Perjalanan Haji Menak Sunda dan Kritiknya terhadap Air Zamzam

Perjalanan Haji Menak Sunda dan Kritiknya terhadap Air Zamzam

Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema V, seorang Bupati Bandung periode 1920-1931 dan 1935-1945, Menteri Dalam Negeri Indonesia pertama, dan Pejabat Wali Negara Pasundan (salah satu negara federal Republik Indonesia Serikat), pada tanggal 23 Maret 1924 memulai perjalanannya dari Bandung untuk melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Ia melaksanakan separuh puasa Ramadannya dalam perjalanan dan separuhnya lagi di Tanah Suci, Makkah. Merayakan Idul Fitri di sana pada 5 Mei 1924, melaksanakan haji dengan wukuf pada tanggal 12 Juli 1924. Itu artinya, ia telah tiba di Makkah 3 bulan sebelum masa pelaksanaan ibadah haji dimulai.

Pada saat itu, tidak banyak pejabat bupati yang pergi berangkat haji. Pemerintah kolonial Belanda senantiasa memberikan kecurigaan kepada mereka yang berangkat haji karena khawatir akan mendapatkan pengaruh ideologi politik pan-Islam di Tanah Suci saat bersua dengan sesama jemaah haji dari negara muslim lainnya. Atas pertimbangan tersebut, Wiranatakoesoema menjanjikan akan menulis catatan perjalannya dan menyerahkannya kepada pemerintah kolonial.

Catatan perjalanan tersebut kemudian diterbitkan dalam bahasa Belanda berjudul Alegemeen Indisch Dogblad de Preangerbode sebagai cerita bersambung di koran Bandung pada tahun 1925. Diterbitkan sebagai buku di tahun yang sama dengan judul Mijn reis naar Mekka; naar het dagboek van Bandoeng Raden Adipati Aria Wiranatakoesoema, door G.A. van Bovene. 

Diterbitkan dalam bahasa Melayu pada tahun 1925 juga dengan judul Perdjalanan Saya ke Mekah oleh Balai Pustaka, dan terbit dalam bahasa Sunda pada tahun 1926 dengan judul Lalakon Kandjeng Dalem-Bandoeng Angkat Djarah ka Mekah. Besar kemungkinan buku yang diterbitkan mengalami sedikit perubahan dengan catatan aslinya karena harus melewati proses editing dan kurasi oleh G.A. van Bovene.

Henri Chambert-Loir, dkk dalam buku Naik Haji di Masa Silam (2013, j. II, h. 567) menyebut karakteristik catatan perjalanan haji Wiranatakusuma yang membedakan dengan catatan perjalanan haji lainnya ialah karena menggunakan banyak sekali perspektif pribadi dan sangat memperhatikan kedetailan. 

Beberapa hal terkait pelaksanaan ibadah haji yang menarik perhatiannya ialah masalah kebersihan dan kondisi tidak sehat selama peribadatan haji masa itu, mulai dari kondisi tidak sehat di kapal pengangkut jemaah haji, iklim Makkah yang ekstrem, dan kebiasaan jorok penduduknya. 

Wiranatakoesoema juga mempersoalkan makanan yang menurutnya sangat tidak cocok dengan seleranya. Hal ini bisa dimaklumi karena ia adalah seorang menak Sunda yang terbiasa mengonsumsi makanan yang resik dan hidup nyaman di daerah Priangan yang beriklim sejuk.

Ia juga menyoroti soal keadaan masyarakat Arab yang baginya masih terbelakang, terutama dari sisi kesehatan. Ia menganggap dokter yang bertugas di kawasan karantina jamaah haji di pulau Kamaran, Yaman, dan di Jeddah serta Makkah masih sangat ketinggalan ketimbang dokter Jawa. 

Selain itu, ia juga menyoroti kejahatan penduduk Arab, khususnya dari kelompok suku Badui yang suka merampok jamaah haji saat melakukan perjalanan dari Makkah ke Madinah. Atas pertimbangan tersebut, nampaknya ia tidak melakukan perjalanan menuju Madinah. Perjalanannya hanya di Jeddah, Makkah, dan Thaif. Ia juga banyak menyoroti soal Syekh-Syekh gadungan yang suka menipu para jamaah, khususnya yang dari Nusantara.

Bagi penulis pribadi, catatan perjalanan haji menak Sunda ini menarik karena penuh dengan kejujuran. Jika selama ini suguhan kisah atau catatan perjalanan haji penuh dengan ledakan spiritual, kesabaran, dan ketabahan, maka Wiranatakoesoema yang pernah menempuh pendidikan ala Eropa tetap mempertahankan sikap kritis dan logis. Ia tidak mudah terpengaruh oleh dogma yang berkembang saat itu, terutama yang tak ia temukan pondasi dalilnya, baik secara naqli maupun aqli. 

Salah satu sikap yang menunjukkan demikian ialah penolakannya pada ajakan-ajakan para Syekh gadungan untuk melakukan berbagai ritual. Menurutnya, ajakan tersebut hanya berujung pada keuntungan ekonomis bagi Syekh gadungan tersebut.

Saat membincang soal air Zamzam, ia tetap mempertahankan nalar kritisnya. Meski bagi banyak orang saat itu air Zamzam adalah air suci yang memberikan keberkahan, namun baginya tidak demikian. Ia menulis:

“Nah, sekarang tentang mata air Zamzam. Riwayatnya telah sama diketahui orang… Air Zamzam itu telah berulang-ulang diperiksa. Dahulunya air itu berkhasiat baik bagi kesehatan. Akan tetapi khasiatnya itu berkurang-kurang juga. Sekarang masih ada juga khasiatnya, yaitu mencahar”.

Baginya, air zamzam yang menjadi idola banyak orang saat itu dianggap tidak layak minum, bahkan jika dipaksakan meminumnya, hanya akan membuat sakit perut. Untuk memenuhi kebutuhan air, ia mengandalkan pada saluran air Zubaidah yang dibuat pada abad ke-8. 

Wiranatakusumah menyebutnya sebagai Pembuluh Zubaidah, yang mengalirkan air dari Lembah Hunain dekat Thaif hingga ke Makkah sepanjang 95 KM. Dalam sejarahnya, biaya pembangunan saluran ini ditanggung dari dana wakaf yang diberikan oleh Zubaidah, istri Khalifah Harun Al-Rasyid.

Wiranatakusumah juga menyoroti berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh para Syekh gadungan terkait air Zamzam pada masa tersebut. Ia menyebut bahwa mereka khawatir keberadaan pembuluh Zubaidah bisa membuat sakralitas air Zamzam berkurang, tanpa mereka pikirkan jemaah haji yang selama ini kekurangan air, terlebih ketika masuk masa Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna). Baginya, pernyataan itu hanya akal-akalan mereka yang mengkapitalisasi air Zamzam, ingin mengorek keuntungan berlebih dari para jamaah dengan keberadaan air Zamzam.

Ia menyaksikan sendiri praktik para Syekh gadungan yang mengharuskan jamaah haji, khususnya asal Nusantara, untuk membayar biaya mendapatkan air Zamzam. Hebatnya lagi, beberapa oknum Syekh mewajibkan jamaah haji menerima semburan air Zamzam yang katanya penuh berkah dari mulut Syekh selepas tawaf sebanyak 3 kali semburan, masing-masing semburan mewajibkan jamaah membayar. Ia pribadi pernah dipaksa untuk membeli wakaf air Zamzam yang katanya akan diberikan kepada seluruh jemaah di Masjidil Haram. Padahal nyatanya, air Zamzam itu gratis.

Demikianlah kisah seorang menak Sunda di tahun 1924 yang menghancurkan sakralitas buta terhadap air zamzam dan mengritik keras praktik penyelewengan seputar keberadaaan air tersebut. Alhamdulillah, kini segala kekotoran dan kejorokan jamaah yang merusak kualitas air zamzam sudah dimusnahkan dan praktik penipuan semacam itu sudah tidak lagi kita temukan.


Editor:
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo