Inilah Tanda Ibadah Puasa Seseorang Diterima Allah

Inilah Tanda Ibadah Puasa Seseorang Diterima Allah

Arina.id- Bulan Ramadan merupakan momen yang menyimpan berbagai macam ibadah dengan nilai pahala yang sangat tinggi. Mulai dari ibadah puasanya itu sendiri hingga sunnah-sunnah di dalamnya, seperti bertadarus Al-Qur’an, bersedekah, melaksanakan shalat tarawih, dan sebagainya. Berkaitan dengan keistimewaan Ramadan ini, Rasulullah saw pernah bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُباَرَكٌ، شَهْرٌ فِـيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِياَمَهُ فَرِيْضَةً وَ قِياَمَ لَيْلِهِ تَطَـوُّعاً مَنْ تَقَرَّبَ فِـيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ اْلخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِـيْماَ سِوَاهُ وَمَنْ أَدَّى فِـيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِـيْمَا سِواَهُ وَهُوَ شَهْرُ الصَّـبْرِ وَالصَّـبْرُ ثَـوَابُهُ الْجَنَّةُ وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ وَ شَهْرٌ يَزْدَادُ فِـيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِـيْهِ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ وَ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ.

Artinya, "Wahai manusia, telah tiba bulan yang agung lagi mulia. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasanya wajib dan shalat malamnya sebagai amal sunnah. Barangsiapa melakukan satu ibadah sunnah pada bulan ini, maka pahalanya seperti menunaikan satu kewajiban di bulan lainnya. Dan barangsiapa menunaikan satu ibadah wajib pada bulan ini, maka pahalanya seperti menunaikan tujuh puluh kewajiban di bulan lainnya. 

Ini adalah bulan kesabaran. Pahala kesabaran adalah surga. Juga bulan kepedulian, bulan saat rezeki orang mukmin ditambah. Barangsiapa memberi makanan berbuka untuk orang yang berpuasa pada bulan ini, maka dosa-dosanya akan diampuni, terbebas dari api neraka, dan memperoleh pahala seperti pahala orang yang ia beri makanan tadi tanpa mengurangi pahala orang itu sedikitpun.” (HR Ibnu Khuzaimah).

Hadits ini menunjukkan  bahwa Ramadan menyimpan sejumlah ibadah istimewa dengan pahala yang berlipat ganda. Namun, setelah kita mengamalkan ibadah yang beragam itu, adakah pertanda bahwa ibadah kita diterima atau tidak oleh Allah swt? Jawabannya adalah ada, yaitu jika kita bisa menjalani ibadah selama Ramadan dengan konsisten, meskipun bulan mulia ini telah berlalu. Syekh Ibnu Rajab al-Hambali dalam Lahtāiful Ma’ārif menjelaskan,

مَنْ عَمِلَ طَاعَةً مِنَ الطَّاعَاتِ وَفَرِغَ مِنْهَا فَعَلَامَةُ قَبُوْلِهَا أَنْ يَصِلَهَا بِطَاعَةٍ أُخْرَى وَعَلَامَةُ رَدِّهَا أَنْ يَعْقِبَ تِلْكَ الطَاعَةَ بِمَعْصِيَةٍ. مَا أَحْسَنَ اْلحَسَنَةَ بَعْدَ السَّيِّئَةِ تَمْحُوْهَا وَأَحْسَنُ مِنْهَا بَعْدَ الْحَسَنَةِ تَتْلُوْهَا.

Artinya, "Siapa yang melakukan suatu amal ibadah dan telah rampung melaksanakannya, maka tanda diterima amal tersebut adalah diiringi dengan amal ibadah yang lain. Sebaliknya, jika amal ibadah itu tidak diterima oleh Allah ta'ālā, maka amal tersebut diiringi dengan kemaksiatan. Betapa baik amal ibadah yang dilakukan setelah perbuatan maksiat sehingga menghapus dosa maksiat. Lebih baik lagi jika amal ibadah tersebut diikuti ibadah berikutnya." (Al-Hambali, 1997: h. 262)

Paparan Ibnu Rajab al-Hambali ini menjelaskan bahwa tanda atau ciri ibadah kita telah diterima oleh Allah swt adalah kita tetap konsisten menjalankan ibadah tersebut. Ketika seseorang terus melanjutkan kebaikan setelah menyelesaikan suatu amal ibadah, hal itu menunjukkan bahwa Allah memberinya taufik untuk tetap berada dalam ketaatan. Sebaliknya, jika seseorang justru terjerumus dalam maksiat setelah beribadah, maka hal itu menjadi indikasi bahwa ibadahnya belum diterima.

Dalam konteks Ramadan, konsistensi dalam beribadah setelah bulan suci berakhir menjadi indikator utama diterimanya amal ibadah. Jika seseorang tetap menjaga kebiasaan ibadah-ibadahnya selama Ramadan, hal itu menandakan bahwa ibadahnya bukan sekadar rutinitas musiman. Sebaliknya, jika setelah Ramadan seseorang kembali lalai dalam ibadah, maka hal itu menjadi indikasi bahwa amalannya belum benar-benar berbuah dalam dirinya.

Selain itu, kesinambungan ibadah juga menunjukkan adanya perubahan spiritual yang mendalam dalam diri seseorang. Ibadah yang diterima oleh Allah swt akan meninggalkan jejak kebaikan dalam hati dan perilaku pelakunya. Orang yang merasakan manisnya iman selama Ramadan akan berusaha menjaga kualitas ibadahnya di bulan-bulan berikutnya. Dengan demikian, ibadah yang diterima bukan hanya menambah pahala, tetapi juga memperkuat hubungan hamba dengan Tuhannya.

Lebih jauh, Ibnu Rajab menekankan bahwa tanda lain diterimanya ibadah adalah munculnya kesungguhan dalam menjauhi maksiat. Jika setelah Ramadan seseorang tetap menjaga lisannya dari perkataan sia-sia, menghindari perbuatan dosa, dan meningkatkan amal kebajikan, maka itu bukti bahwa Ramadan telah membentuk karakter ketakwaannya. Sebaliknya, jika seseorang segera kembali kepada kebiasaan buruk setelah Ramadan, maka patut dipertanyakan bagaimana nilai ibadah yang telah dilakukannya selama bulan penuh berkah tersebut.

Terakhir, penulis tutup dengan sabda Rasulullah terkait kautamaan konsistensi dalam beribadah:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ.

Artinya, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menekankan pentingnya konsistensi dalam beribadah. Bahkan, ibadah yang sedikit tapi dilakukan dengan konsisten lebih utama dibanding ibadah dengan porsi lebih banyak tapi sebatas musiman alias semangat di awal, tapi redup kemudian. Wallahu a’lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo