Arina.id - Dalam Islam, aktivitas hubungan suami istri bukan sekadar pelepasan syahwat belaka, melainkan merupakan kegiatan sakral yang harus memperhatikan etika dan tata krama. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan intim tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai spiritual dan moral. Berikut adalah empat adab dalam melakukan hubungan intim menurut Imam Al-Ghazali yang dijelaskan dalam Ihya 'Ulumiddin (tanpa tahun: juz 2, h. 50).
1. Membaca Doa
Sebelum mulai melakukan hubungan suami istri, kita dianjurkan membaca basmalah (bismillahirrahmanirrahim) takbir (Allāhu Akbar), dan tahlil (Lā ilāha illallāh). Lalu lanjutkan membaca doa berikut:
بِسْمِ اللهِ العَظِيمِ. اللّهُمَّ اجْعَلْهَا ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إن كُنتَ قَدَّرْتَ أن تُخْرِجَ ذَٰلِكَ مِن صُلْبِي.
Bismillahil ‘adzim. Allahumma aj’alha dhurriyyatan tayyibatan in kunta qadarta an tukhrija dhalika min shulbi.
Artinya, "Dengan nama Allah yang Maha Agung. Ya Allah, jadikanlah ini keturunan yang baik jika Engkau telah menentukan untuk mengeluarkan itu dari tulang punggungku."
Kita juga dianjurkan membaca doa berikut agar diberi keturunan yang salih dan dijauhkan dari perbuatan buruk setan:
اللّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
Allahumma jannibnisy saytana wajannibisy syaitana ma razaqtana.
Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami.”
Ketika sudah mendekati klimaks, sepasang suami istri dianjurkan membaca doa ini dalam hati (tidak perlu menggerakkan bibir):
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
Alhamdu lillahi alladzi khalaqa minal ma'i basharan faj'alahu nasaban wa sihran wakana rabbuka qadira.
Artinya, "Segala puji bagi Allah yang menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya memiliki nasab dan hubungan pernikahan (ṣiḥr). Dan Tuhanmu adalah Maha Kuasa."
2. Tidak Menghadap Kiblat
Saat melakukan hubungan suami istri, sebaiknya kedua pasangan tidak menghadap kiblat. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, mengingat kiblat adalah arah yang kita hadapi saat melaksanakan shalat. Tidak etis jika saat berhubungan intim, kita menghadap arah yang dianggap mulia dalam Islam. Imam Al-Ghazali menjelaskan:
وَكَانَ بَعْضُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ يُكَبِّرُ حَتَّى يَسْمَعَ أَهْلُ الدَّارِ صَوْتَهُ ثُمَّ يَنْحَرِفُ عَنِ الْقِبْلَةِ وَلَا يَسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةَ بِالْوَاقِعِ إِكْرَامًا لِلْقِبْلَةِ، وَلِيُغَطِّيَ نَفْسَهُ وَأَهْلَهُ بِثَوْبٍ. كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَغْطِي رَأْسَهُ وَيَغُضُّ صَوْتَهُ وَيَقُولُ لِلْمَرْأَةِ "عَلَيْكِ بِالسَّكِينَةِ".
Artinya, "Dan beberapa sahabat hadis mengucapkan takbir hingga penduduk rumah mendengar suaranya, kemudian ia berpaling dari kiblat dan tidak menghadap kiblat saat berjima' sebagai penghormatan terhadap kiblat, dan ia menutupi dirinya dan keluarganya dengan kain. Rasulullah ﷺ menutupi kepalanya dan merendahkan suaranya serta berkata kepada wanita, 'Tenanglah kamu.'"
3. Melakukan Foreplay
Foreplay merupakan serangkaian aktivitas intim sebelum hubungan seksual yang bertujuan meningkatkan gairah dan keintiman antara pasangan. Ini mencakup ciuman, pelukan, dan sentuhan yang membangkitkan emosi positif.
Foreplay dianjurkan dalam Islam saat hubungan badan karena meningkatkan keintiman dan rasa saling menghormati antara suami dan istri. Hal ini menghindarkan pasangan dari perlakuan kasar, mendorong komunikasi yang baik, serta menciptakan suasana yang lebih nyaman. Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya kelembutan dan kasih sayang dalam hubungan intim, sehingga foreplay menjadi sarana untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan bersama dalam pernikahan.
Al-Ghazali menjelaskan:
وَفِي الْخَبَرِ "إِذَا جَامَعَ أَحَدُكُم أَهْلَهُ فَلَا يَتَجَرَّدَانِ تَجَرُّدَ الْعَيْرَيْنِ" أي الْحُمَارَيْنِ، وَلْيُقَدِّمْ التَّلَطُّفَ بِالْكَلَامِ وَالتَّقْبِيلِ قال ﷺ "لَا يَقَعَنَّ أَحَدُكُمْ عَلَى امْرَأَتِهِ كَمَا تَقَعُ الْبَهِيمَةُ، وَلْيَكُنْ بَيْنَهُمَا رَسُولٌ" قِيلَ: وَمَا الرَّسُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قال: "الْقُبْلَةُ وَالْكَلَامُ"
Artinya, "Dan dalam hadits disebutkan, 'Jika salah seorang di antara kalian berhubungan intim dengan isterinya, maka janganlah keduanya telanjang seperti untanya,' maksudnya seperti keledai. Dan hendaklah ia mengutamakan kelembutan dalam berbicara dan mencium. Rasulullah ﷺ bersabda, 'Janganlah salah seorang di antara kalian berhubungan dengan isterinya seperti hewan, dan hendaknya di antara mereka ada pengantar.' Ditanyakan, 'Apa pengantar itu, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Ciuman dan pembicaraan.'"
4. Hindari Waktu yang Tidak Dianjurkan
Dalam Islam, aktivitas hubungan suami istri yang berkah pun harus dilakukan di waktu-waktu yang tepat. Menurut Al-Ghazali, ada tiga waktu yang tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan badan, yaitu awal bulan, pertengahan bulan, dan akhir bulan. Sebab, pada malam-malam tersebut setan ikut hadir, bahkan disebutkan ikut melakukan hubungan intim. Al-Ghazali menjelaskan:
وَيُكْرَهُ لَهُ الْجِمَاعُ فِي ثَلاثِ لَيَالٍ مِنَ الشَّهْرِ: الأوَّلِ، وَالآخِرِ، وَالنِّصْفِ. يُقَالُ إنَّ الشَّيَاطِينَ تَحْضُرُ الْجِمَاعَ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي، وَيُقَالُ إنَّ الشَّيَاطِينَ يُجَامِعُونَ فِيهَا
Artinya, “Disarankan untuk menghindari hubungan intim pada tiga malam dalam sebulan: malam awal, malam akhir, dan malam pertengahan. Dikatakan bahwa syaitan hadir saat hubungan intim pada malam-malam ini, dan dikatakan pula bahwa syaitan juga melakukan hubungan pada malam-malam tersebut."
Dengan memahami dan menerapkan empat adab hubungan suami istri menurut Imam Al-Ghazali, pasangan dapat menjalin hubungan yang lebih harmonis dan saling menghormati. Aktivitas ini bukan saja tentang kepuasan fisik, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai spiritual dan etika dalam Islam. Memperhatikan adab-adab ini akan membawa berkah dalam pernikahan, menciptakan lingkungan yang positif, dan menghindarkan dari pengaruh negatif.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor:


