Sudah sekian kalinya kaki saya menapaki Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski begitu, masih banyak tempat yang belum saya kunjungi. Salah satunya Museum Biologi UGM. Kemarin (12/8/2025) saya tertarik untuk menyambanginya. Bangunan yang didirikan tahun 1969 itu masih berdiri kokoh di sisi jalan Sultan Agung, Wirogunan, Kec. Mergangsan. Tampak sepi ketika saya datang. Situasi ini sangat menyenangkan karena saya bisa berlama-lama memandangi beragam hewan dan tumbuhan dengan leluasa, seperti milik pribadi.
Ketika masuk, saya di sambut kipas angin yang terus berputar di atas langit-langit bangunan. Di hadapan saya, setelah melewati pintu berwarna hijau, sebuah ruangan memanjang tampak dipenuhi aneka hewan. Ada beberapa pintu di sisi kanan dan kirinya. Saya langsung dibuat penasaran untuk bertandang ke dalam bilik satu per satu. Ada perasaan terkejut, kagum, juga ngeri menyelimuti tubuh saya.
Saya melihat hewan-hewan dimasukkan dalam tabung-tabung berisi air. Lainnya ada di lemari kaca dalam bentuk utuh maupun kerangka. Saya masih ingat di sana ada tikus, harimau, beruang madu, kucing emas, komodo, berbagai jenis ular, kodok, ikan, burung, kupu-kupu, dan hewan lainnya. Setiap jenis hewan dikelompokkan dalam bilik tersendiri.
Saya jadi teringat kebun binatang. Museum ini tak ubahnya seperti yang ada di Gembira Loka. Bedanya, yang ditampilkan museum adalah hewan-hewan yang sudah tidak bisa lagi bergerak dan bersuara layaknya yang ada di kebun binatang. Tapi menurut saya esensinya sama, ingin memperkenalkan hewan pada manusia dengan jalan yang lebih singkat.
Namun, saya rasa wisata di museum hewan lebih edukatif ketimbang kebun binatang yang memamerkan hewan-hewan dalam kondisi hidup. Di museum, hewan-hewan tak dipaksa hidup di luar habitatnya bahkan tidak dikurung dalam besi-besi. Ini menjadi lebih mendidik ketimbang melihat hewan hidup dipenjara atas nama pendidikan.
Kebun binatang memang punya masalah sejak awal kemunculannya. Di National Geographic (26/5/2024) dalam tulisan bertajuk Selidik Sejarah: Awal Mula Berdirinya Kebun Binatang di Dunia, dijelaskan bahwa pameran hewan pertama kali dilakukan oleh Ratu Mesir Hatshepsut disekitar tahun 1480 SM. Konon, kebun binatang itu ditujukan untuk ajang memperlihatkan kekayaan dan kekuasaan.
Michael J. Renner, Direktur Kebun Binatang dan Ilmu Konservasi Universitas Drake, juga menguatkan bahwa dahulu,memelihara hewan berbahaya dan eksotis di penangkaran bisa menjadi cara bagi penguasa untuk menunjukkan betapa kuatnya mereka. Hewan dilihat hanya sebagai kebutuhan citra manusia, tidak ditempatkan sebagai makhluk hidup.
Saya melihat kebun binatang yang memamerkan hewan-hewan hidup tak ubahnya seperti tindakan memenjara dan merenggut hak hewan untuk memperoleh kebebasan. Tak jarang mereka harus dipisahkan dari habitat dan keluarganya demi menuruti keinginan manusia. Mungkin, rencana itu diniatkan untuk hal yang baik, tapi rasanya tak etis ketika membuat hewan menderita bahkan kehilangan insting hidupya seperti yang dituliskan Claudio Orrego Vicuna lewat bukunya Kenang-kenangan Mengejutkan di Beruang Kutub (2018).
Kerangka Kemiskinan
Saya menjelajah ke salah satu bilik: Ruangan 5, koleksi kerangka. Di dalamnya ada rangka badak jawa tahun 1822 yang besar sekali. Hewan pemakan daun, tunas muda, ranting, dan buah itu, terlihat amat memikat meski hanya berupa tulang belulang. Mata saya diajak membayangkan rupanya selagi hidup. Tentu, dahulu ia tampak gagah dan berkharisma.
Selain badak Jawa, saya temukan kerangka lain. Langkah saya berhenti cukup lama saat melihat ada kerangka manusia. Iya, tengkorak manusia lengkap dari ujung kepala sampai kaki, utuh. Ia terperangkap di lemari kayu berkaca. Tingginya sekitar 160 cm dan di tulangnya ada banyak tulisan, semacam rumus, mungkin.
Gigi depannya hilang dua dan di bagian tulang rusuknya ada lilitan perban. Di kaca yang mengurung kerangka itu, tertempel kertas dengan tulisan: Homo sapiens, sex lk. Loc. R. S semarang/sumbangan fakultas kedokteran UGM. Th 1959.
Muncul banyak pertanyaan dalam kepala saya: Siapa nama laki-laki ini? Berapa usianya ketika meninggal? Apa yang menyebabkannya meninggal? Dan kenapa kerangkanya bisa sampai di sini? Saya berharap ada buku khusus yang menceritakan biografi kerangka manusia. Di sana tertulis cerita-cerita yang mengisahkan hidup para kerangka sebelum mati. Mungkin, ini bisa menjadi semacam penghormatan bagi tubuh-tubuh yang berkenan dijadikan media untuk menyingkap rahasia-rahasia pengetahuan medis.
Tentu, harapan itu tak terwujud. Siapa yang mau mengurusi kerangka orang mati sementara manusia yang masih hidup saja banyak yang tidak diperhatikan (oleh negara). Eh, saya jadi teringat sebuah novel yang di dalamnya ada kerangka manusia. Buku itu bagus sekali dan punya penikmat di seluruh dunia. Usianya sudah sekitar empat puluh tahun tapi masih tetap punya daya tarik hingga kini.
Novel itu karangan Dominique Lapierre berjudul City of Joy. Ketika pertama kali menemukannya, teman saya berujar: Jangan mati dulu sebelum membaca buku ini! Ah, ungkapan itu ampuh membuat saya mau nekat menatap buku setebal lebih dari lima ratus halaman selama berhari-hari. Setelah mencermati setiap kisahnya, ternyata benar yang dikatakan teman saya. Isi buku ini mencengangkan. Pembaca diajak memahami arti kemiskinan, penderitaan, suka cita, dan kebahagiaan dengan sangat epik.
City of Joy bercerita soal kemiskinan. Novel ini mengangkat kehidupan di suatu daerah termiskin di Kalkuta, India, yang dikenal sebagai Anand Nagar atau City of Joy. Isi novel memuat tokoh Stephan Kovalski, pendeta asal Polandia yang datang ke India untuk melayani orang-orang miskin. Lalu Hasari Pal, seorang petani yang pindah ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Kerangka saya temukan di pertengahan halaman. Hasari Pal dan keluarganya dikisahkan hidup dalam kondisi kemiskinan yang amat memprihatinkan. Selain menarik angkong, ia juga menjual darahnya berkali-kali demi menghidupi istri dan anak-anaknya. Suatu ketika, semua jalan untuk mendapatkan penghasilan tertutup, sementara kebutuhan semakin mendesak. Hasari akhirnya memutuskan menjual tubuhnya kepada seorang yang akan mengambil tengkoraknya setelah ia mati.
Kerangka yang saya lihat di museum biologi UGM, mengingatkan saya pada persoalan kemiskinan. Ada dugaan-dugaan yang menyelimuti pikiran saya saat menatap kerangka berjenis laki-laki itu, apakah ia mengalami nasib seperti Hansari Pal, korban dari sistem yang tidak berpihak pada rakyatnya? Atau mungkin ada alasan lain. Entahlah, jawaban itu tak kunjung saya dapatkan. Barangkali, tanggapan akan hadir lewat obrolan atau buku-buku yang kelak saya temukan.
Editor:


