Pemenang lotre genetika adalah Ali Akbar Navis (1924-2003). Ia tidak hanya dikenal sebagai sastrawan, tetapi juga kritikus budaya dan politikus Indonesia yang namanya masih memenuhi ruang intelektual Indonesia hingga kini. Orang-orang kembali ramai memuji kecerdasannya, menggali biografi, dan mengulas karya-karyanya dalam peringatan seratus tahun AA Navis, tepat pada tanggal 17 November 2024.
AA Navis memiliki pengaruh yang signifikan dalam dunia intelektual Indonesia, terutama melalui karya-karyanya yang kritis terhadap budaya, agama, dan politik. Melalui cerpen, novel, dan esainya, Navis mengajarkan pentingnya berpikir kritis terhadap kebiasaan, tradisi, dan struktur sosial yang tidak lagi relevan atau kontraproduktif. Ia membuka ruang bagi perdebatan tentang modernisasi budaya, khususnya di Minangkabau, yang berhadapan dengan nilai-nilai tradisional.
Semasa hidup, ia banyak melahirkan karya. Beberapa novelnya seperti Kemarau (1957) turut memperkuat reputasinya sebagai sastrawan yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Karya monumental lainnya adalah Robohnya Surau Kami (1956). Cerpen ini menjadi sorotan karena kritik sosialnya terhadap degradasi moral masyarakat dan pandangan keagamaan yang dianggap terlalu fatalistis. Robohnya Surau Kami menjadi ikon sastra Indonesia dan sering dijadikan bahan diskusi dalam pendidikan serta kebudayaan.
Karya lain, yaitu Man Rabuka juga pernah menarik perhatian ruang publik. Cerpen itu menuai kritik saat diterbitkan Harian Nyata edisi Minggu di Bukittinggi, pada akhir 1957. Man Rabuka dianggap mengejek Islam dan terlalu sensitif untuk dibaca. Penerbit pun terpaksa mengumumkan pencabutan karya tersebut. Tempo, dalam tulisan bertajuk Siapa Tuhanmu: AA Navis dan ‘Man Rabuka edisi 4 September 2016, menuliskan bahwa Majelis Ulama Indonesia juga turut melarang cerpen itu terbit karena masalah agama. Navis, berhasil mendorong banyak pihak untuk terus berpikir persoalan agama.
Indonesia tentu merindukan kehadiran sosok serupa AA Navis. Figur yang bisa menggerakkan publik untuk ikut resah di hadapan masalah-masalah sosial. Kita berharap, peringatan seratus tahun A.A Navis tidak hanya menjadi acara romantisme sejarah. Tapi, menjadi refleksi untuk berusaha menciptakan ekosistem yang support untuk melahirkan tokoh-tokoh intelektual selanjutnya.
Kelahiran kembali sosok-sosok serupa AA Navis bukan tidak mungkin. Hal itu sangat bisa terjadi ketika iklim pendidikan dan budaya mendorong generasi muda untuk memiliki imajinasi, kepekaan, dan daya kritis yang tinggi. Atisah, dalam Antologi Biografi Tiga Puluh Pengarang Sastra Indonesia Modern (2002) menuliskan bahwa faktor yang membentuk biografi Navis adalah literasi yang menghujani tubuhnya sejak usia anak-anak.
Navis menggemari sastra karena di dalam keluarganya selalu berlangganan Majalah Panji Islam dan Majalah Pedoman Masyarakat. Kedua majalah itu memuat berbagai cerita pendek dan cerita bersambung. Navis muda, tidak pernah melewatkan untuk membaca cerpen dan cerbung tersebut. Ayahnya juga mendukung kegemarannya di dunia literasi. Jadi, buku-buku menemani Navis dalam membentuk pandangannya melihat dunia. Masa kecil intelektual dari Sumatera ini, dipenuhi beragam imajinasi dan pengalaman nyata.
Di Indonesia kini, imajinasi anak-anak terancam roboh bahkan mungkin malah tidak tumbuh. Dunia pendidikan dihadapkan pada kebijakan teknologi. Baru-baru ini, Wakil Presiden menitip usulan pada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, agar anak SD mulai diajarkan coding dan kecerdasan buatan atau AI. Sebelumnya, Presiden juga mengimbau anak TK harus mulai diajarkan matematika. Dua hal tersebut membuat kita bertanya-tanya, apakah teknologi dan angka-angka memang sangat sunguh-sungguh diperlukan bagi anak-anak, sebelum mengenalkannya pada pendidikan karakter, imajinasi, dan olah tubuh?
Saya belum mengetahui pasti apa dasar Bapak Wapres dan Presiden mengucapkan hal demikian. Tentu ada alasan dibaliknya. Tapi, barangkali beberapa pengalaman dari negara-negara yang lebih dahulu menguasai teknologi dan angka, bisa dijadikan pertimbangan.
World Happiness Survey yang dilakukan secara berkala oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menampilkan hasil mengejutkan. WHS menempatkan bangsa dari dunia Timur dan Afrika pada posisi teratas dalam skala kebahagiaan. Dunia Barat yang telah mencapai titik kulminasi peradaban, teknologi, dan industri kini justru berusaha melihat kebahagiaan anak melalui sudut pandang pola asuh berbeda, yaitu pola asuh bernuansa lestari dan berkelanjutan.
Muhammad Faisal dan Tara Talitha melalui buku Menggali Pola Asuh bagi Generasi Digital (2024) menuturkan bahwa pola asuh bernuansa lestari merupakan pendidikan yang berusaha mengembalikan interaksi keluarga dengan alam serta meminimalisasi pengaruh digital dan asupan non-organik pada anak. Pola asuh ini telah terbukti mampu mengembalikan mindfulness dari keluarga serta menumbuhkan self-esteem positif pada anak.
Tak berhenti di situ, Neil Gaiman dalam Kenapa Masa Depan Kita Bergantung pada Perpustakaan, Membaca, dan Melamun? (2023) menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Tiongkok, negara berjuta teknologi.
Pada tahun 2007, dalam bukunya itu Gaiman menceritakan pengalamannya menghadiri kongres fiksi ilmiah dan fantasi yang diadakan oleh Cina untuk pertama kalinya dalam sejarah. Rasa penasaran menuntunnya untuk bertanya, apa alasan Cina mengizinkan fiksi ilmiah masuk dalam negara tersebut, saat sebelumnya tidak diizinkan? Ternyata, Cina menyadari rakyatnya ahli dalam membuat sesuatu jika rancangannya sudah tersedia tapi sulit untuk berinovasi dan menciptakan hal yang baru.
Mereka pernah mengirim delegasi ke Amerika untuk meneliti orang-orang di balik Apple, Microsoft, dan Google tentang rahasia dibalik keberhasilan inovasi teknologi di negara tersebut. Ternyata, orang-orang dibalik teknologi raksasa itu, telah membaca fiksi ilmiah sejak masa anak-anak. Kita menjadi mendapatkan informasi bahwa di masa awal pertumbuhan anak, buku, mungkin lebih penting dari pengajaran teknologi.
Di Jepang, anak-anak memang sudah dikenalkan dengan teknologi. Tapi, jangan dilupakan bahwa pendidikan literasi di negeri matahari terbit itu sudah sangat stabil dan lekat menjadi budaya. Belum lagi, disiplin mereka sangat tinggi. Sinergi antara pemerintah, sekolah, dan orang tua dalam pendidikan anak juga sudah terbentuk, seperti yang dikisahkan dalam Amazing Japan (2018) gubahan Weedy Koshino.
Permasalahan yang dikhawatirkan hadir, ketika kebijakan pemerintah terlalu cepat memasukkan teknologi dan angka adalah tumpulnya imajinasi anak-anak, rendahnya daya berpikir kritis, dan kesadaran empati yang minim. Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk melakukan penanaman karakter dan budaya literasi pada diri anak. Kita belum siap melompat ke ruang digital jika tidak dimbangi dengan kedua hal tersebut.
Teknologi memang penting, amat penting. Tapi, yang menjadi keresahan, ketika imajinasi dan karakter anak belum terbangung dengan kokoh, tapi lekas dikenalkan dunia digital, kesadaran mereka akan seperti robot. Orientasi pendidikan akan sangat pragmatis dan materialistis. Jika hal tersebut terjadi, pendidikan kita tak ubahnya seperti masa kolonialisme, hanya bertujuan untuk menciptakan para pekerja. Indonesia, tentu mampu mewujudkan pendidikan melampaui hal-hal tersebut.
Saya tidak bisa membayangkan, jika kini ada sosok Navis cilik yang sedang menikmati dunia imajinasi dan petualangan melalui gerak tubuh, tiba-tiba dipaksa harus lekas berhadapan dengan coding dan angka-angka, mungkinkah ia akan bertahan dengan bacaannya? Saya tidak tahu seberapa urgensinya mengenalkan anak-anak dengan teknologi sejak SD. Apakah teknologi menduduki posisi lebih penting ketimbang literasi?
Editor:


