Potret Suram Penyimpangan Agama dalam Serial Bidaah

Potret Suram Penyimpangan Agama dalam Serial Bidaah

Nama Walid kini terdengar tidak asing. Dulu, nama itu biasanya berasosiasi dengan sahabat Nabi Muhammad Saw yang dikenal sebagai panglima perang Islam, Khalid bin Walid. Namun, kini Walid lebih akrab dikenal orang-orang sebagai tokoh utama dalam Bidaah (2025), serial drama asal Malaysia yang ditulis dan disutradarai oleh Ellie Suriaty. Konon, serial itu sukses membuat penonton geram sekaligus berpikir kembali menyoal agama.

Agama tentu bermuatan hal yang baik, tapi sayangnya kerap dijadikan lahan subur terjadinya penyimpangan. Umumnya, modus penyimpangan dalam beragama mencakup pemalsuan ajaran; mengubah doktrin menjadi tidak sesuai dengan ajaran aslinya. Eksploitasi spiritual; menggunakan agama sebagai alat manipulasi pengikut untuk mendapat kekayaan, kekuasaan, dan kepuasan seksual. Radikalisasi; menggunakan agama untuk membenarkan tindakan ekstrem atau kekerasan.

Tiga penyimpangan tersebut bisa kita temukan di serial Bidaah. Walid, pemimpin sekte Jihad Ummah, menggunakan teks agama untuk memperdaya para jemaah hingga terjadi perceraian, kekerasan fisik, dan kekerasan seksual. Para pengikut tidak merasa menjadi korban karena narasi yang disuguhkan selalu diiringi kata Allah, Rasulullah, pemimpin, dan surga. Kita boleh percaya, masalah dalam serial Bidaah masih banyak terjadi dalam dunia nyata. Serial ini bisa menjadi angin segar sekaligus kompas bagi para penganut agama. 

Karya-Karya Bermuatan Kritik terhadap Penyimpangan Agama
Film Peekay (Rajkumar Hirani, 2014) menjadi salah satu sinema yang turut mengkritik agama dengan pengemasan komedi satir. Film ini diproduksi di India, dibintangi oleh Aamir Khan. Kisah diawali dengan perjalanan seorang alien yang mendarat di Bumi untuk melakukan penelitian. Alien ini, yang dijuluki PK, kehilangan alat komunikasi pentingnya—sebuah kalung—yang dicuri oleh seseorang.

Dalam upayanya untuk menemukan kembali kalung tersebut, PK harus beradaptasi dengan kehidupan manusia. Ia belajar bahasa, budaya, dan kebiasaan manusia dengan cara menggenggam tangan orang lain untuk menyerap pengetahuan mereka. Perjalanan menemukan kalung membawanya ke berbagai situasi tegang, lucu, dan mengharukan, termasuk pencariannya akan Tuhan.

Banyak orang mengatakan bahwa hanya Tuhan yang tahu keberadaan kalungnya. Anjuran itu membawa PK bertemu dengan agama. Sebagai orang asing, ia melihat agama dengan kacamata objektif. PK mempertanyakan makna dan cara para pemimpin agama dalam menyampaikan pesan Tuhan. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga amat berani dalam melakukan kritik atas agama, kepercayaan, dan kemanusiaan.

Selain film, novel juga turut bersuara soal penyimpangan dalam beragama. Vergulous (Basa-basi, 2020) gubahan Aveus Har, banyak melontarkan pertanyaan dan kritik akan agama. Melalui pengisahan, penulis berupaya mengajak pembaca untuk merenungkan kembali esensia agama. Keributan, perpecahan, dan pertumpahan darah yang kerap dialamatkan atas nama Tuhan dikritik Aveus Har lewat wilayah, agama, dan tokoh rekaan.

Dalam novel itu, ia menulis: Apakah Tuhan Freo dan Tuhan Quo adalah Satu yang Satu? Sepertinya meragukan, tetapi jika mereka bukan Satu yang Satu seharusnya mereka menciptakan makhluk yang berbeda sehingga akan menjadi jelas yang mana ciptaan masing-masing dan para ciptaannya bisa tahu siapa harus menyembah siapa. Pertanyaan itu muncul sebagai penegasan karena banyaknya kekerasan yang terjadi antar agama.

Cerita-cerita milik A de Mellow SJ juga banyak menyinggung prihal agama. Di salah satu bukunya, ia menulis kisah bertajuk Pasar Malam Agama. Cerita dimaksudkan untuk mengkritik klaim kebenaran absolut atas nama Tuhan yang banyak menjadi penyebab terjadinya kerusakan:
Aku dan temanku pergi ke ‘Pasar Malam Agama.’ Bukan Pasar Dagang. Pasar Agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya, propagandanya pun sama hebatnya.

Di kios Yahudi kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihan-Nya. Ya, bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang terpilih seperti bangsa Yahudi.

Di kios Islam, kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang dan Muhammad ialah nabi-Nya. Keselamatan diperoleh dengan mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.

Di kios Kristen kami menemukan, bahwa Tuhan adalah Cinta dan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Silakan mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil risiko masuk neraka.

Di pintu keluar aku bertanya kepada temanku: ‘Apa pendapatmu tentang Tuhan?’ Jawabannya: ‘Rupanya Ia penipu, fanatik, dan bengis.’
Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: ‘Bagaimana Engkau bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah Engkau tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan jelek kepada-Mu?’

Tuhan berkata: ‘Bukan Aku yang mengadakan ‘Pasar Malam Agama’ itu. Aku bahkan merasa terlalu malu untuk mengunjunginya.’
Sebuah lagu juga dialamatkan pada manusia yang terlalu euforia membayangkan surga, melupakan kehidupan dunia. Dendang sudah berusia lebih dari setengah abad tapi masih memiliki banyak pendengar dan dipercayai sebagai himne perdamaian, Imagine (1971):

Imagine there’s no Heaven, it’s easy if you try
No Hell below us, above us, only skies
Imagine all the people living for today
Imagine there’s no countries, it isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace

Pada akhirnya, kita meyakini agama sebagai hal yang sakral dan memiliki posisi yang penting dalam hidup manusia. Namun, dalam realitas, agama terkadang justru diperalat oleh beberap pihak, seperti yang pernah dikatakan Kartini: Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang dilakukan atas nama agama. Dalam proses pemaknaan dan pencarian kebenaran, mungkin ada baiknya tetap bersikap kritis dan mempertanyakan kembali hal-hal yang justru bertentangan dengan esensi agama. 
 


Editor:
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo