Tuhan di Pabrik Batik: Haji Misbach dan Iman yang Membakar Zaman

Tuhan di Pabrik Batik: Haji Misbach dan Iman yang Membakar Zaman

Surakarta, awal abad kedua puluh. Di antara lorong Kauman yang sempit, aroma malam bercampur dengan bau lilin dan tinta dari percetakan kecil yang mencetak koran Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Dari ruang-ruang inilah muncul seorang pedagang batik yang kelak masyhur dengan nama Haji Misbach (1876-1926). Ia bukan sekadar juru dakwah, melainkan pelopor gagasan yang mengguncang: menyatukan Islam dan komunisme dalam perjuangan sosial.

Misbach bukan ulama yang hidup di menara gading. Ia hidup di tengah pasar, di antara rakyat kecil yang tercekik sistem kolonial. Ia menulis bukan dari meja teori, tetapi dari luka yang nyata. Ia berbicara dengan bahasa yang membakar hati. Saat sebagian ulama mandam berdebat ihwal bidah dan tahlil, Misbach bertanya hal yang semenjana namun mengguncang: apakah Islam tidak menyeru untuk membela kaum miskin? Dari pertanyaan itu lahir sebuah kesadaran baru. Islam baginya bukan sekadar ajaran untuk disembah, tetapi kekuatan moral untuk melawan ketidakadilan.

Panggung Pergulatan Iman dan Ideologi
Surakarta pada masa itu adalah kota yang terbelah. Di satu sisi berdiri kraton yang masih memegang simbol feodalisme. Di sisi lain, ribuan buruh batik bekerja di bawah tekanan cukai dan upah rendah. Sistem kolonial menanamkan ketimpangan dengan rapi. Para bangsawan pribumi bersekutu dengan penguasa Belanda, sementara rakyat diperas hingga kering keringatnya. Dalam kondisi seperti itu, muncul gelombang kesadaran di kalangan pedagang dan santri yang menamakan diri sebagai gerakan Islam Putihan. Mereka menjadikan agama sebagai benteng moral melawan ketamakan ekonomi kolonial.

Namun, Islam tradisional menghadapi krisis bahasa. Khotbah di mimbar tidak lagi sanggup menandingi kekuatan modal. Doa-doa tidak menghentikan perampasan tanah. Sebagian ulama mulai mencari cara baru untuk melawan ketidakadilan. Misbach menemukan jawabannya dalam komunisme. Ia tidak melihat komunisme sebagai ajaran tanpa Tuhan, tetapi sebagai sistem etika yang menuntut kesetaraan. Bagi Misbach, nilai-nilai seperti zakat, jihad, dan amar makruf nahi mungkar harus diterjemahkan menjadi tindakan sosial yang membebaskan.

Evolusi Intelektual Seorang Kiai Merah
Menurut Syamsul Bakri dalam bukunya Gerakan Komunisme Islam Surakarta 1914-1942 (LKiS, 2015), Haji Misbach lahir dari keluarga pedagang batik. Ia menempuh pendidikan di pondok pesantren, lalu menapaki hidup sebagai pengusaha muda. Pada awal abad ke-20, ia aktif dalam Sarekat Islam, organisasi yang menghimpun para pedagang Muslim untuk melawan dominasi ekonomi kolonial dan pedagang asing. Akan tetapi, ketika Sarekat Islam pecah menjadi dua, Misbach memilih jalan kaum merah, mereka yang berpihak pada buruh dan rakyat kecil.

Ia tidak berhenti di mimbar. Ia menulis. Melalui Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, ia menyampaikan tafsir sosial atas ajaran agama. Ia menolak pandangan bahwa Islam harus diam dari politik. Dalam salah satu tulisannya titimangsa 1926, ia menulis bahwa ilmu komunisme sejatinya selaras dengan perintah Allah Swt. Islam baginya adalah panduan hidup yang menolak segala bentuk penindasan.

Revolusi sosial, dalam pandangan Misbach, bukan sekadar strategi, melainkan bentuk ibadah. Setiap aksi pemogokan adalah doa dalam bentuk lain. Setiap perjuangan melawan ketidakadilan adalah zikir nan hidup. Saat pemerintah kolonial menuduhnya sebagai penghasut dan pemberontak, Misbach menjawab dengan kalimat semenjana yang abadi: jika merah berarti membela kaum miskin, maka Islam pun merah.

Iman dan Ideologi yang Menyatu
Sinkretisme praksis adalah istilah yang paling tepat untuk melukiskan cara berpikir Misbach. Ia memadukan dua sistem nilai yang tampak bertentangan, Islam dan komunisme, menjadi satu gerak sosial. Menurut Syamsul Bakri, gagasan komunisme Islam di Surakarta lahir dari pandangan sinkretis. Identitas seorang komunis menyatu dengan identitas seorang Muslim. Dalam perpaduan itu tidak ada yang saling meniadakan.

Misbach tidak menganggap hal ihwal itu sebagai kompromi intelektual. Baginya, Islam dan komunisme bertemu dalam semangat moral yang sama, yaitu keadilan sosial. Islam menekankan tauhid, kesatuan Tuhan dan kesetaraan manusia di hadapan-Nya. Komunisme menekankan kesetaraan ekonomi. Ketika keduanya bertemu, lahirlah sebuah etika baru: keadilan sebagai bentuk ibadah.

Ia menafsirkan jihad sebagai perjuangan membebaskan kaum tertindas. Ia melihat zakat sebagai mekanisme distribusi kekayaan. Ia memahami ukhuwah sebagai solidaritas antarpekerja. Dalam tulisannya yang berjudul Sociaal Democratie Islam, Misbach menegaskan bahwa Islam sejati adalah demokrasi sosial yang menegakkan prinsip sama rata sama rasa di hadapan Tuhan. Baginya, tidak ada jarak antara spiritualitas dan kehidupan duniawi. Ibadah tanpa keberpihakan pada kaum lemah hanyalah kemunafikan yang halus. Jika kapitalisme merampas hak manusia, maka iman yang diam adalah bentuk lain dari pengkhianatan terhadap Tuhan.

Tauhid & Kesetaraan
Dalam tafsir Misbach, Tuhan bukanlah penguasa jauh di langit yang hanya menuntut sujud dan doa. Tuhan adalah sumber semangat revolusi yang hidup di dalam hati manusia. Dalam salah satu tulisannya, ia menulis bahwa Islam harus membela kaum miskin dan membawa keselamatan bagi dunia dan akhirat.

Tauhid baginya berarti pembebasan manusia dari perbudakan sesama manusia. Kesetaraan sosial bukan tambahan dalam iman, tetapi inti darinya. Kapitalisme baginya bukan hanya sistem ekonomi yang eksploitatif, melainkan bentuk penyembahan terhadap manusia. Jika Allah satu, maka tidak ada manusia yang pantas menundukkan manusia lain.

Dalam semangat itu, Misbach memiliki kedekatan spiritual dengan tokoh-tokoh pembebasan di belahan dunia lain. Seperti Thomas Müntzer di Jerman dan Ali Syari‘ati di Iran, ia membaca kitab suci dengan mata yang menatap penderitaan rakyat. Ali Syari‘ati pernah menulis bahwa Marxisme hanya melahirkan humanisme ekonomi, sedangkan Islam menghadirkan humanisme spiritual. Misbach menghidupkan gagasan itu jauh sebelum Syari‘ati menulisnya. Ia melakukannya di Surakarta, kota batik yang penuh kemiskinan dan ketegangan sosial.

Martir Sebuah Ide
Pemikiran Misbach mengguncang banyak pihak. Kaum ulama konservatif menuduhnya menyesatkan ajaran agama. Pemerintah kolonial menuduhnya penghasut rakyat. Sarekat Islam pun terpecah karena kehadirannya. Namun Misbach tidak bersisurut. Ia menolak tunduk pada pemimpin yang dianggap kompromistis. Ia lebih memilih jalan sunyi.

Pemerintah Belanda akhirnya menangkapnya. Ia dijebloskan ke penjara, lalu dibuang ke Tanah Merah Digul. Di pengasingan itulah ia mengembuskan napas terakhir. Ia mati dalam keterasingan, tetapi gagasannya tetap hidup. Dalam surat-suratnya, ia menulis bahwa agama harus melawan kezaliman. Jika tidak, agama hanya menjadi candu bagi umatnya. Kalimat itu menggema antara ayat-ayat al-Qur’an dan seruan revolusi Karl Marx, dua suara yang berpadu dalam satu keyakinan bahwa keadilan adalah hak suci manusia.

Iman yang Tidak Takut Berpikir
Kiwari, ketika kita membaca jejak Misbach dari jarak waktu yang panjang, kita menemukan keberanian intelektual nan garib. Ia bukan perumus teori besar, tetapi penghidupnya. Ia tidak mengajar dari podium, melainkan dari jalanan, dari seruan para buruh, dari tinta koran yang dicetak di tengah malam.

Sinkretisme yang dibangunnya bukan sinkretisme teologis yang mencampur iman, tetapi sinkretisme praksis yang menyatukan etika spiritual Islam dengan strategi perjuangan sosial. Ia bukan komunis sejati menurut ortodoksi, bukan pula ulama yang nyaman dalam batas madrasah. Ia adalah sosok di antara dua dunia. Ia hidup di tepi yang tidak disukai siapa pun. Namun dari tepi itu, ia melihat dunia lebih jelas.

Jika Islam sering dianggap statis dan dogmatis, Misbach membuktikan bahwa iman bisa bergerak. Ia menunjukkan bahwa agama bukan batu, melainkan air yang mengalir mencari bentuknya sendiri di setiap zaman. Tuhan baginya bukan penguasa yang menakutkan, melainkan sahabat yang berpihak pada yang tertindas.

Pemikiran Haji Misbach menembus waktu. Ia adalah cikal bakal dari apa yang kini disebut Islam kiri, jauh sebelum istilah itu dikenal di Indonesia. Ia menulis dan berjuang untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan pembebasan, bukan sebagai alat kekuasaan.

Dalam konteks hari ini, gagasan Misbach terasa segar. Dunia modern dikuasai oleh pasar, utang, dan algoritma yang menindas dengan wajah lembut. Kapitalisme tidak lagi menggunakan cambuk, melainkan aplikasi dan data. Dalam suasana seperti ini, pemikiran Misbach terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa iman tanpa keberpihakan pada keadilan hanyalah slogan. Komunisme tanpa nilai spiritual hanyalah mesin tanpa jiwa. Syamsul Bakri meneroka bahwa gerakan komunisme Islam di Surakarta bukan penyimpangan, melainkan reaksi terhadap eksploitasi dan kolonialisme. Misbach menjawab tantangan zamannya dengan bahasa zamannya. Ia memadukan iman dan tindakan tanpa takut dicap sesat.

Hari ini, gagasannya hidup dalam pelbagai bentuk. Dalam gerakan pesantren yang membela kaum miskin, dalam diskusi intelektual tentang keadilan ekonomi, bahkan dalam seruan anak muda yang menolak ketimpangan sosial. Misbach mungkin telah tiada, tetapi setiap upaya untuk menyatukan moralitas dan perlawanan adalah gema dari langkahnya.

Haji Merah di Cermin Zaman
Dalam catatan terakhirnya, Misbach menulis bahwa ia tidak menyesal menjadi seorang Muslim yang berdiri di pihak rakyat. Ia mungkin mengingat kembali kota kelahirannya. Suara azan yang berpadu dengan teriakan buruh, bau batik yang baru dicelup, dan langit sore yang merah di atas Surakarta.

Ia wafat jauh dari rumah. Walakin ide-idenya tetap berdenyut di setiap perjuangan keadilan di negeri ini. Setiap kali rakyat menolak ketidakadilan atas nama kemanusiaan, di situ bayangan Misbach hadir. Ia mengajarkan bahwa agama tidak seharusnya menjauh dari dunia. Iman sejati justru hidup di tengah pergulatan manusia.

Di antara ayat dan manifesto, Haji Misbach menemukan jalan yang tak banyak dilalui. Ia menjadikan Islam bukan pelarian dari realitas, melainkan kekuatan untuk mengubahnya. Sejarah mencatatnya bukan sebagai ulama atau komunis, melainkan sebagai manusia yang percaya bahwa Tuhan dan keadilan sosial selalu berjalan berdampingan.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor:
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo