Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar: Menepis Kecintaan Berlebihan

Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar: Menepis Kecintaan Berlebihan

Melanjutkan Ngaji kitab Ihya Ulumiddin edisi 404, Gus Ulil Abshar Abdalla, mengulas pemikiran Imam Al-Ghazali dari kitab Ihya' Ulum al-Din, jilid VI, halaman 149, (Darul Minhaj). Gus Ulil mempreteli dengan teliti ramuan manjur atas penyakit yang terlalu cinta terhadap duniawi [شديد الاضطراب الأجل المستقبل]. Pasalnya, kata Gus Ulil, penyakit cinta dunia, rakus, dan kemaruk akan harta benda merupakan salah satu bentuk penyakit hati yang dapat merusak jiwa manusia. 

Dalam ajaran Islam, kondisi ini dipandang sebagai penyakit yang berbahaya karena bisa menutup pintu hati manusia dari kebenaran, dan mengalihkan perhatiannya dari tujuan hidup yang sebenarnya. Menurut Gus Ulil, Imam Ghazali telah memberikan lima resep bagi orang yang gila dunia dan rakus terhadap harta. 

Obat ini, kata Gus Ulil, diformulasikan untuk membantu manusia melepaskan diri dari cengkeraman kecintaan berlebihan terhadap dunia, sekaligus mengembalikan induk kepada kebahagiaan sejati yang hanya bisa dicapai dengan kedekatan kepada Allah. 

Salah satu obat mujarab itu adalah hidup sederhana dan secukupnya [قناعة]. Obat pertama yang dianjurkan oleh Imam Ghazali adalah hidup secukupnya saja, tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan duniawi.  “Obat pertama agar tidak tamak dan rakus akan duniawi adalah hidup dengan secukupnya saja, tidak berlebihan. Itu obatnya,” katanya, sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Minggu, (28/9/2024).

Menurut Gus Ulil, prinsip hidup sederhana, dalam pengertian dunia hanya sementara, dan kebahagiaan yang hakiki tidak terletak pada seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi pada bagaimana seseorang memanfaatkannya. Gaya hidup sederhana melatih jiwa untuk merasa cukup dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Dengan hidup secukupnya, seseorang akan lebih mudah melepaskan diri dari sifat tamak yang berbahaya bagi kedamaian batin.

Selanjutnya, obat agar tidak rakus dan tamak akan duniawi adalah menghindari kecemasan berlebih tentang masa depan (شديد الاضطراب الأجل المستقبل). Dalam pengajian tersebut, Gus Ulil menjelaskan bahwa salah satu sumber kesengsaraan manusia modern adalah kegelisahan terhadap hal-hal yang belum terjadi.

Manusia kerap kali terlalu terobsesi merancang masa depan mereka, sehingga lupa bahwa tidak ada satu pun yang dapat memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Kecemasan ini kemudian memicu kerakusan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin harta sebagai jaminan keamanan. 

Imam Ghazali mengajarkan bahwa jika kebutuhan saat ini sudah tercukupi, tidak perlu merisaukan apa yang belum terjadi. Hal ini bukan berarti seseorang tidak perlu merencanakan masa depan, tetapi harus ada keseimbangan antara usaha (ikhtiar) dan penyerahan diri (tawakal) kepada Allah. Simak penjelasan Imam Ghazali berikut; 


الثاني : الله إذا تبشر له في الحال ما يكفيه، فلا ينبغي أن يكون شديد الاضطراب الأجل المستقبل : ويعينه على ذلك نصر الأمل ، والتحقق بأن الروق الذي قدر له لا بد وأن يأتيه وإن لم يشتد حرصه ، وأن شدة الحرمي لين هي السبب الوصول الأرزاق ، بل ينبغي أن يكون واثقا بوعد الله تعالى :
إذ قال عز وجل : وما من داكتوفي الأرض إلا على الله رزقها وذلك لأن الشيطان
بعدة الفقر ويأمره بالفحشاء 

"Kedua: Sesungguhnya Allah, jika Dia telah memberikan kabar gembira kepada seseorang dengan sesuatu yang mencukupi kebutuhannya saat ini, maka seharusnya orang tersebut tidak perlu terlalu gelisah tentang masa depan. Hal ini bisa dibantu dengan adanya rasa optimisme dan keyakinan bahwa rezeki yang telah ditentukan baginya pasti akan datang, meskipun tanpa ambisi yang berlebihan. Bahkan, terlalu berhasrat justru menjadi penyebab tertutupnya jalan rezeki. 

Sebaliknya, hendaklah ia selalu percaya pada janji Allah Ta'ala, sebagaimana firman-Nya: “Dan tidak ada suatu makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan rezekinya dijamin oleh Allah.” (QS. Hud: 6).  Ini karena setan selalu menakut-nakuti dengan kemiskinan dan menyuruhnya berbuat kejahatan (kikir dan berbuat dosa). (Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin, Jilid VI, (Jeddah: Darul Minhaj, 2011) halaman 149).  

Lebih jauh, dalam pandangan Gus Ulil, manusia modern, dengan segala pencapaian teknologi dan ilmiahnya, memiliki salah satu karakteristik yang menonjol: obsesi merancang masa depan. Manusia modern cenderung terlalu fokus pada apa yang akan terjadi, bagaimana kehidupan akan berlangsung esok hari, minggu depan, atau bahkan dalam sepuluh tahun mendatang. Obsesi ini tercermin dalam segala aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, karier, hingga kehidupan sosial. Semua dirancang sedemikian rupa agar masa depan terlihat jelas, terstruktur, dan sebisa mungkin, dapat diatur.

Sejatinya, merancang masa depan bukanlah sesuatu yang keliru. Justru, perencanaan adalah wujud tanggung jawab manusia atas kehidupannya. Akan tetapi, masalah muncul ketika perencanaan ini berubah menjadi obsesi yang tak terkontrol. Manusia modern sering kali terjebak dalam kecemasan yang mendalam dan kesengsaraan mental karena terus-menerus khawatir apakah rencana mereka akan berhasil.

“Ciri khas manusia modern, terlalu terobsesi dengan masa depan. Terobsesi untuk merancang masa depannya. Ini bukan berarti kita tidak perlu merancang masa depan, ya bukan begitu, merancang masa depan itu perlu,” tambah Ketua PBNU.  

Gejala ketakutan akan masa depan, lanjut Gus Ulil, pada akhirnya berimbas pada hilangnya ruang bagi tawakal di hati kaum Muslimin. Padahal, tawakal merupakan sebuah konsep penting dalam Islam. Tawakal yang berarti pasrah diri kepada kehendak Allah Swt, setelah melakukan ikhtiar [usaha]. Manusia memang harus berusaha dan merencanakan sesuatu dengan matang, namun hasil akhirnya tetap berada di luar jangkauan kendali manusia. 

Konsep inilah, yang kata Gus Ulil, sulit diterima oleh manusia modern yang cenderung mengedepankan nalar dan kalkulasi logis. Tawakal tidak dapat diukur dengan rumus atau dipetakan dalam strategi-strategi perencanaan. Ia adalah ruang batin yang melampaui logika, sesuatu yang harus diterima dengan penuh keikhlasan, bukan dikalkulasi secara rasional. “Nah sayangnya tawakal tidak masuk dalam algoritma manusia modern. Sebab, pada dasarnya, manusia tidak suka dengan ketidakpastian, tidak suka dengan antah-berantah,” tuturnya.

Tawakal, meskipun tidak rasional dalam pandangan modern, sebenarnya bisa menjadi jawaban atas krisis batin manusia.

“Sejatinya, tawakal mengandung nilai yang sangat baik, tentang ada saatnya untuk melepaskan dan menerima; tidak semua hal berada dalam kendali kita. Ini bukan berarti menyerah dan pasrah tanpa usaha, melainkan memberikan ruang bagi ketidakpastian sambil tetap melakukan yang terbaik.” 

Abu Thalib Al-Makki dalam kitab Qutul Qulub, Jilid II, halaman 3 menjelaskan tentang keutamaan orang-orang yang tawakal. Pada hakikatnya, tawakal adalah salah satu tingkatan tertinggi dan ciri khas orang-orang yang dekat dengan Allah. Sebab, orang yang yang tawakal, menyerahkan hidup dan penghidupannya kepada Allah, sang Maha pemberi rezeki dan Kehidupan. Inilah puncak keimanan tertinggi seorang yang mengaku percaya pada Allah. 

Simak penjelasan Abu Thalib Al-Makki berikut; 

التوكّل من أعلى مقامات اليقين وأشرف أحوال المقرّبين قال الله الحق المبين: (إن الله يحبّ المتوكلين) آل عمران ١٥٩فجعل المتوكل حبيبه وألقى عليه محبّته وقال الله عزّ وجلّ: (وَعَلَى الله فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ) إبراهيم ١٢يرفع المتوكلين إليه وجعل مزيدهم منه، وقال جلت قدرته: (ومن يتوكل على الله فهو حسبه) الطلاق: ٣ أي كافيه مما سواه فمن كان الله تعالى كافيه فهو شافيه ومعافيه ولا يسأل عمّا هو فيه، فقد صار المتوكل على الله تعالى من عباد الرحمن الذين أضافهم إلى وصف الرحمة، ومن عباد التخصيص الذين ضمن لهم الكفاية،

"Tawakkal merupakan salah satu tingkatan tertinggi dari keyakinan dan keadaan mulia dari orang-orang yang dekat dengan Allah. Allah yang Maha Benar lagi Maha Menjelaskan berfirman: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (Surah Ali Imran: 159). Maka Allah menjadikan orang yang bertawakal sebagai kekasih-Nya dan melimpahkan cinta kepadanya.

Allah Azza wa Jalla juga berfirman: “Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.” (Surah Ibrahim: 12). Allah mengangkat derajat orang-orang yang bertawakal dan menjadikan mereka dekat dengan Allah.  Dia juga berfirman: “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” (Surah At-Talaq: 3). Ini berarti Allah akan mencukupinya dari segala sesuatu selain-Nya. Maka, barang siapa yang Allah mencukupinya, Dialah yang menyembuhkannya dan melindunginya, sehingga ia tidak perlu bertanya tentang apa yang sedang ia alami. Orang yang bertawakal kepada Allah menjadi bagian dari hamba-hamba Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), yang Allah kaitkan dengan sifat Rahmat, serta dari hamba-hamba pilihan yang Allah jamin kecukupannya. ( Abu Thalib Al-Makki, Qutul Qulub, (Darul Kutub llmiyah 2005), Jilid II, halaman 3).

Sebagai manusia, ada satu kenyataan yang tak bisa dipungkiri: manusia tidak mampu mengendalikan seluruh aspek masa depan. Seyogianya ada ruang yang disediakan untuk berserah diri pada Allah. Konsep inilah yang menjadi salah satu inti dari ajaran agama, khususnya dalam Islam, yaitu pentingnya keseimbangan antara ikhtiar (usaha) dan tawakal (berserah diri). 

Ikhtiar mendorong manusia untuk bekerja, berusaha, dan memanfaatkan kemampuan serta potensi yang dimilikinya dengan sebaik mungkin. Namun, setelah semua upaya tersebut dilakukan, sikap tawakal harus hadir sebagai bentuk penyerahan kepada Allah. “Kalau manusia sudah punya kecukupan untuk memenuhi saat ini, tidak usah terfiksasi, terkungkung, mencurahkan kemampuan untuk mengontrol masa depan,” tutupnya.


 


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo