"Menulis buku adalah perjuangan yang mengerikan dan melelahkan, seperti pertarungan panjang melawan suatu penyakit yang menyakitkan.” -George Orwell.
Laki-laki itu berwajah panjang dan kurus dengan dagu agak runcing. Rambutnya gelap diikuti mata yang menampilkan ketajamaan. Dalam banyak foto, ekspresinya selalu tampak serius dan kontemplatif. Mencerminkan karakter seorang pemikir ulung dan pengkritik sosial. Terbukti, buah pikirannya masih terus hidup meski zaman telah berubah. Kritiknya tetap relevan untuk menguliti bentuk kepemimpinan yang menekan hidup rakyatnya.
Namanya Eric Arthur Blair, orang-orang lebih mengenalnya sebagai George Orwell. Ia lahir pada 25 Juni 1903 di India, dan meninggal dunia pada 21 Januari 1950 di Inggris. Ayahnya merupakan seorang pejabat Inggris di layanan sipil India, sementara ibunya adalah putri seorang pedagang jati keturunan Prancis yang tidak begitu berhasil. Status keluarga Orwel kerap disebut sebagai ‘bangsawan tak bertanah’.
Kepribadian dan pikiran Orwell terbentuk lewat dua fase hidupnya, yaitu masa anak-anak dan dewasa. Pada tahun 1911, Ketika Orwell dikirim ke sekolah asrama ia merasa dibedakan di antara anak laki-laki lain karena kemiskinan dan kecemerlangan intelektualnya. Kondisi itu membentuknya menjadi laki-laki yang murung, menarik diri, dan eksentrik. Ketika menginjak usia dewasa, tepatnya pada tahun 1922, Orwel bekerja di Burma sebagai asisten pengawas distrik di Kepolisian Kekaisaran India.
Saat di India, ia menyadari betapa orang-orang Burma tidak menyukai diperintah oleh Inggris. Ia merasa bersalah karena hambatan ras dan kasta telah mencegahnya bergaul dengan orang Burma. Akhirnya, pada tahun 1927 Orwell membuat keputusan yang membentuk karakternya sebagai penulis. Ia menebus rasa bersalah itu dengan membenamkan diri dalam kehidupan orang-orang miskin dan terbuang di Eropa. Kelak, pengalaman itu yang menjadi cikal bakal lahirnya karya-karya Orwell yang tajam dan penuh kritik.
George Orwell dikenal sebagai seorang novelis, penulis esai, dan kritikus Inggris yang karya-karyanya sangat diperhitungkan. Dua di antaranya Animal Farm (1945) dan Nineteen Eighty Four (1949). Novel pertama merupakan sindiran tajam terhadap totalitarianism, khususnya Revolusi Rusia dan pemerintahan Stalin. Novel terakhir, Nineteen Eighty Four, adalah novel distopia yang menggambarkan dunia di bawa pemerintahan totaliter yang mengontrol setiap aspek kehidupan manusia, termasuk pikiran dan ingatan.
Animal Farm (1945)
Tepat di hari jadi kemerdekaan, 17 Agustus 1945, George Orwell mengeluarkan sebuah cerita mengenai pemberontakan berjudul Animal Farm. Di Indonesia, novel itu diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi menjadi Binatangisme (1983). Cerita yang sangat epik tentang kritik pada pemerintahan melalui gaya humor satire.
"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengkonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri.”
Penggalan di atas adalah bagian dari isi Animal Farm yang menceritakan upaya sekelompok binatang untuk menggulingkan kekuasaan manusia di sebuah peternakan. Revolusi itu dipelopori oleh seekor babi. Pergolakan terjadi lantaran tindakan manusia atas para binatang dianggap sangat semena-mena dan hanya demi kepentingan pribadi. Singkat cerita, mereka berhasil dan bersorak atas keberhasilan menggulingkan rezim diktator, tetapi semua itu hanya sesaat.
Rasa senang atas bayangan kehidupan yang lebih sejahtera hanya sependek bunyi tepukan tangan. Binatang babi malah berangsur-angsur menjadi otoriter dan memerintah sesama binatang lebih keras dan tidak demokratis dibanding manusia sendiri.
Animal Farm menjadi salah satu kado menarik di hari kemerdekaan karena mengandung penggambaran yang tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Buku ini memuat kritik pada kekuasaan yang korup, manipulatif, dan sering kali menghianati idealiseme awal revolusi atau reformasi.
Nineteen Eighty Four (1949)
Nineteen Eighty Four bercerita tentang dunia distopia yang kelam dan terkontrol penuh oleh negara totaliter bernama Oceania. Masyarakat hidup di bawah pengawasan ketat yang dipimpin oleh sosok misterius bernama Big Brother. Pikiran bebas dianggap sebagai kejahatan dan bahasa dimanipulasi melalui Newspeak untuk membatasi pemikiran.
Di novelnya ini, George Orwell memperkenalkan empat kementerian utama yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Nama-nama kementerian ini terdengar positif, tetapi fungsi sebenarnya justru sangat bertentangan.
Ministry of Truth bertugas memanipulasi informasi, mengubah sejarah, dan menyebarkan propaganda agar sesuai dengan kehendak Partai. Ministry of Peace berperan mengelola perang yang tak pernah berakhir, menjaga konflik sebagai alat kontrol sosial. Ministry of Love menjadi tempat paling menakutkan, hukum ditegakkan melalui penyiksaan dan indoktrinasi brutal terhadap mereka yang dianggap musuh Partai.
Sementara itu, Ministry of Plenty bertindak mengatur ekonomi dan distribusi barang, meskipun kenyataannya masyarakat hidup dalam kelangkaan dan kemiskinan.
Keempat kementerian ini mencerminkan ironi dan manipulasi bahasa yang menjadi inti dari kekuasaan totaliter dalam dunia Orwell. Penggambaran itu menjadi daya tarik untuk menjadikan buku Eighty-Four sebagai kado kemerdekaan bagi Indonesia karena hal demikian sering terjadi dalam setiap era pemerintahan, melalui eufemisme.
Eufemisme sebenarnya hal yang baik karena sebuah upaya untuk memilih ungkapan yang lebih halus, pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, merugikan, atau tidak menyenangkan. Sayangnya, ketika menyentuh tataran pemerintahan, eufemisme justru menjadi alat manipulasi yang digunakan untuk mengelabui masyarakat.
Biasanya eufemisme dilakukan dengan alasan tiga hal. Pertama untuk untuk menghindari konflik. Melalui bahasa yang lebih halus, politisi dapat menghindari konfrontasi langsung dan meminimalisir ketegangan. Kedua, menciptakan citra positif. Eufemisme dapat membantu politisi membangun citra yang lebih baik di mata publik dengan menghindari kata-kata yang negatif atau kasar. Terakhir, mengendalikan opini publik.
Dengan memilih kata-kata yang tepat, politisi dapat mempengaruhi persepsi publik terhadap suatu isu atau peristiwa.
Eufemisme sering dijumpai dalam kebijakan atau pernyataan para petinggi negara. Biasanya kebijakan pemerintah yang dikeluarkan sering kali dibungkus dengan kata yang indah meski sebenarnya menjurus pada makna sebaliknya. Contohnya pada diksi ‘penyesuaian tarif’ dan ‘efisiensi’.
"Penyesuaian tarif”
Saat harga-harga BBM atau tarif pajak melambung tinggi, kata ‘penyesuaian tarif’ seringkali digunakan untuk menipu masyarakat. Kata penyesuaian terdengar sebagai perbuatan penyesuaian diri atau membuat sesuatu pada tempatnya. Terasa mengandung konotasi yang positif dan menenangkan, padahal artinya sebaliknya.
Penyesuaian tarif merupakan bentuk kegagalan pemerintah dalam menjaga harga kebutuhan tetap stabil. Dalam penyesuaian itu ada dampak besar bagi masyarakat, karena berarti rakyat akan semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kata ‘penyesuaian tarif’ sebenarnya mengandung air mata, kecewa, kesedihan, kemiskinan, dan ketidakadilan yang dirasakan rakyat kecil.
“Efisiensi”
Efisiensi juga menjadi salah satu kata yang digunakan oleh pemerintah untuk melakukan manipulasi bahasa. Efisiensi meninggalkan kesan yang sopan dan humanis, padahal dalam kata itu mengandung kekejaman dari pemotongan anggaran yang berimbas pada segala sektor, terutama PHK massal yang tidak kunjung menemukan jalan keluar.
Dua diksi di atas hanya sekelumit contoh dari banyaknya eufemisme yang dilakukan pemerintah Indonesia. Buku karangan Orwell membantu para pembaca untuk memahami pola-pola yang dilakukan para pemegang kekuasaan dalam menindas rakyatnya.
Barangkali, di tengah semarak kemerdekaan Indonesia yang ke 80, memilih buku sebagai bentuk perayaan bisa menjadi jalan yang tepat untuk memaknai arti kemerdekaan sesungguhnya. Bukan sekedar seremonial apalagi mengumbar kalimat-kalimat heroik yang selalu menjadi langganan diucapkan para petinggi.
Editor:


