan sehari-hari yang menakutkan bagi dia. 

Hingga akhirnya, ketakutannya itu hilang. Dia mengaku “mati rasa” terhadap semua kekhawatiran yang ada di depan matanya. Itu terjadi ketika seorang tentara Israel menembak tangannya dengan peluru berlapis karet ketika mencoba melarikan diri dari gas air mata yang ditembakkan tentara ke rumahnya. 

Peristiwa itu memotivasinya untuk meredakan trauma yang menumpuk melalui protes. Keberanian menjadi udara yang dihirupnya. Termasuk melawan tentara Israel. Ahed marah besar ketika pasukan  menembak sekelompok anak-anak di desanya, hingga sepupunya terluka parah. 

Dia mendorong seorang tentara Israel. Tidak hanya itu, dia pun menggigit  seorang tentara Israel yang akan menangkap sepupunya itu. Kenekataannya itu dilakukan pada 2015, saat itu dia masih berusia 14 tahun. 

Saat itu, ibunya menyiarkan konfrontasi Tamimi di Facebook Live, sebuah keputusan yang kemudian berujung pada penangkapan, interogasi, dan penahanan Tamimi di Penjara Hasharon di Israel. Video itu kemudian viral dan membuatnya menjadi sorotan internasional.

Dua tahun kemudian, dia ditahan setelah dia beraksi lagi. Dia menendang dan menampar seorang tentara Israel dalam sebuah insiden di luar rumahnya. Akibatnya, pengadilan Israel kemudian menjatuhkan hukuman delapan bulan penjara.

Tamimi memang harus mendekam di penjara. Namun, keberanian remaja berusia 16 tahun itu menyuguhkan banyak hal. Dia menjadi pembuka jalan bagi remaja sebagai aktivis Palestina yang sebelumnya dikenal sebagai pejuang yang tua atau pemuda yang suka melempar batu.  

Dia pun kemudian dihormati oleh warga Palestina sebagai simbol perlawanan mereka terhadap pendudukan Israel. Potret besar dirinya telah dilukis di tembok pemisah Israel dengan Tepi Barat di Betlehem dekat Yerusalem.

Sineen Amereh, yang seusia dengan Ahed, tidak meragukan pentingnya Tamimi dalam perjuangan rakyatnya melawan pendudukan, serta peran anak perempuan dalam perlawanan tersebut.

“Dia adalah idola yang sempurna untuk semua gadis seusianya – belum pernah ada orang yang melakukan hal seperti itu sebelumnya,” katanya. “Jika kami tidak berani tentara Israel akan mengira kami lemah, mengira kami akan menyerah begitu saja.”

Seperti yang dialami Tamimi dan remaja lainnya, Amereh mengaku takut pada tentara di sana. Namun tindakan Tamimi itu telah memberinya kepercayaan diri untuk melawan ketidakadilan. “Semua orang takut, tapi kami akan terus berjuang untuk mempertahankan tanah dan rumah kami,” kata Amereh.

Perhatian itu, seperti yang diakui Tamimi dalam bukunya “They Call Me a Lioness : A Palestine Girl's Fight for Freedom”, membuatnya kelelahan dan depresi. Namun bagi dia, berdiam diri bukanlah suatu pilihan. 

“Saya telah diberi sebuah platform langka untuk mengadvokasi Palestina dan para tahanannya. Jika mendidik dunia tentang perjuangan bangsa kita adalah misi saya dalam hidup ini, saya bersumpah untuk melaksanakannya dengan terhormat dan seefektif mungkin,” tulisnya.  

Penjara Damon

Malam itu tidak ada yang tahu nasib Ahed. Menurut sang ibu, anaknya itu dibawa ke Penjara Damon yang terletak di hutan Carmel, Haifa, Palestina Utara. Penjara yang  terkenal sebagai kamp penahanan tahanan Palestina ini didirikan pada 1953. Setelah sempat ditutup pada 2000, penjara ini dibuka kembali setelah terjadi gelombang kerusuhan yang terjadi pada September 2000 antara orang Arab Palestina dan Israel yang dikenal dengan nama Intifada Al-Aqsa.

Kabar itu diterima sang ibu setelah menerima telepon dari seorang pengacara yang kebetulan melihat Tamimi juga berada di balik jeruji besi. Ketika itu, si lawyer itu sedang mengunjungi tahanan perempuan Palestina lainnya di sana. Ahed disebutkan dalam kondisi yang buruk.​​​​​​​

Dena Takruri – jurnalis Al Jazeerah yang menjadi penulis bersama dalam bukunya, dalam akun Instagram-nya, menyebutkan pihak keluarga tidak memiliki cara untuk menghubunginya. Mereka juga tidak mengetahui statusnya setelah lebih dari dua minggu setelah penangkapannya.

Dia juga menyebutkan bahwa tindakan itu ilegal. Sebab, secara hukum internasional, Israel tidak boleh memindahkan  tahanan ke luar wilayah pendudukan atau di Tepi Barat.​​​​​​​

Naimane Tamimi, sang ibu, tentu saja bersedih hati. Namun, bagi dia penderitaan yang dialami sang putri tidaklah seberapa. “Saya lebih berduka atas penderitaan warga Gaza dibandingkan putri saya. Kami dan Gaza adalah satu,” ujarnya.

Pembebasan

Mewarisi darah Bassem Tamimi, tak ada perubahan berarti dalam diri Ahed Tamimi usai dibebaskan. Ia tetap bersuara lantang meski penjara telah memberinya pengalaman buruk. “Tidak ada makanan, tidak ada air, tidak ada pakaian. Kami tidur di lantai," katanya mengilustrasikan keadaan penjara Damon yang buruk dan tak manusiawi.

Lebih dari itu, dirinya dan para tahanan lain selalu mendapat siksaan setiap saat. Bahkan ketika pejabat Israel memproses pembebasannya, ia mendapat ancaman yang sangat serius. "Mereka mengatakan kepada saya: 'Kami memiliki ayahmu. Jika kamu mengatakan sesuatu, kami akan membunuhnya di sini'," tuturnya.

Rabu (29/11) akhir November lalu, Ahed Tamimi kembali bertemu ibunya di Ramallah, Tepi Barat. Pelukan Tamimi ke ibunya terabadikan sorot kamera dan tersebar di berbagai platform media sosial. Tamimi masuk dalam daftar 30 tahanan yang dibebaskan setelah Israel dan Palestina bersepakat mengikat perjanjian jeda pertempuran.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor:
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo