Arina.id - Ibadah adalah inti dari kehidupan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah. Tidak hanya sebatas kewajiban, ibadah juga menjadi jalan untuk meraih ketenangan hati dan keberkahan hidup.
Dalam hidup kita, terkadang muncul pertanyaan di fikiran: apakah ibadah harus menunggu ikhlas? atau cukup melakukannya sebagai kewajiban? Apalagi terkadang kita mendengar beberapa ustadz yang menyatakan bahwa ibadah itu harus disertai dengan keihlasan. Katanya, ibadah kalau tidak ikhlas itu percuma.
Mengapa Ibadah Tidak Harus Menunggu Ikhlas?
Dalam Islam, keikhlasan memang adalah merupakan ruh ibadah. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an surat Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ...
Artinya: "Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas, menaati-Nya dengan lurus..."
Namun demikian, keikhlasan adalah proses yang sering kali tidak datang seketika. Dalam perjalanan ini, seseorang dianjurkan tetap melaksanakan ibadah, meski belum sepenuhnya merasa ikhlas. Mengapa? Karena kewajiban adalah prioritas.
Imam Haramain dalam kitab Ushul Fiqih berjudul Al-Waraqat menyebutkan derfinisi wajib sebagai berikut:
فَالْوَاجِبُ: مِنْ حَيْثُ وَصْفُهُ بِالْوُجُوْبِ (مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَ يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ)
Artinya: “Wajib, dilihat dari sudut pandang bagaimana sesuatu itu dinamakan wajib, ialah sesuatu yang berpahala jika dikerjakan dan disiksa jika ditinggalkan”.
Berkaca dari definisi ini, maka ibadah wajib seperti mungucap dua kalimat syahadat, sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya adalah kewajiban yang tidak bisa ditunda. Melaksanakannya adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Kita akan berdosa jika tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Meskipun misalkan kita belum ikhlas, setidaknya secara fiqih kita tidak akan dituntut di akhirat kelak karena telah meninggalkan kewajiban.
Awas Godaan Setan
Syekh Ibnu Abdis Salam dalam kitab Maqashid ar-Ri’ayah menyebutkan bahwa seseorang yang enggan melakukan ibadah dengan alasan takut riya (pamer pada makhluk; kebalikan dari ikhlas) justru ia dianggap sedang berada dalam pengaruh godaan setan:
فصل فِي ترك الْعَمَل مَخَافَة الرِّيَاء: الشَّيْطَان يَدْعُو إِلَى ترك الطَّاعَات فَإِن غَلبه العَبْد وَقصد الطَّاعَة الَّتِي هِيَ أولى من غَيرهَا أخطر لَهُ الرِّيَاء ليفسدها عَلَيْهِ فَإِن لم يطعه أَوْهَمهُ أَنه مراء وَأَن ترك الطَّاعَة بالرياء أولى من فعلهَا مَعَ الرِّيَاء فيدع الْعَمَل خيفة من الرِّيَاء لِأَن الشَّيْطَان أَوْهَمهُ أَن ترك الْعَمَل خيفة الرِّيَاء إخلاص والشيطان كَاذِب فِي إيهامه إِذْ لَيْسَ ترك الْعَمَل خوف الرِّيَاء إخلاص
Artinya: “(Pasal menjelaskan tentang meninggalkan amal karena takut riya') Setan itu mengajak untuk meninggalkan ketaatan. Ketika seorang hamba mengalahkan setan dan bermaksud melakukan ketaatan yang merupakan hal yang paling utama daripada yang lain, maka setan membisikkan riya' pada hamba tersebut, agar bisa merusak terhadap ketaatannya. Ketika hamba tersebut tidak mengikuti pada bisikan setan tersebut, maka setan memberikan prasangka pada dirinya bahwa: " dirinya adalah orang yang riya' dan meninggalkan ketaatan yang disebabkan riya' itu lebih utama daripada melaksanakan ketaatan yang disertai riya'. "(ketika hamba itu mengikuti bisikan setan) maka hamba itu meninggalkan ketaatan itu karena takut riya'. Karena setan telah membisikkan padanya bahwa meninggalkan amal karena riya' itu adalah ikhlas, dan setan adalah pendusta dalam bisikan yang dia ungkapkan. Karena meninggalkan amal karena takut riya' itu bukanlah ikhlas.”
Syekh Ibnu Abdis Salam juga menambahkan agar kita berusaha semampu mungkin menepis seluruh bisikan setan terkait soal ikhlas dan riya ini, terlebih jika kita sedang melaksanakan ibadah yang fardlu:
إِن كَانَ فرضا لزمك أَن تُجَاهِد نَفسك على حسب إمكانك فِي استحضار نَفسك الْكَرَاهَة والإباء وَإِن دخلت فِي الْفَرْض على الْإِخْلَاص فأوهمك أَنَّك مراء فَلَا تصغ إِلَيْهِ وَلَا تلْتَفت عَلَيْهِ لِأَنَّك تحققت الْإِخْلَاص وَشَكَكْت فِي الرِّيَاء وَالْيَقِين لَا يزَال بِالشَّكِّ
Artinya: “Jika amal yang kamu lakukan adalah perkara fardlu, maka tetapkan pada dirimu untuk berusaha dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan untuk menghadirkan kebencian keengganan dalam dirimu (terhadap bisikan setan). Jika kamu sudah masuk pada amal fardlu dengan dasar ikhlas, kemudian setan memberikan persangkaan pada dirimu bahwa " kamu adalah orang yang riya' " maka jangan memperdulikannya dan jangan menggubrisnya. Karena sesungguhnya kamu sudah menyatakan (yakin) ikhlas dan kamu ragu terhadap riya'. Sementara, keyakinan itu tidak dilenyapkan oleh keraguan."
5 Tips Meraih Keihlasan
Pada dasarnya, ikhlas itu adalah sebuah hasil dari proses pelatihan yang panjang. Berikut 5 tips yang bisa kita lakukan untuk meraih keihlasan:
1. Konsisten dalam beribadah
Tidak usah mempedulikan terlebih dahulu apakah kita sudah ikhlas atau belum. Fokus saja beribadah. Justru upaya untuk tetap beribadah di tengah keraguan hati kita apakah sudah ikhlas atau belum merupakan bagian dari keikhlasan itu sendiri yang semakin hari akan semakin tumbuh secara perlahan.
2. Allah Maha Menilai Usaha
Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui niat dan usaha hamba-Nya. Bahkan jika belum sepenuhnya ikhlas, usaha untuk taat sudah bernilai kebaikan.
3. Memperbaiki Niat Secara Perlahan
Awali setiap ibadah dengan niat karena Allah semata. Ingat bahwa tujuan utama ibadah adalah mendekatkan diri kepada-Nya. Proses ini sebaiknya dilakukan secara perlahan saja, tidak usah terburu-buru. Jika hari ini kita beribadah masih dengan sedikit unsur ingin dipuji oleh orang lain, tidak usah mengutuk diri. Latih diri kita dengan konsisten beribadah entah saat dilihat orang lain ataupun tidak.
4. Memahami Makna Ibadah
Ketika kita berupaya memahami makna di balik ibadah, maka hati akan lebih mudah tergerak untuk melakukannya dengan tulus.
5. Berdoa Meminta Keikhlasan
Mintalah kepada Allah agar diberi hati yang ikhlas dalam setiap langkah ketaatan.
Secara umum, bisa disimpulkan bahwa Ibadah tidak perlu menunggu ikhlas. Lakukanlah sebagai bentuk ketaatan dan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah. Keikhlasan adalah proses yang perlu waktu dan kesungguhan, dan Allah selalu melihat usaha setiap hamba-Nya. Wallahu a’lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


