Hanya debu jalan dan puing-puing dari bangunan yang hancur dihantam bom Israel yang terlihat siang itu. Di awal September, di sebuah ruas jalan di kawasan Jabalia, di Gaza utara itu, senyap. Seperti tak ada kehidupan di sana.
"Rumah-rumah di kota saya dulunya penuh dengan mimpi. Sekarang, mereka sudah tidak ada lagi,” kata Youssef Saad pada Reuters.
Dengan sepedanya, seperti hari-hari sebelumnya, dia berkeliling di kawasan itu. Di punggungnya, nemplok sebuah tas kulit berukuran besar berwarna hitam berisi sebuah alat musik, bernama oud. Bunyi oud umum ditemukan dalam musik Timur Tengah. Di sini, kita mengenalnya sebagai alat musik yang kerap dimainkan dalam irama gambus.
Youssef Saad, remaja berusia 15 tahun, mengayuh sepedanya menuju ke berbagai tempat yang mudah didatangi oleh anak-anak yang menghuni kamp-kamp pengungsi. Dengan suaranya yang merdu, dia pun mendendangkan lagu-lagu.
Tak lama kemudian, anak-anak pun berkumpul. Tak hanya mendengar suaranya, lambat laun mereka pun ikut bernyanyi bersama Youssef. Tak tampak kesedihan di wajah mereka. Kadang mereka pun bertepuk mengikuti irama yang dimainkan Youssef dengan oud-nya.
Anak-anak itu sudah hampir setahun terakhir ini berada dalam kedukaan. Mereka yang di antaranya kehilangan orang tua atau keluarganya yang lain hanya menghabiskan waktunya di kamp pengungsian. Sekolah mereka pun sudah tak ada.
"Setiap rumah menyimpan tragedi," kata Youssef. "Beberapa orang kehilangan ibu, yang lain kehilangan ayah, tetangga, atau teman."
Sama dengan mereka, akibat serangan membabi buta pasukan Israel, Youssef pun banyak kehilangan. Rumahnya sudah rata dengan tanah. Akibatnya dia pun terpaksa tinggal di tempat kerabatnya.
Dia juga tidak lagi menuntut ilmu bermusiknya. Konservatorium Musik Nasional Edward Said di dekat Kota Gaza tempat dia belajar, hancur digempur Israel.
Hanya satu yang tidak pernah hancur dari dirinya. Dia ingin terus bermain musik. Tidak hanya sekadar mendendangkan lagu tapi dia juga ingin anak-anak malang itu terhibur.
Youssef mencoba memberi anak-anak itu sedikit kebahagiaan atau cara untuk melupakan situasi sulit untuk sementara.
Youssef tidak sendirian. Di kawasan Gaza yang lain, Saleh Jaber, 16 tahun, yang juga siswa Konservatorium Musik Nasional Edward Said, juga melakukan hal yang sama. Dengan oud juga dia memainkan musik di depan anak-anak di kamp pengungsian.
Seperti juga Youssef, sebelum bom-bom Israel menghujani wilayah Gaza, bermain musik adalah kegiatan yang tidak pernah ditinggalkannya dalam enam tahun terakhir. Hasilnya beberapa kali dalam banyak acara.
Setelah bom Israel berdatangan, semua kesukaannya itu pun terhenti. Berbulan-bulan lamanya dia meninggalkan oud dan alat musik lainnya. Serangan tentara pendudukan Israel merenggut segalanya.
Namun panggilan itu datang. Dia kemudian mengambil oud-nya kembali dan bertekad memberikan kebahagiaan bagi anak-anak yang tinggal di pengungsian. Dengan keahlian yang dimilikinya, dia ingin mereka melupakan penderitaan akibat keganasan serdadu Israel.
“Saya ingin mereka mendengar bunyi yang berbeda selain ledakan bom dan isak tangis,” katanya pada Al Jazeera. “Saya mau mereka mendengar musik. Musik dari negeri mereka sendiri, Palestina.”
Keinginan ini juga dimiliki rekannya, Sama Njim – yang terampil bermain biola dan memiliki suara yang bening. Remaja perempuan ini yang juga murid sekolah musik yang kehilangan waktu untuk berlatih. “Saya khawatir kemampuan saya terganggu,” katanya.
Memiliki tujuan yang sama, mereka pun berkolaborasi. Tujuan mereka pun tercapai. Bunyi oud Jabber dan gesekan bola Njim membuat senyum anak-anak di kamp pengungisan pun terkembang.
Alunan musik dan lagu yang didendangkan Njim rupanya bisa mengusir energi negatif dari anak-anak dan memisahkan dari kehancuran yang mereka rasakan dalam setahun belakangan.
Selain menghibur mereka dengan lagu, Jabber dan Njim juga mengajari anak-anak itu untuk mengenal musik. Selain itu, berbagai lagu pun mereka ajarkan, termasuk lagu kebangsaan Palestina.
“Musik membuatku senang. Musik membuat kesedihan kami menghilang,” kata Hassan Al Halis, bocah pengungsi. “Saat ikut bernyanyi, hari kami sedikit cerah.”
Jabber senang dengan jawaban Hassan itu. Tidak hanya itu, antusiasme Hassan dan teman-temannya telah memberi pemahaman baru baginya. Bila sebelum bom meletus di Gaza, Jabber selalu bermimpi bisa memainkan musik di berbagai gedung pertunjukan. Namun kini dia merasa lebih bahagia dengan tampil di depan anak-anak itu.
Begitu juga yang dirasakan Youssef. Fokusnya, telah bergeser. Bagi dia, menghabiskan hari-harinya di Jabalia, memainkan oud dan bernyanyi untuk anak-anak yang trauma akibat perang, lebih memberikan kebahagiaan.
Meskipun dalam bahaya, baik Youssef dan Jaber, bertekad untuk melanjutkan misinya. "Ini adalah tugas saya untuk mereka. Kami, anak-anak Palestina, berusaha untuk tetap tangguh, bahkan dalam menghadapi genosida," kata Youssef.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Fajar WH


