Dark
Light
Dark
Light

Raga dan Ruh Kemerdekaan

Raga dan Ruh Kemerdekaan

Semua orang pasti sadar, merdeka atau kemerdekaan merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri. Tidak sedikit negara dan warganya—Palestina misalnya—yang hingga hari ini masih terus berjuang dan mempertaruhkan segalanya untuk meraih kemerdekaan. 

Bayangkan, karena sudah merdeka, rakyat Indonesia bebas pergi ke mana saja. Bereka leluasa melakukan perjalanan, menempuh jenjang pendidikan ke mana saja yang disuka. Padahal, saat masih dijajah, semua pergerakan sangat dibatasi. Jika melawan dan memaksa diri, akan disiksa, tak sedikit yang dihabisi. 

Para pahlawan itu berani melawan penjajah. Jika saja ada peluang, kesempatan belajar tidak terbuka. Hanya golongan tertentu yang boleh sekolah, itupun dipilah-pilih. Selebihnya, tetap dalam kebodohan. Kini keadaan sudah merdeka. Pada masa kemerdekaan, setiap orang leluasa bekerja dan sesuka hati membelanjakan hasilnya untuk berbagai kebutuhan hidup. Ia tidak terpaksa untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Ia mandiri, otonom dan memiliki banyak pilihan dalam hidupnya.

Di era kolonialisme, tidak ada kebebasan bekerja. Adanya kerja paksa (rodi atau romusha). Rakyat dituntut bekerja tanpa upah. Sawah dan ladangnya ditanami komoditas kebutuhan penjajah. Pajaknya mencekik leher rakyat. Mereka tidak punya kelonggaran bekerja dan kedaulatan hidup. Di era kemerdekaan, semuanya telah berubah menjadi lebih baik.

Memang, kehidupan rakyat Indonesia tidak otomatis seratus delapan puluh derajat berubah menjadi serba nikmat dan mudah. Tidak semua masyarakat kaya raya atau sekonyong-konyong pekerjaan mudah didapat. Masih banyak pekerjaan rumah—untuk pemerintah dan rakyat—yang harus digarap.

Tentu saja, merdeka bukan berarti boleh berbuat seenaknya. Selalu ada tanggung jawab dalam setiap sikap dan sifat merdeka. Merdeka bisa berubah menjadi petaka bila tidak ada kewajiban untuk melaksanakan kemerdekaan sesuai aturan. Sebab, merdeka dan anarki memiliki perbedaan tipis. Persamaannya adalah kebebasan dan pembedanya adalah tanggung jawab.

Dijajah selama kurang lebih 350 tahun, merdeka ‘baru’ 79 tahun. Kemerdekaan yang belum lama diraih. Jujur, bangsa ini sudah melakukan banyak hal untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. NKRI tegak berdiri, Pancasila gagah sebagai pondasi bangsa, dan kebhinekaan tetap terjaga, merupakan prestasi luar biasa. 

Berkali-kali negara ini diuji dengan ancaman disintegrasi, penggantian ideologi bangsa atau intoleransi. Bahkan di awal kemerdekaan, kelompok masyarakat tertentu juga melakukan pemberontakan terhadap NKRI. Bersyukur, bangsa ini mampu menghadapinya dengan elegan dan cerdas.

Hasil pembangunan relatif sangat baik dan dapat dirasakan seluruh masyarakat. Pemerataan pembangunan terus diupayakan pemerintah. Keberadaan IKN, akan mempercepat pemerataan dan mengikis kesenjangan. Indonesia baru yang maju akan segera terwujud.

Kita telah belajar banyak dari kolonialisme. Kebodohan (jahiliah) yang menjadi penyebab utama mengapa kita bisa dijajah sedemikian lama. Kita menjadi mudah diadu-domba dan dibelah-belah. Kita tidak gampang bersatu karena selalu ditakut-takuti, terus ditekan, diancam dan disiksa oleh penjajah. 

Sekarang, bangsa ini sudah merdeka. Tugas generasi sekarang untuk mempertahankan dan mengisinya dengan pembangunan. Tugas ini tidak lebih mudah dan ringan dari perjuangan mengusir penjajah. Perjuangan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia akan berlangsung selamanya dan mungkin tidak pernah berakhir.

Merdeka Sejati

Jika kita menggunakan pendekatan dikotomis, kemerdekaan bisa dilihat dari dua aspek: raga dan ruh kemerdekaan. Sebagaimana sunnatullah, hidup selalu berpasangan. Pendekatan ini mungkin dapat dianalogikan seperti perspektif yang digunakan oleh Ibn Athaillah al-Sakandari dalam melihat amal perbuatan manusia. Baginya, amal perbuatan adalah raga dan jiwanya adalah ikhlas (al-a’mal shurah qaimah wa arwahuha wujud sirri al-ikhlash fiha).

Sebagai contoh shalat. Seluruh gerakan takbir hingga salam, adalah jasad atau raga shalat, sedangkan kerelaan tanpa pamrih untuk menunaikannya (ikhlas) adalah ruhnya. Raga tanpa jiwa tidak ada artinya shalat tersebut. Jiwa tanpa raga sangat aneh dan mungkin menakutkan bagi manusia. Ada seseorang yang mengaku sedang shalat, tetapi raganya tidak melakukan gerakan shalat. Aneh.

Jika menggunakan cara berpikir shahib al-hikam ini, kemerdekaan merupakan keseluruhan perjuangan fisik dan mental yang telah dilakukan para pendiri bangsa ini untuk mengusir penjajah. Darah, air mata dan keringat bercucuran. Bahkan dibayar dengan sangat mahal, jiwa dan raga para pahlawan.

Senjata dan segala hal duniawi yang dibutuhkan menjadi wasilah perjuangan. Doa dan harapan kepada yang Yang Maha Kuasa juga merupakan raga kemerdekaan. Agar perjuangan tidak mudah patah dan berhenti di tengah jalan. Doa dibutuhkan agar hati tidak gampang ingin pulang, padahal kemenangan belum datang. Doa dilangitkan agar para pejuang yakin, bahwa jalan yang ditempuh benar menurut jalan dan petunjuk Tuhan.

Perjuangan fisik dan mental, saya anggap sebagai—raga kemerdekaan. Tubuh yang digunakan semua pejuang untuk meraih kemerdekaan. Kemerdekaan yang berhenti pada kemerdekaan saja, ia sekedar raga. Tidak lebih. Kemerdekaan untuk bebas dan leyeh-leyeh saja. Kemerdekaan yang tidak hidup dan menghidupkan kemajuan dan pembangunan. Kemerdekaan yang tidak berenergi positif untuk pembangunan. Harap diingat, raga kemerdekaan juga sangat penting. Tanpanya, ruh kemerdekaan tidak akan eksis. 

Ruh Kemerdekaan

Jiwa kemerdekaan adalah ruh yang menggerakkan setiap orang untuk mengisi pembangunan dengan karya nyata. Merdeka yang membuat setiap orang merasa harus bekerja keras untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan ulang dalam berbagai bentuk, sekaligus menggelorakan semangat memperbaiki keadaan yang lebih baik dari masa sebelum.

Jiwa kemerdekaan adalah modal batin yang hidup dan menghidupkan hati pemilik kemerdekaan agar mereka sadar bahwa merdeka dan dijajah itu dua hal yang berbeda. Harga merdeka dan kemerdekaan sangat mahal dan dijajah itu murah dan bahkan banyak diskon. 

Merdeka secara fisik adalah merdeka jasad. Sedang ruhnya adalah kemerdekaan secara mental dan spiritual yang terus menghidupkan semangat perjuangan untuk membangun dan melawan kebodohan. Yang pertama penting, yang berikutnya juga sangat penting.

Jika setiap orang harus proaktif mewujudkan—minimal—visi pribadinya untuk sukses dalam hidup, berarti ia telah memiliki jiwa kemerdekaan. Syukur-syukur, kita mampu berkontribusi dalam skala yang lebih besar: pembangunan nasional. Tetapi, pembangunan nasional tidak akan berhasil tanpa visi masing-masing warga negara yang kuat.

Di era kemerdekaan, tidak ada lagi tekanan, hambatan dan penjajahan fisik dari orang lain. Hidup kita hari ini dan yang akan datang, tergantung ikhtiar dan doa kita. Bukan ditentukan orang lain. Kemerdekaan yang membuat kita bahagia karena ada keleluasaan untuk berusaha. 

Bukan kemerdekaan yang menuntut agar orang lain memahami dan menyantuni kita. Pemerintah memang harus menjadi motor penggerak pembangunan, tetapi warga negara merupakan bagian sistem penggerak itu—sesuai bidang dan kemampuan masing-masing—agar kemerdekaan memiliki ruh yang hidup dan menghidupkan kemajuan.
 
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abu Rokhmad Musaki
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo