Jakarta, Arina.id- Idul fitri merupakan hari raya yang sangat spesial bagi umat Muslim di seluruh dunia. Setelah selama sebulan penuh kita diwajibkan untuk berpuasa, menahan lapar dan dahaga serta mengekang hawa nafsu, maka di momen idul fitri ini insyaallah kita akan kembali menjadi manusia yang kembali kepada kefitrahan kita sebagai makhluk yang suci dan tidak terkotori oleh dosa.
Kefitrahan tersebut tentunya jangan kita dikotori lagi dengan maksiat dan dosa, namun hendaknya diiisi dengan amalan-amalan yang baik.
Dikiutip dari berbagai sumber, inilah beberapa amalan yang penting untuk dilakukan di malam hari raya idul fitri hingga keesokan harinya.
-
Membayar zakat fitrah
-
Menghidupkan malam idul fitri
-
Memperbanyak bacaan takbir
-
mandi untuk melaksanakan salat ‘id
-
Sarapan sebelum berangkat sholat ‘id
1. Membayar Zakat Fitrah
Sebagaimana kita ketahui, bahwa zakat fitrah hukumnya wajib bagi setiap jiwa yang hidup di malam hari raya idul fitri. Kewajiban pembayaran zakat fitrah dimulai sejak awal bulan Ramadhan dan waktu yang paling ideal ialah saat malam idul fitri hingga sesaat sebelum Imam sholat Id naik mimbar.
Zakat fitrah ini berupa makanan pokok suatu negara dengan besaran 1 sha’, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) telah menetapkan bahwa 1 sha’ setara dengan 2,5 kg atau 3,5 liter beras. Kewajiban zakat fitrah ini berdasarkan pada hadis:
عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: - فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى اَلْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ اَلنَّاسِ إِلَى اَلصَّلَاةِ - مُتَّفَقٌ عَلَيْه
Artinya, “Dari Ibnu Umar RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha‘ kurma atau satu sha‘ gandum bagi setiap budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak-anak, dewasa dari kalangan Muslimin. Rasulullah SAW memerintahkan pembayarannya sebelum orang-orang keluar rumah untuk shalat Id,” (HR Bukhari dan Muslim).
2. Memperbanyak amalan ibadah dengan niat menghidupkan malam idul fitri
Dikutip dari Syekh Sa’id ibn Muhammad ba’asyin dalam kitab Busyral Karim, bahwa sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam idul fitri dengan melakukan berbagai ibadah:
ويسن إحياء ليلتهما ولو جمعة بالعبادة من نحو صلاة وقراءة وذكر لخبر مَن أَحْيَا لَيْلَتَيِ العِيْدِ أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْتُ القُلُوْبُ. ويحصل بإحياء معظم الليل وبصلاتي الصبح والعشاء في جماعة، بل وبصلاة الصبح جماعة
Artinya, “(Kita) dianjurkan untuk menghidupkan dua malam Id sekalipun jatuh pada hari Jumat dengan pelbagai jenis ibadah seperti sembahyang, tadarus, atau zikir berdasarkan hadits, ‘Siapa yang menghidupkan dua malam Id, maka Allah akan menghidupkan hatinya pada hari di mana hati manusia mati.’ Kesunahan itu dianggap memadai dengan menghidupkan hampir semalam suntuk ibadah, dengan sembahyang Isya dan Subuh berjamaah, atau bahkan sekadar sembahyang Subuh berjamaah,”
3. Memperbanyak bacaan takbir
Kesunnahan memperbanyak bacaan takbir ini berlandaskan pada hadis:
اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما
Artinya: "Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal dapat melebur dosa-dosa."
4. Sunnah mandi untuk melaksanakan salat ‘id, memakai pakaian terbaik yang baru dan wewangian
Syekh Sulaiman al-Bajuri dalam kitab Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khatib menjelaskan bahwa disunnahkan untuk melaksanakan mandi sebelum berangkat salat ‘id, dan waktu yang paling utama untuk melaksanakn mandi tersebut ialah sesudah terbit fajar atau sesaat sebelum berangkat ke lokasi pelaksanaan salat ‘id. Adapun niat mandi tersebut ialah:
نَوَيْتُ غُسْلَ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً لِلهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku niat mandi Idul fitri, sunnah karena Allah”.
Selain itu, disunnahkan juga menggunakan pakaian baru yang baik dan wewangian. Pakaian baru yang baik ini artinya ialah pakaian yang layak digunakan untuk beribadah, bukan yang terlalu banyak corak sehingga merusak kekhusyuan jamaah lain.
5. Sarapan sebelum berangkat sholat ‘id
Berbeda dengan idul adha dimana pada saat itu kita disunnahkan untuk tidak sarapan sebelum berangkat sholat ‘id agar lebih bersemangat ketika nanti makan daging hewan kurban, dalam pelaksanaan salat idul fitri justru dianjurkan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke lokasi salat ‘id. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi:
كانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يغدو يومَ الفِطْرِ حتى يأكلَ تَمَرَاتٍ، ويأكُلُهنَّ وِترًا
Artinya: "Rasulullah tidak pergi untuk melaksanakan shalat Idul Fitri sampai beliau memakan beberapa butir kurma. Beliau memakannya ganjil."
Demikianlah beberapa amalan-amalan yang penting kita lakukan di malam idul fitri. Semoga bermanfaat.
Penulis: Muhammad Ibnu Sahroji
Editor: Muhammad Zunus


