Telepon itu pun ditutup. Iman Nafen mengabarkan hal penting. Suaminya, Nael Barghouti, 67 tahun, memberitahukan tentang kebebasannya. Dia dibebaskan bersama tahanan lainnya sebagai bagian pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel.
Nafen gembira. Penantian panjangnya berakhir. Hampir sebelas tahun mereka hidup terpisahkan jeruji. Mereka berpisah sejak 2014. Ketika itu, Nael ditangkap Israel dan dijebloskan lagi ke penjara.
Penjara adalah rumah lamanya. Nael mendekam di sana sejak 1978. Kala itu dia, bersama saudaranya, Omar dan sepupunya Fakhri -- dituding melakukan pembunuhan serdadu Israel. Dia kemudian ditangkap pada akhir 1977 dan menghabiskan sebagai tahanan selama tiga bulan.
Beberapa bulan kemudian, saat Nael mempersiapkan ujian akhir di sekolah menengah atasnya, tentara Israel datang dan menangkapnya lalu menjebloskan pada penjara. Dia dituding melawan pembunuhan pada tentara Israel.
Hukuman pun jatuh. Dia dijatuhi hukuman 112 tahun penjara.
Nasib baik menghampirinya. Sesuai kesepakatan Wafa al-Ahrar, pada 2011, dia dibebaskan setelah Israel dan Hamas melakukan pertukaran tahanan. Saat bebas, dia sempat kuliah di Universitas Terbuka, untuk mengambil jurusan sejarah.
Peristiwa lainnya, dia menikahi Iman Nafen seorang aktivis yang juga menghabiskan hidupnya di penjara. “Kami hidup bahagia dan saling mencintai,” kata Nafin.
Namun, ternyata Barghouti kembali ditangkap dan dijatuhi hukuman seumur hidup. Pada tanggal 18 Juni 2014, ia ditangkap oleh pasukan Israel. Ia dijatuhi hukuman 30 bulan penjara tetapi tetap berada dalam tahanan Israel melebihi waktu yang dijalaninya.
Tak lama setelah itu, otoritas Israel memberlakukan kembali hukuman seumur hidup sebelumnya, dengan alasan “berkas rahasia”. Pengacaranya mengajukan beberapa banding dan petisi terhadap keputusan tersebut tapi semuanya ditolak.
Hingga akhirnya dibebaskan pekan lalu. Total dia berada di terali besi Israel Selama 44 tahun. Guinnes Book of Record, memasukkannya sebagai tahanan dengan masa penahanan terlama dalam sejarah perjuangan Palestina.
***
Nael Saleh al-Barghouti lahir pada 24 Oktober 1957, di desa Kobar, sebelah utara Ramallah di Tepi Barat. Keluarganya yang beranggotakan lima orang termasuk orang tuanya, kakak laki-lakinya, Omar, dan adik perempuannya, Hanan.
Ayahnya adalah Saleh al-Barghouti, seorang pria baik hati dengan keyakinan agama yang kuat, dan ibunya adalah seorang penyair Palestina terkenal yang dikenal sebagai "Farha" yang berarti "kegembiraan" dalam bahasa Arab.
Mereka hidup dari bertani, sebuah tradisi yang sudah mengakar dalam keluarga mereka. Keseharian mereka itu pula yang membentuk ikatan yang tak terpisahkan dengan tanah mereka, Palestina.
Itulah yang kemudian membuatnya amat benci pada pendudukan Israeal. Perjuangannya itu pula yang membawanya ke penjara – kampung halaman yang sesungguhnya.
Hampir lebih dari separuh hidupnya dihabiskan di sana. Kedua orang tuanya wafat saat dia berada di penjara. Ayahnya meninggal pada Oktober 2004, dan ibunya menyusul setahun kemudian. Dia tidak bisa hadir dalam pemakaman keduanya.
Tapi Penjara juga memberikan kejutan. Di sana dia bertemu dengan putra sulung adik perempuannya. Sama seperti dirinya, Inad, keponakannya itu ditangkap dan dipenjara karena aksinya menentang pendudukan. Siapa nyana mereka bertemu di penjara.
Di balik terali dia dikenal sebagai orang mencintai sejarah. Dia juga tekun mempelajari bahasa Ibrani dan bahasa Inggris.
Di dalam penjara pula dia mengalami transformasi politiknya. Semula, dia merupakan anggota dari Fatah – gerakan nasional kemerdekaan Palestina. Namun dia kemudian beralih pada Hamas, pada 1990-an. Alasannya, Fatah membangun hubungan dengan Israel.
Namun di penjara juga dia menemukan cinta. Saat di penjara, dia menyaksikan laporan televisi Israel tentang penangkapan seorang wanita yang merencanakan penyerangan pada 1987. Dia pun memutuskan untuk melamar Iman Nafi, yang dinikahi pada saat pembebasannya pada 2011.
***
Kamis, 27 Februari 2025 Nael dibebaskan. Namun, dia tak kembali ke Ramalah di Tepi Barat. Nael pergi ke Mesir untuk meneruskan hidupnya yang baru.
Rupanya itulah yang menjadi permintaan pihak Israel. Nael bebas tapi tak boleh lagi berada di Palestina. “Bahwa ia akan dibebaskan dan dideportasi ke luar Palestina,” kata Nafen, sang istri saat beberapa hari sebelum pembebasan Nael.
Sebenarnya, menurut Nafen, suaminya itu tak mau menuruti permintaan dari otoritas Israel itu. “Hingga kemarin (Senin), Nael masih menolak untuk diasingkan, tetapi kemudian ia setuju untuk diasingkan tanpa menentukan tujuan akhirnya,” tambahnya.
Menurut sumber dari Prisoners Club Palestina, komunikasi para tahanan dengan keluarga mereka untuk memberi tahu tentang keputusan pembebasan mereka dilakukan dari kantor intelijen Israel. Boleh jadi, banyak pertimbangan yang membuat Nael bisa menerima persyaratan itu.
Tentu saja ini bukan sinyal dari kekalahannya. Nael, bagaimana tetaplah – seperti yang dikatakan Nafen yakni seorang pejuang Palestina yang memiliki keyakinan bahwa bangsa yang mencari kebebasannya akan menemui kemenangannya.
“Pendudukan tidak akan pernah berhasil menanamkan kekalahan di hati kami. Karena kami memiliki keberanian yang bersandar pada iman pada Tuhan juga dari warisan bangsa yang mencari dan mencapai kebebasan dan martabat mereka,” ujar Nael dalam catatannya di penjara.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor:


