Arina.id - Idul Fitri sering kali dipahami sebagai momen kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Tradisi seperti mengenakan pakaian baru, menikmati hidangan khas, dan bersilaturahim dengan keluarga menjadi bagian dari perayaan yang dinantikan. Namun, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq mengingatkan bahwa hakikat Idul Fitri bukan sekadar kesenangan lahiriah, tetapi lebih kepada pencapaian spiritual yang lebih mendalam dan bermakna.
Menurut beliau, Idul Fitri sejati adalah ketika seseorang mendapatkan tanda diterimanya amal ibadah, dosanya diampuni, serta keburukan dalam dirinya tergantikan dengan kebaikan. Kebahagiaan yang hakiki bukan berasal dari kesenangan duniawi, tetapi dari cahaya iman yang memenuhi hati dan keyakinan yang semakin kuat. Dengan pemahaman ini, Idul Fitri menjadi simbol penyucian diri dan peningkatan kualitas keimanan bagi setiap Muslim.
Syekh Abdul Qadir Al-Jjilani dalam Al-Ghunyah menyampaikan:
لَيْسَ الْعِيدُ بِلُبْسِ النَّاعِمَاتِ وَأَكْلِ الطَّيِّبَاتِ وَمُعَانَقَةِ الْمُسْتَحْسَنَاتِ وَالتَّمَتُّعِ بِاللَّذَّاتِ وَالشَّهَوَاتِ. لَكِنَّ الْعِيدَ بِظُهُورِهِ عَلَامَةَ الْقَبُولِ لِلطَّاعَاتِ، وَتَكْفِيرِ الذُّنُوبِ وَالْخَطِيئَاتِ، وَتَبْدِيلِ السَّيِّئَاتِ بِالْحَسَنَاتِ، وَالْبِشَارَةِ بِارْتِفَاعِ الدَّرَجَاتِ، وَالْخَلْعِ وَالطَّرَفِ وَالْهِبَاتِ وَالْكَرَامَاتِ، وَانْشِرَاحِ الصَّدْرِ بِنُورِ الْإِيمَانِ، وَسُكُونِ الْقَلْبِ بِقُوَّةِ الْيَقِينِ وَمَا ظَهَرَ عَلَيْهِ مِنَ الْعَلَامَاتِ، وَانْفِجَارِ بُحُورِ الْعُلُومِ مِنَ الْقُلُوبِ عَلَى الْأَلْسِنَةِ وَأَنْوَاعِ الْحِكَمِ وَالْفَصَاحَةِ وَالْبَلَاغَةِ.
Artinya, “Hari raya bukan sekadar mengenakan pakaian mewah, menikmati hidangan lezat, berpelukan dengan orang-orang terkasih, atau bersenang-senang dengan berbagai kenikmatan duniawi.
Namun, hari raya yang sesungguhnya adalah ketika tanda diterimanya ibadah mulai tampak, dosa-dosa diampuni, kesalahan dihapus, dan keburukan digantikan dengan kebaikan. Hari raya adalah saat seseorang mendapat kabar gembira berupa kenaikan derajat, limpahan karunia dan kemuliaan, serta kebahagiaan hati yang terpancar dari cahaya iman dan ketenangan batin yang lahir dari keyakinan yang kuat. Selain itu, hari raya sejati juga ditandai dengan munculnya hikmah, kefasihan berbicara, serta limpahan ilmu yang mengalir dari hati ke lisan.” (Al-Jilani, tanpa tahun: juz 2, h. 34)
Berkaitan dengan hal ini, Syekh Abdul Qadir menyampaikan sebuah riwayat kisah menarik tentang nasihat Sayyidina Ali kepada seorang laki-laki yang merasa tidak bisa mendapatkan momen spesial Idul Fitri karena hidup berkekurangan pada hari tersebut. Berikut riwayatnya:
قِيلَ: إِنَّ رَجُلًا دَخَلَ عَلَى عَلِيٍّ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- وَكَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ فِي يَوْمِ عِيدٍ وَهُوَ يَأْكُلُ الْخُبْزَ الْخَشْكَارَ، فَقَالَ لَهُ: الْيَوْمَ يَوْمُ الْعِيدِ وَأَنْتَ تَأْكُلُ الْخُبْزَ الْخَشْكَارَ؟ فَقَالَ: الْيَوْمَ عِيدٌ لِمَنْ قُبِلَ صَوْمُهُ، وَشُكِرَ سَعْيُهُ، وَغُفِرَ ذَنْبُهُ، الْيَوْمُ لَنَا عِيدٌ وَغَدًا لَنَا عِيدٌ، وَكُلُّ يَوْمٍ لَا نَعْصِي اللَّهَ فِيهِ فَهُوَ لَنَا عِيدٌ.
Artinya, “Dikisahkan bahwa suatu hari, seseorang melihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib—semoga Allah meridainya—sedang makan roti kasar pada hari raya. Orang itu pun bertanya, "Ini hari raya, tapi Anda hanya makan roti seperti ini?" Sayyidina Ali menjawab, "Hari ini adalah hari raya bagi orang yang puasanya diterima, usahanya dihargai, dan dosanya diampuni. Bagi kami, hari ini adalah hari raya, esok juga hari raya, dan setiap hari yang kami jalani tanpa bermaksiat kepada Allah adalah hari raya." (Al-Jilani, tanpa tahun: juz 2, h. 34)
Dari kisah ini bisa diambil teladan bahwa momen Idul Fitri tidak semata-mata tentang kemewahan, tetapi lebih kepada makna spiritual di baliknya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengajarkan bahwa hakikat kebahagiaan bukan terletak pada makanan lezat atau pakaian indah, melainkan pada diterimanya amal ibadah. Hari raya sejati adalah ketika seseorang mampu menjaga kesucian dirinya dan tetap istiqamah dalam ketaatan kepada Allah.
Selain itu, kisah ini juga menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak terbatas pada satu hari tertentu. Bagi orang yang senantiasa bertakwa, setiap hari adalah hari raya karena mereka selalu dalam keadaan bersyukur dan menjauhi maksiat. Dengan pemahaman ini, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi momentum untuk terus meningkatkan kualitas iman dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran spiritual setiap saat.
Dari pesan Syekh Abdul Qadir ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Idul Fitri bukan sekadar momen bersenang-senang dengan hal duniawi, tetapi kesempatan untuk introspeksi diri. Di saat banyak orang bergembira dengan perayaan yang kadang kurang bermakna, justru kita seharusnya menepi sejenak dan merenungi apakah ibadah yang telah kita lakukan selama Ramadan benar-benar membawa perubahan dalam diri kita.
Setelah menjalani puasa satu bulan penuh dengan serangkaian ibadah, Idul Fitri bukanlah akhir dari perjalanan spiritual kita. Justru, hari kemenangan ini menjadi awal untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas ibadah. Seperti yang ditegaskan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, hari raya sejati bukan hanya satu hari dalam setahun, melainkan setiap hari di mana kita berhasil menjaga diri dari maksiat dan terus mendekatkan diri kepada Allah.
Bahkan, amal ibadah kita setelah Ramadan menjadi penanda apakah serangkaian ibadah yang kita lakukan selama bulan puasa diterima oleh Allah swt atau tidak. Jika kita mampu menjaga semangat ibadah setelah Ramadan, insya Allah itu menjadi pertanda bahwa ibadah kita selama Ramadan diterima oleh Allah.
Tapi jika sebaliknya, Ramadan hanya dijadikan momen spiritual musiman, setelah Idul Fitri ibadah kita redup dan menyudahi spirit ibadah yang dilakukan selama Ramadan, boleh jadi itu pertanda bahwa ibadah kita selama Ramadan belum diterima oleh Allah swt. Na’udzubillah. Hal ini sebagaimana penjelasan Ibnu Rajab Al-Hanbali berikut:
مَنْ عَمِلَ طَاعَةً مِنَ الطَّاعَاتِ وَفَرَغَ مِنْهَا، فَعَلَامَةُ قَبُولِهَا أَنْ يَصِلَهَا بِطَاعَةٍ أُخْرَى، وَعَلَامَةُ رَدِّهَا أَنْ يُعْقِبَ تِلْكَ الطَّاعَةَ بِمَعْصِيَةٍ.
Artinya, "Seseorang yang melakukan sebuah ketaatan, lalu menyelesaikannya, tanda bahwa ibadahnya diterima adalah jika ia melanjutkannya dengan ketaatan lain. Sebaliknya, tanda bahwa ibadahnya ditolak adalah jika setelahnya ia justru melakukan kemaksiatan." (Al-Hanbali, tanpa tahun: h. 393)
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang semangat beribadah selama bulan Ramadan, dan setelah bulan suci ini berlalu masih istiqamah beribadah dan memiliki semangat spiritual yang tidak pernah padam. Amin.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor:


