Arina.id - Khalifah Al-Walid bin Yazid (dikenal juga Al-Walid II) adalah salah satu penguasa Dinasti Umayyah yang paling kontroversial dalam sejarah Islam. Di bawah kekuasaannya, terjadi pergeseran nilai-nilai kepemimpinan yang selama ini dipegang oleh para khalifah pendahulunya. Jika khalifah sebelumnya dikenal dengan kepemimpinan yang kuat dan kecenderungan untuk memperluas wilayah Islam, Al-Walid II justru lebih fokus pada kehidupan mewah, kesenangan pribadi, dan hiburan.
Gaya hidup hedonisnya serta penyalahgunaan kekayaan negara menjadi tanda utama dari masa pemerintahannya yang penuh dengan kemewahan berlebihan. Saking bobrok citra sang khalifah, Ibnu Katsir ─sejarawan Islam klasik─ dalam al-Bidayah wa al-Nihayah sampai melebelinya dengan si fasik yang buruk dan jauh dari rahmat Allah. Berikut adalah kisah kehidupan Al-Walid II selama menjabat sebagai pemimpin Dinasti Umayyah berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah. (Ibnu Katsir, vol. 13, h. 160)
Gaya hidup Al-Walid II sangat kontras dengan prinsip dasar Islam yang menekankan kesederhanaan, kedermawanan, dan pengendalian diri. Salah satu kebiasaannya yang mencolok adalah mengadakan pesta-pesta besar yang melibatkan minuman keras, musik, dan hiburan tanpa memperhatikan norma-norma agama. Hal ini menimbulkan kecaman tidak hanya dari para ulama, tetapi juga dari kalangan istana dan masyarakat umum.
Salah satu contoh nyata dari kebiasaan hedonis Al-Walid II terlihat saat ia melaksanakan ibadah haji pada tahun 116 H. Bukannya menjadikan perjalanan ini sebagai kesempatan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, ia justru membawa serta alat-alat musik dan anjing pemburu. Ia bahkan dikabarkan berencana untuk duduk di atas Ka'bah sambil bersenang-senang bersama para sahabatnya.
Namun, karena takut mendapat reaksi keras dari masyarakat, ia akhirnya mengurungkan niat tersebut. Ini menunjukkan betapa ia memandang enteng ibadah yang sangat dihormati dalam Islam dan lebih mengutamakan kesenangan pribadi.
Al-Walid II juga dikenal sebagai peminum berat dan sering menghabiskan malamnya dengan mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Ia tidak segan menunjukkan perilaku ini di depan umum, yang membuatnya semakin dicerca oleh masyarakat. Dalam sejarah dicatat bahwa ia pernah ditegur oleh pamannya, Hisyam bin Abdul Malik, melalui sepucuk surat. Namun, alih-alih berubah, Al-Walid II justru membalas dengan puisi yang mencerminkan keangkuhannya terhadap ajaran agama:
يا أيها السائل عن ديننا* ديني على دين أبي شاكر
نشربها صرفا وممزوجة * بالسخن أحيانا وبالفاتر
"Wahai orang yang bertanya tentang agama kami,
Agamaku adalah agama ayahku, Syakir.
Kami meminumnya murni dan dicampur,
Kadang panas dan kadang dingin."
Puisi ini menunjukkan sikap sombong Al-Walid II, yang menyiratkan bahwa ia tidak peduli dengan ajaran agama yang mengharamkan minuman keras. Ia malah bangga dengan kebiasaan minum-minum, seolah-olah itu adalah bagian dari identitas dirinya. Kalimat Dini ala dini abi Syakir mengindikasikan bahwa ia mengikuti kebiasaan minum-minum yang dianggap sebagai tradisi keluarganya, bukan ajaran agama Islam yang seharusnya dipegang teguh oleh seorang khalifah.
Penyalahgunaan Kekayaan Negara
Selain memiliki gaya hidup mewah, Al-Walid II juga terkenal dengan kebiasaannya menyalahgunakan kekayaan negara. Kekayaan Baitul Mal (kas negara) yang seharusnya digunakan untuk kemaslahatan umat, malah dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan gaya hidupnya yang boros. Ia kerap mengadakan pesta dan mengundang banyak tamu dari berbagai wilayah untuk menunjukkan kekayaannya.
Misalnya, ia meminta Yusuf bin Umar, salah satu gubernurnya, untuk membawa hadiah-hadiah mewah seperti alat musik, penyanyi wanita, elang, dan kuda berkualitas tinggi saat berkunjung ke istananya. Hal ini jelas menunjukkan bahwa ia lebih tertarik pada kemewahan dan hiburan daripada memikirkan kebutuhan rakyatnya.
Al-Walid II memang dikenal sebagai sosok yang “sangat dermawan”, tetapi bukan dalam arti yang positif. Ia sering membagikan uang dan hadiah kepada para tamu yang datang ke istana hanya untuk mendapatkan dukungan politik. Pemborosan ini mencakup pemberian hadiah berupa emas, parfum, dan perhiasan kepada para pejabat dan tamu istimewa. Tindakan ini tidak berdasarkan rasa kemanusiaan atau niat untuk membantu sesama, melainkan lebih pada upaya untuk mempertahankan kekuasaannya melalui dukungan politik yang dibeli dengan kekayaan negara.
Pemborosan uang negara juga ia lakukan dalam bentuk pembiayaan perjalanan dinas yang terbilang berlebihan. Perjalanan Al-Walid II sering kali diiringi dengan konvoi besar yang membawa berbagai barang mewah. Ketika bepergian ke luar istana, ia tidak hanya membawa rombongan besar, tetapi juga meminta barang-barang mahal seperti parfum, pakaian mewah, dan perhiasan yang diambil dari Baitul Mal. Bahkan dalam perjalanan haji, ia membawa serta alat musik dan barang-barang hiburan yang sangat tidak pantas dibawa dalam ibadah haji.
Instabilitas Politik dan Akhir Tragis Sang Khalifah
Gaya hidup mewah dan boros Al-Walid II tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga menyebabkan ketidakstabilan politik. Banyak pejabat dan gubernur yang merasa tidak puas dengan kebijakannya, terutama karena kekayaan negara yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat malah dihamburkan untuk kesenangan pribadi. Ketidakpuasan ini memicu perlawanan dan pemberontakan dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan keluarga kerajaan sendiri.
Ketidakstabilan politik semakin meningkat ketika Yazid bin Walid, sepupunya, memanfaatkan situasi ini untuk melancarkan kudeta. Yazid berhasil mendapatkan dukungan dari para bangsawan dan komandan militer yang kecewa dengan kepemimpinan Al-Walid II. Diam-diam, Yazid menggalang dukungan dan menguasai Damaskus, yang kemudian menjadi basis operasi untuk menyerang sang khalifah.
Saat mendengar pemberontakan ini, Al-Walid II berusaha membangun pertahanan, tetapi dukungan yang ia miliki semakin menipis. Ia mencoba membujuk para pemberontak dengan menawarkan uang dan wilayah kekuasaan sebagai bentuk negosiasi, namun tawaran ini ditolak mentah-mentah oleh Abdul Aziz, pemimpin pasukan pemberontak.
Dalam situasi terdesak, Al-Walid II berlindung di dalam istana dan mencoba bertahan dengan sisa loyalisnya. Ia bahkan sempat mengungkapkan penyesalannya dan membaca Al-Qur'an, menyamakan keadaannya dengan hari pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, sebagai simbol ketidakadilan yang ia rasakan.
Namun, para pemberontak tidak terpengaruh. Mereka berhasil memasuki istana dan membunuh Al-Walid II secara brutal. Kepala Al-Walid kemudian dipenggal dan dibawa ke Yazid bin Walid yang menyambutnya dengan rasa puas. Kepala tersebut dipamerkan di Damaskus sebagai simbol kekalahan dan kejatuhan sang khalifah. Tindakan ini menuai kritik dari beberapa kalangan yang menganggapnya sebagai bentuk penghinaan terhadap keluarga Bani Umayyah.
Kematian Al-Walid II menandai berakhirnya pemerintahan yang penuh kemewahan dan penyalahgunaan kekuasaan. Tragisnya, kehancurannya justru datang dari dalam keluarganya sendiri, yang tidak tahan dengan kebijakannya yang melenceng jauh dari nilai-nilai agama dan moralitas. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik dalam sejarah Dinasti Umayyah, menunjukkan betapa rentannya kekuasaan yang tidak didasarkan pada legitimasi moral dan agama yang kuat.
***
Khalifah Al-Walid II merupakan contoh nyata dari seorang pemimpin yang gagal dalam memanfaatkan kekuasaan dan kekayaan negara untuk kesejahteraan umat. Gaya hidupnya yang mewah dan hedonis, serta penyalahgunaan kekayaan negara untuk kepentingan pribadi, menyebabkan ketidakpuasan di kalangan rakyat dan pejabat, yang pada akhirnya memicu pemberontakan dan keruntuhan kekuasaannya.
Sejarah Al-Walid II menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kepemimpinan yang adil, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam mengelola kekayaan negara serta menjaga nilai-nilai moral dalam pemerintahan.
Kisah Al-Walid II adalah sebuah pengingat bahwa jabatan dan kekuasaan harus digunakan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi kepada rakyat, bukan untuk memenuhi kesenangan pribadi yang melanggar norma-norma agama dan sosial.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor:


