Dark
Light
Dark
Light

Sejarah Politik dan Sosial Binatang Gajah dalam Dunia Islam

Sejarah Politik dan Sosial Binatang Gajah dalam Dunia Islam

Ada sesuatu di mata gajah yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata, tak juga oleh al-Qur’an atau laporan biodiversitas. Ia menatap seperti tahu seluruh riwayat kita: kejatuhan, penjajahan, dan doa-doa yang tidak sampai. Namun ia tidak pernah menghakimi. Tatapannya seperti menyimpan dendam, tapi memilih untuk membisu. 

Barangkali karena ia membawa sejarah yang lebih tua dari agama, lebih sunyi dari perang, dan lebih jujur dari seluruh rezim pembangunan. Dalam tubuhnya ada bekas lumpur kerajaan, debu dari perjalanan diplomatik, dan kabut mantra-mantra yang disulam nenek moyang di bawah pohon kamper.

Dulu, saat Harun al-Rasyid mengirim Abu al-‘Abbas ke Charlemagne, gajah itu bukan sekadar hadiah. Ia adalah pesan: ihwal kekuasaan yang bisa melintas benua dengan langkah lembut tapi mengguncang tanah Eropa (Soulsby, 2023). Dalam tubuhnya tergantung anggur dari Kufah, minyak mawar, dan pengingat bahwa dunia tidak dibangun oleh manusia saja. Tapi tentu saja, manusia tidak pernah pandai membaca yang tak berbunyi.

Sementara itu, di hutan-hutan yang kiwari berubah jadi ladang sawit, gajah lain masih berjalan. Di Sumatra, di Pahang, di Siam. Mereka bukan lagi makhluk yang dililit bunga, tapi korban dari tafsir-tafsir yang kehilangan kelembutan. Mereka tidak mati. Mereka hanya tak disebut. Tak masuk khutbah. Tak masuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dalam dunia yang melupakan gajah, sunyi pun kehilangan tempatnya. Andai sunyi tak lagi punya tempat, rahmat pun tinggal legenda.

Kosmologi Islam Awal dan Perang Suci

Seekor gajah tersembunyi di antara halaman-halaman Al-Qur’an yang dibaca dengan gemetar dan hormat selama berabad-abad. Bukan gajah yang tenang seperti dalam lukisan Buddha, bukan pula gajah yang bijak dari mitologi Hindu. Ini adalah gajah perang. Gajah yang dilibatkan dalam dendam kekuasaan, digiring dari selatan oleh Abrahah, seorang penguasa dari Yaman yang hendak menaklukkan Ka’bah, jantung denyut kota suci yang belum bersinar seperti sekarang. Namun langit, dalam cerita itu, memihak tanah. Burung-burung kecil dijadikan alat ilahi, menjatuhkan batu-batu panas yang membakar ambisi manusia. Gajah itu berhenti. Dunia Islam lahir dari kemenangan yang tidak ditegakkan oleh kekuatan, tetapi oleh kehendak yang lebih tinggi.

Surah itu dinamai “Al-Fil”. Lima ayat pendek, tapi tidak ada cerita liyan yang begitu padat simbol, begitu lentur maknanya, dan begitu kokoh berdiri di perlintasan antara sejarah, tafsir, dan takhayul. Para mufassir klasik seperti Al-Tabari dan Ibn Katsir menyematkan makna literal pada kisah ini: pasukan gajah benar-benar ada, dan kehancurannya adalah bukti langsung intervensi Tuhan (Ottewill-Soulsby: 44-47). Akan tetapi di balik kisah kemenangan spiritual itu, tersembunyi sebuah tubuh binatang yang mungkin tak tahu untuk apa ia dibawa, atau siapa yang akan dihancurkannya. 

 

Tafsir demi tafsir mengabadikan gajah sebagai simbol kecongkakan kekuasaan. Walakin dalam budaya India dan tradisi Buddhis, gajah adalah lambang ketenangan dan kebijaksanaan; ia bukan pasukan, tetapi guru. Relief-relief di Borobudur tidak mengenalnya sebagai binatang perang, melainkan sebagai kendaraan cahaya dan kelahiran (Zakaria, 2023: 22-24). Maka saat Islam datang membawa cerita Al-Fil, ia juga membawa perubahan makna. Pelan-pelan, gajah kehilangan kemuliaan sunyinya dan berubah menjadi instrumen ilustratif untuk memperingatkan manusia: jangan terlalu besar kepala, nanti dihancurkan seperti gajah.

Namun sejarah tak pernah linier. 

Gajah-gajah di zaman Abbasiyah digunakan dalam parade kemegahan, ditampilkan di pesta-pesta khalifah, dan dijadikan kendaraan simbolis dalam prosesi kekuasaan. Beberapa di antaranya diimpor dari India atau Persia, dipaksa menempuh jarak yang musykil, hanya untuk kemudian menjadi tontonan. Makhluk agung yang direduksi jadi dekorasi imperium (Rothfels, 2021: 65-68). Di dunia Melayu-Islam, gajah tetap ambivalen. Ia masuk hikayat, jadi tunggangan raja, pembawa pertanda, tapi juga diburu dan ditaklukkan. Di satu sisi keramat, di sisi lain dianggap musuh ladang. Dalam dunia yang dulunya percaya bahwa semua makhluk punya ruh, kini gajah dipagari oleh fatwa dan keuntungan ekonomi (Zakaria, 2023: 102-106). Tafsir telah menaklukkannya seperti rantai: ia bukan lagi guru, tapi simbol pun bisa dibuang jika tidak lagi dibutuhkan.

Akan tetapi gajah tidak seperti manusia. Ia tidak perlu berpidato untuk menjelaskan penderitaannya. Ia hanya berjalan. Diam. Berat. Dengan langkah yang menggetarkan akar pohon dan menggugah tanah untuk mengingat. Barangkali karena itu, meski telah dikhianati oleh tafsir, ia tetap hadir sebagai saksi, sebagai korban, dan sebagai makhluk yang tahu bahwa waktu punya cara sendiri untuk menyingkap kebenaran yang ditekan terlalu lama.

Diplomasi dan Imajinasi Eropa

Bayangkan pagi yang perlahan membuka tirai kabut di tepi Sungai Tigris. Udara menahan napasnya sendiri. Di kejauhan, dari istana Harun al-Rasyid, bukan pasukan yang bergerak, tapi seekor makhluk tunggal: gajah besar, putih, dan bergeming, seakan membawa sunyi dari seluruh jazirah. Namanya Abu al-‘Abbas. Tetapi ia bukan sekadar gajah. Ia adalah naskah berjalan, dikirim kepada Charlemagne di ujung lain dunia, tidak dengan surat atau utusan, tapi dengan tubuhnya sendiri sebagai tafsir politik (Ottewill-Soulsby, 2023: 133-137).

Ia melintasi padang pasir dan badai musim dingin, dari Baghdad hingga Aix-la-Chapelle, bukan untuk perang, melainkan untuk membuat dunia Eropa terpana. Dan memang terpana: para penulis Latin menyambutnya seperti mukjizat. Dalam tubuh raksasanya, mereka melihat Timur sebagai negeri penuh misteri yang patut dipuja, dan pada saat yang sama, dicurigai. Eropa tidak menatap Abu al-‘Abbas sebagai makhluk, tetapi sebagai dongeng yang akhirnya tiba (Rothfels, 2021: 44-47).

Namun tak ada satu pun yang bertanya: apa yang dilihat Abu al-‘Abbas dalam perjalanan panjangnya? Apakah ia rindu pada lembabnya tanah asal, pada aroma kamper, atau pada suara malam yang tak diisi nyanyian pendeta? Ia menjadi simbol, lalu menjadi siluet. Ia menjadi teka-teki dalam buku sejarah, lantas hilang. Kekaisaran Abbasiyah dan Carolingian sama-sama bangga memilikinya, tetapi tidak satu pun memberi ruang bagi kematiannya. Ia tidak dimakamkan, hanya dicatat. “Dan pada tahun itu, seekor gajah datang dari Timur.” Begitu bunyinya. Tidak ada puisi. Tidak ada tanya. Tidak ada air mata.

Seperti itulah sejarah bekerja: menjadikan keajaiban sebagai perabot diplomasi. Mengurung yang liar dalam bingkai naratif. Abu al-‘Abbas tahu semuanya. Maka dalam tiap lukisan sejarah, matanya tetap murung. Sebab ia bukan sekadar gajah. Ia adalah ingatan yang diseret dan disenyapkan.

Islamisasi, Kolonialisme, Penghapusan Makna

Di tanah basah yang dahulu disebut Nusantara, gajah bukan sekadar binatang. Ia adalah alinea pembuka dari kitab yang ditulis tanah dan hujan. Di antara akar-akar kamper dan damar yang merekah bagai doa terlupakan, ia melangkah pelan, membawa bayangan hutan dan legenda yang tertinggal dalam bisikan dukun tua. Bagi orang Melayu lama, ia bukan hewan liar. Ia saudara. Ia penuntun jiwa-jiwa yang ragu membaca arah angin. Ia bagian dari dunia yang tidak mengenal garis batas, tidak mengenal kepemilikan selain kasih dan keterhubungan. Namun dunia seperti itu jarang bertahan.

Lalu datang dua gelombang: satu mengalir dalam dakwah, satu lagi menjelma dalam garis batas dan logika survei. Islamisasi dan kolonialisme tidak selalu bertabrakan; kadang mereka bersisian, berjalan dalam kesunyian yang saling meneguhkan. Yang satu membawa langit dalam kitab, yang lain mengukur bumi dengan rantai besi. Di antara keduanya, gajah kehilangan langitnya. Ia bukan lagi tetua, bukan pula penjaga. Ia menjadi sisa. Sisa dari kosmologi yang tidak tercatat dalam fikih atau peta topografi. Seiring waktu, Islam yang dulu lembut dan menyerap bau tanah berubah menjadi keras dan terputus. Gajah, yang tidak termasuk dalam daftar binatang suci atau najis, pelan-pelan dihapus dari khutbah dan cerita. Ia menjadi makhluk tanpa kategori. Dari sanalah ia mulai dilupakan.

Kolonialisme datang membawa nama anyar untuk segala sesuatu. Hutan menjadi sumber daya, tanah menjadi aset, dan gajah menjadi gangguan. Jalur-jalur kereta ditarik, perambahan dibuka, dan ladang sawit menggantikan jejak langkah tua makhluk berkaki empat itu. Dalam kisah ini, sebagaimana ditulis Faizah Zakaria (2023), penghapusan itu bukan semata ekologis, melainkan kosmologis karena yang dilenyapkan bukan hanya binatang, tapi seluruh sistem makna yang melingkupinya. 

Dalam kekosongan itu, muncul sebuah dunia Islam yang terputus dari tanah, dari air, dari napas makhluk liyan. Dunia yang membaca wahyu, tapi melupakan bahwa gajah pun mungkin sekali mendengarnya, dalam bahasa yang tidak lagi kita pahami.

Ekologi Spiritual Islam dan Krisis Antroposen 

Di pagi hari yang tak lagi dingin, di sebuah dusun di kaki hutan Sumatra, seekor gajah melintasi ladang sawit dengan langkah yang tak tergesa. Ia bukan datang sebagai penakluk atau pencuri hasil bumi, tapi sebagai pengembara yang lupa bahwa jalur ini dulu miliknya. Di desa, manusia menyebutnya “gajah liar”, seolah ada yang lebih liar dari peradaban yang mengganti pohon-pohon kamper dan semak belukar dengan pagar kawat dan pupuk kimia.

Hari ini, di banyak wilayah Muslim, gajah lebih sering muncul dalam berita konflik lahan tinimbang dalam khutbah Jumat. Ia tak disebut dalam buku tafsir modern, dan tidak masuk kurikulum madrasah, seolah tubuhnya yang besar telah terlalu merepotkan narasi tauhid kita yang menyempit. Di Aceh, ketika seekor gajah datang dari hutan dan menabrak pagar, ia dipukul, diracun, atau jika beruntung diangkut ke pusat pelatihan konservasi, tempat ia hidup bukan sebagai makhluk spiritual, melainkan sebagai artefak yang tersesat dari sejarah.

Dalam bukunya nan lirih dan penuh luka, The Camphor Tree and the Elephant, Faizah Zakaria (2023) meneroka tentang bagaimana Islamisasi di Sumatra berlangsung tidak dengan kekerasan, tapi dengan pelan-pelan menjauhkan manusia dari alam. Gajah, yang dulunya dipercaya sebagai penjelmaan kosmik oleh masyarakat lokal, perlahan kehilangan tempat karena tidak masuk ke dalam kerangka syariat formal. Dalam dunia yang dikuasai fatwa dan angka produksi, bahkan makhluk sebesar gajah pun bisa dibuat sunyi.

Zakaria (2023) menegaskan bahwa kolonialisme mempercepat alienasi ini: dari sistem tanah komunal ke sertifikat kepemilikan, dari hutan sebagai ruang spiritual ke lahan yang wajib disterilkan. Gajah tak lagi dianggap sebagai “saudara tua”, tapi “hama besar”. Sebuah makhluk dengan memori lintas generasi dipaksa tunduk pada logika kalender tanam dan peta GPS.

Di dunia liyan, Nigel Rothfels (2021) dalam Elephant Trails menelusuri jejak panjang gajah dalam bayang-bayang tafsir manusia: binatang suci, alat perang, bintang sirkus. Akan tetapi di dunia Islam modern, tubuh gajah justru menjadi ruang kosong yang tidak lagi diisi makna. Ia tak disebut. Ia tak ditafsir. Ia hanya dibiarkan berjalan sampai mati. Keheningannya adalah bahana dari spiritualitas kita nan terputus.

Namun, selalu ada celah bagi yang mendengar. Sebagian kecil komunitas Muslim mulai menggali kembali etika ekologis Islam. Tumbuh gerakan “eco-Islam” di kota-kota besar. Para ulama muda berwicara perihal rahmah lil ‘alamin bukan hanya untuk manusia, tetapi untuk burung, pohon, bahkan gajah. Tetapi dunia kita terlalu tergesa. Kita hanya menyentuh bagian-bagian dari gajah: belalainya, telinganya, gadingnya, tanpa pernah melihatnya utuh. Seperti tulis Metzinger (2024), manusia modern adalah yang paling buta: menyentuh gajah dengan logika, tapi tidak pernah memeluknya dengan jiwa.

Menggembala Gajah dalam Doa Kita

Malam merambat dari sela-sela daun jati dan cemara, turun pelan di sebuah hutan yang tak lagi masuk dalam rencana tata ruang. Di kejauhan, terdengar gemuruh lembut, bukan deru ekskavator atau sirine patroli, melainkan langkah seekor makhluk tua, pemilik kenangan panjang yang tak bisa dituliskan manusia. Seekor gajah melintas, perlahan, dengan tubuh yang memikul lebih dari sekadar daging dan tulang. Ia memikul ingatan. Tentang sungai yang pernah jernih. Tentang pohon yang tumbuh tanpa barcode. Tentang dunia yang memberi ruang untuk makhluk berjalan tanpa izin dari manusia.

Kita tidak lagi menyebut namanya dalam doa. Dalam sebutan panjang yang memohon keselamatan, rezeki, atau jodoh yang mapan, tak ada satu pun kalimat untuk seekor gajah yang tersesat di tengah ladang sawit. Tak ada air mata untuk anak gajah yang mati di pagar listrik buatan manusia. Padahal, bukankah mereka juga bagian dari ciptaan? Bukankah bumi ini diwariskan kepada kita tidak untuk dimiliki, tapi untuk dijaga? Seperti diingatkan Zakaria (2023), gajah yang diburu dan habitat yang dirampas adalah gejala dari hilangnya etika spiritual dalam dunia yang katanya penuh kasih ilahi.

Kita suka bicara tentang semesta, tapi hanya semesta yang berbicara dalam bahasa kita. Al-Qur’an menyebut burung, semut, lebah, bahkan langit yang bertasbih. Walakin kita, dalam doa dan khutbah kita hari ini, memilih melupakan mereka yang besar tubuhnya namun tak punya suara dalam sidang parlemen atau musyawarah ulama. Gajah disingkirkan, bukan karena ia salah, tetapi karena kita sudah kehilangan kosakata untuk menyebutnya sebagai “saudara”.

Arkian, dalam refleksinya yang menghantui, Metzinger (2024) menyebut gajah sebagai entitas etis. Ia makhluk dengan kesadaran melampaui batas tubuh, hadir utuh dalam ruang dan waktu. Dalam dunia yang merobek agama dari tanah, yang memisahkan spiritualitas dari ekologi, gajah menjadi saksi bisu dari kehancuran jembatan itu. Dalam langkahnya yang hening, ia mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan fatwa: kepada siapa sesungguhnya bumi ini diwariskan?

Namun di sela-sela reruntuhan, masih ada bara kecil. Petani di sebuah desa menanam kembali pohon kamper di jalur migrasi gajah. Seorang ulama muda di pondok pesantren kecil menyampaikan khutbah tentang rahmat yang meliputi semua makhluk. Di sudut-sudut yang tidak masuk televisi, umat sedang menggembalakan kembali makna rahmah. Perlahan, seperti langkah gajah itu berat, tapi tidak bisa dihentikan.
Mungkin sudah waktunya gajah kembali masuk surah. Bukan sebagai simbol kehancuran, tapi sebagai pengingat. Bahwa iman tanpa kasih kepada bumi hanyalah gema yang kosong. Bahwa doa yang tidak menyebut makhluk liyan hanyalah bisikan ego. Bahwa statistik tanpa empati adalah kekerasan yang diam. 

Bahwa hari ini, barangkali, yang paling buta bukanlah dunia, tapi iman kita sendiri yang kehilangan arah pulang.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo