Arina.id - Dalam menjalani kehidupan rumah tangga biasanya dibumbui dengan ujian yang sulit untuk dihindari. Salah satu ujian yang kerap mendatangi pasangan suami istri adalah kondisi ekonomi yang serba kekurangan. Kondisi ini menjadi tantangan yang bisa menguji kesabaran, keteguhan hati, serta kesetiaan di antara keduanya.
Bagi pasangan suami istri yang berhasil menghadapi ujian ini biasanya akan berakhir dengan bahagia. Salah satu contohnya dialami oleh keluarga yang miskin dan dikisahkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk, (Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah, 1409 H: hal. 124-125)
Dikisahkan Al-Ghazali, ada seorang lelaki saleh yang mempunyai istri taat beragama, bijaksana, dan tegas. Allah kemudian memerintahkan kepada nabi di zaman itu untuk menyampaikan pesan bahwa Allah akan menakdirkan lelaki tersebut hidup dalam keadaan kaya dan miskin.
Dua keadaan ini akan diberikan selama setengah dari usia kehidupannya. Jika lelaki ini memilih kaya di usia muda maka dia akan hidup miskin di usia tua. Sebaliknya, jika lelaki ini memilih miskin di usia muda maka dia akan hidup kaya di usia tuanya.
Pilihan ini pun langsung disampaikan kepada lelaki saleh tersebut. Karena tidak mau mengambil keputusan sendirian, dia pun kemudian berdiskusi dengan istrinya.
“Bagaimana menurutmu?” tanya lelaki saleh pada istrinya.
“Keputusan ada di tanganmu,” jawab istrinya.
Awalnya, lelaki saleh tersebut akan memilih pilihan pertama. Dia berpendapat bahwa saat masih muda, kondisi mereka masih cukup prima sehingga mampu bersabar dan kuat menjalani hidup dalam kemiskinan. Nanti, ketika usia mereka sudah tua dan mendapatkan kekayaan, mereka dapat lebih fokus beribadah kepada Tuhan karena semua kebutuhan sudah tersedia.
“Wahai suamiku, jika di masa muda kita hidup dalam kesulitan, rasanya berat bagi kita untuk menunaikan ketaatan kepada Allah, juga sulit bagi kita untuk berbuat kebajikan dan bersedekah,” kata sang istri mengingatkan suaminya.
Tidak lama kemudian, istrinya mengusulkan agar suaminya memilih kekayaan di masa muda, dengan begitu mereka tidak harus menunggu tua dalam melaksanakan ibadah dan sedekah.
“Menurutku, sebaiknya kamu memilih kekayaan di masa muda. Dengan begitu, tidak lama lagi kita bisa beribadah kepada Allah dengan jiwa dan harta kita,” ujar istrinya.
“Pendapatmu benar wahai istriku, kita akan memilih kaya di masa muda,” tegas sang suami.
Setelah lelaki saleh ini memilih kaya di usia muda dengan niat untuk beribadah dan sedekah, Allah kemudian menyampaikan wahyu kepada Nabi di zaman itu bahwa lelaki saleh itu akan mendapatkan kekayaan di seluruh hidupnya. Allah memerintahkan agar pesan ini disampaikan kepada pasangan suami istri itu:
“Jika kamu lebih memilih untuk menaati Kami, memaksimalkan diri dalam beribadah kepada Kami, serta menyatukan niatmu dan niat istrimu untuk selalu menaati Kami, maka Aku telah menetapkan seluruh usia hidupmu dalam keadaan kaya. Hendaklah kamu dan istrimu senantiasa beribadah kepada-Ku, dan apa pun yang Aku rezekikan kepada kalian, bersedekahlah kepada makhluk-Ku agar kalian mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat,”
***
Kisah ini mengingatkan umat Islam bahwa memiliki istri salehah merupakan suatu keberuntungan bagi seorang suami. Melalui istri salehah, Allah menurunkan berbagai keberkahan untuk keluarga, baik berupa rezeki, ketenangan, maupun petunjuk dalam mengambil keputusan. Keberadaan istri yang salehah tidak hanya menjadi penyejuk hati suami tetapi juga menjadi sumber kebaikan dalam bahtera rumah tangga. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Al-Ghazali di akhir kisah ini.
Kisah ini juga mengajarkan kepada pasangan suami-istri agar senantiasa berdiskusi dan bermusyawarah dalam mengambil sebuah keputusan. Dalam kisah ini, suami melibatkan istrinya untuk memutuskan sebuah pilihan sehingga keduanya mendapatkan solusi terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga yang harmonis dibangun atas dasar kerja sama, saling menghargai, dan mengutamakan ridha Allah di atas segalanya.
Selain itu, kisah ini juga menegaskan bahwa kekayaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk meningkatkan ketakwaan. Allah memberikan kelapangan rezeki kepada pasangan dalam kisah ini karena niat mereka yang tulus untuk beribadah dan bersedekah, bukan sekadar untuk memuaskan keinginan duniawi.
Editor:


