Kisah Layla Majnun (1): Pergi Haji Berbekal Cinta

Kisah Layla Majnun (1): Pergi Haji Berbekal Cinta

Arina.id - Layla Majnun, adalah kisah romansa Arab yang sangat legendaris, dibicarakan oleh para pakar sastra dari masa ke masa. Syair-syairnya menjadi bahan kajian para mahasiswa Sastra dan Humaniora di bilik-bilik kampus. Kisahnya menginspirasi banyak karya sastra cinta setelahnya dan menjadi sumber primer kisah cinta yang penuh dengan pengorbanan dan air mata.

Masyarakat Indonesia yang penikmat novel percintaan mengenal kisah ini dengan judul “Layla Majnun”, sebab mereka membaca kisah ini dari judul karya tulis Nizami Ganjavi (w. 599 H) dengan judul “Layla wa Majnun”. Sedangkan literatur sastra Arab menyebutnya dengan “Majnun Layla” sebab kisah ini menceritakan syair-syair pria yang “gila” akan cinta kepada seorang Layla.

Abu al-Farj Ali bin Husain al-Isfahani (w. 356 H) dalam Kitabu Al-Aghani [Beirut: Dar Shadir, 2008, vol. 2, hal. 5.] menyebutkan bahwa nama asli Majnun Layla adalah Qays bin al-Mulawwah bin Muzahim bin Udas bin Rabi’ah bin Ja’dah bin Ka’ab bin Rabi’ah bin Amir Sha’sha’ah. Sedangkan nama lengkap Layla adalah Layla binta Mahdi bin Sa’ad bin Mahdi bin Rabi’ah bin Harisy bin Ka’ab bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah. Keduanya merupakan keluarga besar Bani Amir.

Kisah Majnun Layla diperkirakan terjadi pada era kepemimpinan Khalifah Marwan bin Hakam (w. 65 H) yakni era awal dinasti Umawiyah, sebagaimana catatan Abdus Sattar Ahmad Faraj (w. 1980 M) dalam Diwanu Majnuni Layla [Mesir: Maktabah Mishr, hal. 18]. Faraj menguatkan argmentasinya dengan mengutip Yusuf bin Taghzi (w. 874 H) dalam al-Nujum al-Zahirah fi Muluki Mishr wal Qahirah bahwa Majnun Layla meninggal dunia diperkirakan antara tahun 65 dan 68 Hijriyah.

Dalam catatan Abdus Sattar Faraj [hal. 14], dikisahkan bahwa banyak pria yang ingin melamar Layla setelah kisah cintanya dengan Qays viral dibicarakan oleh masyarakat. Akan tetapi ayahnya menolak. Kemudian datang seorang pria bernama Warad bin Muhammad al-Uqayli untuk melamar Layla, bersama itu juga Qays dan ayahnya datang melamarnya.

Keluarga Layla menyerahkan keputusan kepadanya untuk memilih lamaran siapa yang dia terima. Akan tetapi sebelum menjawab pilihan itu, Layla diintimidasi oleh keluarganya untuk memilih Warad daripada Qays, sehingga dia terpaksa menerima lamaran Warad mengalahkan cintanya kepada Qays.

Dalam catatan Abul Faraj al-Isfahani [hal. 12] dikisahkan bahwa Qays dan ayahnya melamar Layla dengan membawa 50 unta berwarna merah. Sedangkan Warad membawa 10 unta beserta gembalanya. 

Qays melantunkan syair ketika Layla sedang akan menentukan pilihannya saat setelah dia diintimidasi oleh ayahnya. Berikut syairnya:

أَلا يا لَيلُ إِن مُلِّكتِ فينا ... خِيارَكِ فَاِنظُري لِمَنِ الخِيارُ

Wahai Layla jika engkau memberikan hak kehendakmu untuk kami, maka berbuat baiklah kepada pilihanmu

وَلا تَستَبدِلي مِنّي دَنِيّاً ... وَلا بَرَماً إِذا حُبَّ القَتارُ

Janganlah gantikan aku dengan orang rendahan nan jahat, yang tidak peduli kecuali hanya urusan libido yang sepintas. 

يُهَروِلُ في الصَغيرِ إِذا رَآهُ ... وَتُعجِزُهُ مُلِمّاتٌ كِبارُ

Bergegas terhadap urusan receh untuk menunjukkan kemampuannya, ketika urusan yang besar tidak dia perhatikan dan tidak dia hadapi.

فَمِثلُ تَأَيُّمٍ مِنهُ نِكاحٌ ... وَمِثلُ تَمَوُّلٍ مِنهُ اِفتِقارُ

Maka pernikahan dengannya bagaikan menjadikan janda, dan memperkaya diri darinya bagaikan menjadi fakir.

Setelah kejadian itu, Qays mengalami depresi berat hingga banyak orang menyarankan kepada ayahnya untuk mengajaknya pergi berhaji. Hal ini agar Qays bisa sembuh dari depresi beratnya dan terbebas dari belenggu cintanya kepada Layla dengan berdoa menggantungkan diri di tirai-tirai Ka’bah.

Abu Bakar al-Wabili, salah satu narator primer kisah Majnun Layla yang diperkirakan hidup di awal abad ke-3 Hijriyah dalam Diwanu Qays bin al-Mulawwah Majnuni Layla, dalam analisis Yusri Abdul Ghani [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1999, hal. 31] menyebutkan bahwa keduanya berangkat ke Makkah untuk berhaji dengan menunggangi unta.

Ketika keduanya sampai di Makkah, ayah Qays berkata: “Hai Qays !, bergantunglah di tirai-tirai Ka’bah, dan ucapkanlah Ya Allah, istirahatkanlah aku dari Layla dan cintanya”. Maka Qays melakukannya, akan tetapi dia berdoa dengan doanya sendiri, dia berkata “Ya Allah, anugerahkanlah aku Layla dan cintanya”. 

Mendengar hal itu, ayahnya langsung memukulnya, dan dia melantunkan syair berikut:

يا رَبِّ إِنَّكَ ذو مَنٍّ وَمَغفِرَةٍ ... بَيِّت بِعافِيَةٍ لَيلَ المُحِبّينا

Wahai Tuhanku, sungguh engkau adalah dzat yang mempunyai anugerah dan ampunan, lindungilah dengan kesehatan malam para pencinta

الذاكِرينَ الهَوى مِن بَعدِما رَقَدوا ... الساقِطينَ عَلى الأَيدي المُكِبّينا

Mereka yang berdzikir dengan cinta setelah bangun tidur, orang-orang yang jatuh tertunduk dan tersungkur di tanah

يا رَبُّ لا تَسلُبَنّي حُبَّها أَبَداً ... وَيَرحَمُ اللَهُ عَبداً قالَ آمينا 

Wahai Tuhanku, aku mohon jangan bredel cintaku kepadanya selamanya, maka Allah akan merahmati hamba yang mengucapkan Aamiin. 

Yusuf Farahat dalam Diwan Majnun Layla [Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 2008, hal. 33] mencatat syair lainnya yang disenandungkan Qays ketika memasuki Kota Makkah. Berikut syairnya:

ذَكَرتُكِ حَيثُ اِستَأمَنَ الوَحشُ وَاِلتَقَت ... رِفاقٌ مِنَ الآفاقِ شَتّى شُعوبُها

Aku menyebutmu di tempat di mana hewan buas merasa nyawanya aman, dan di mana banyak robongan dari penjuru dunia berkumpul.

وَعِندَ الحَطيمِ قَد ذَكَرتُكِ ذِكرَةً ... أَرى أَنَّ نَفسي سَوفَ يَأتيكَ حوبُها

Aku telah menyebutmu ketika berada di Hathim (salah satu bagian dari Masjidil Haram), aku menduga berita tentang diriku yang bersedih akan sampai kepadamu.

دَعا المُحرِمونَ اللَهَ يَستَغفِرونَهُ ... بِمَكَّةَ شُعثاً كَي تُمَحّى ذُنوبُها

Orang-orang berihram berdoa kepada Allah dan meminta ampunan-Nya di kota Makkah dengan rambut yang tidak rapih

وَنادَيتُ يا رَحمَنُ أَوَّلُ سُؤلَتي ... لِنَفسِيَ لَيلى ثُمَّ أَنتَ حَسيبُها

Aku berdoa Wahai Dzat yang Maha mengasihi, permintaan pertamaku adalah dekatkanlah diriku kepada Layla, sedangkan Engkau adalah Dzat yang memenuhinya.

وَإِن أُعطَ لَيلى في حَياتِيَ لَم يَتُب ... إِلى اللَهِ عَبدٌ تَوبَةً لا أَتوبُها

Jika aku diberi Layla dalam hidupku, maka tidak ada hamba yang bertobat kepada Allah sebagaimana taubatku kepada-Nya.

يَقَرُّ بِعَيني قُربُها وَيُزيدُني ... بِها عَجَباً مَن كانَ عِندي يَعيبُها

Kedua mataku tenang ketika melihatnya didekatku, orang yang mencelanya di hadapanku membuatku semakin takjub dan tergantung kepadanya

وَكَم قائِلٍ قَد قالَ تُب فَعَصَيتُهُ ... وَتِلكَ لَعَمري خَلَّةٌ لا أُصيبُها

Berapa banyak orang berkata tobatlah dari mencintainya, namun aku menentangnya. Demi hidupku, tobat itu adalah kebaikan yang tidak bisa aku gapai.

وَما هَجَرَتكِ النَفسُ يا لَيلَ أَنَّها ... قَلَتكِ وَلَكِن قَلَّ مِنكِ نَصيبُها

Diri ini tidaklah meninggalkan kebencian kepadamu wahai Layla, hanya saja ada sebagian kecil darinya untukmu

فَيا نَفسُ صَبراً لَستِ وَاللَهِ فَاِعلَمي ... بِأَوَّلِ نَفسٍ غابَ عَنها حَبيبُها

Wahai diriku bersabarlah atas perpisahan ini, demi Allah, ketahuilah bahwa engkau bukanlah jiwa pertama yang kehilangan kekasihnya. 


Editor:
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo