"Cinta dan mimpi adalah mukjizat. Mereka tidak perlu didengar, diucapkan, atau diterjemahkan." Hear Me (2009)
Saya pernah iseng membayangkan tidak bisa mendengar. Saya imajinasikan hanya bisa menikmati dunia dengan mata, tanpa telinga. Mula-mula saya merasa takut, karena asumsi yang muncul di kepala ketika hadir ide tersebut adalah ‘sepi’ dan ‘menyeramkan’. Pasti rasanya seperti sayur tanpa garam, begitulah yang saya simpan dalam batin. Tapi, saya tetap melakukan percobaan itu kurang lebih seperempat jam.
Ternyata, hasilnya tidak semengerikan yang saya kira. Justru ketika tidak ada suara yang saya dengar, indera penglihatan terasa lebih tajam. Saya merasa bisa melihat banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya tangkap. Hal-hal kecil yang sering saya abaikan tiba-tiba terlihat dengan jelas. Mata saya seperti dibanjiri objek dengan jumlah berlipat dari biasanya. Ah, ternyata semesta bekerja dengan begitu indah dan unik.
Memperingati Hari Tuli Nasional Melalui Film Hear Me (2009)
Percobaan kecil itu mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan bahwa teman-teman tuna rungu bisa memaknai dunia tidak kalah kaya dari orang yang bisa mendengar. “Cinta dan mimpi adalah mukjizat. Mereka tidak perlu didengar, diucapkan, atau diterjemahkan.” Penggalan tersebut rasanya tepat untuk melukiskan bagaimana cara kerja dunia di hadapan semua manusia, tanpa terkecuali.
Kalimat itu saya temukan dalam sebuah film bertajuk Hear Me (Taiwan, 2009) yang disutradarai Fen-fen Cheng. Sinema itu berkisah tentang hubungan romantis antara Tian Kuo, seorang pemuda pengantar makanan yang baik hati dan Yang-Yang, seorang gadis muda yang ceria, optimis, dan baik hati. Yang-Yang tinggal bersama kakaknya, Xiao Peng, seorang atlet tuna rungu yang sedang berlatih keras untuk pertandingan renang internasional bagi penyandang disabilitas.
Film ini amat unik. Hampir seluruhnya menggunakan bahasa isyarat sebagai medium komunikasi. Penonton tidak menemukan banyak dialog dalam berbagai adegan, baik ketika situasi marah, sedih, putus asa, maupun gembira. Film tidak melakukan pemborosan kata, penonton malah diajak menyelami kehidupan teman-teman tunarungu dengan amat memukau.
Hal itu patut diapresiasi dan menjadi langkah besar dalam representasi penyandang disabilitas di layar lebar. Film Hear Me (2009) tidak hanya menceritakan tentang cinta romantis, tetapi juga cinta keluarga, pengorbanan, dan pentingnya komunikasi tanpa batas. Film ini mengajarkan bahwa ketulusan untuk memahami orang lain adalah inti dari hubungan yang bermakna.
Kini, film itu kembali beredar di layar-layar bioskop, salah satunya di Indonesia. Korea Selatan mengadaptasinya menjadi film bertajuk Hear Me: Our Summer yang rilis pada tanggal 8 Januari 2025 lalu. Berbagai tulisan kembali mengulas isi film tersebut yang dipercayai mengandung keindahan, ketenangan, cinta kasih, dan semangat. Sinema yang amat apik untuk menemani perayaan hari tuli nasional, 11 Januari 2025.
Memperingati Hari Tuli Nasional Melalui Sastra
Di Jepang, ada sebuah novel sastra anak yang terus mendapatkan perhatian hingga kini. Buku itu bertajuk Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela (GPU, 2019). Buku itu berkisah menyoal sistem pendidikan di Tomoe Gakuen, sebuah sekolah alternatif unik di Tokyo yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Kobayashi. Salah satu hal luar biasa dari sekolah tersebut adalah memberikan ruang aman dan inklusif bagi penyandang disabilitas.
Kepala Sekolah Kobayashi dengan bijaksana dan penuh kasih memperlakukan Yasuaki-chan, seorang siswa di Tomoe Gakuen yang menghadapi tantangan fisik akibat polio dengan amat hangat. Yasuaki-chan tidak pernah merasa diasingkan atau diperlakukan berbeda. Kepala Sekolah menciptakan lingkungan yang inklusif, di mana semua anak diajarkan untuk saling mendukung tanpa memandang kekurangan satu sama lain.
Salah satu peristiwa yang dituliskan adalah ketika Totto-Chan, gadis cilik yang amat aktif dan ceria berupaya mewujudkan keinginan Yasuaki-chan untuk memanjat pohon, meskipun fisiknya tidak memungkinkan. Pembaca dibuat merasa terharu sekaligus tergelitik dengan tingkah anak-anak yang suka sembrono tapi penuh semangat dan ketulusan.
Selain melalui Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, peringatan, dan upaya menumbuhkan kesadaran tentang Hari Tuli Nasional juga patut untuk menyinggung sosok yang tidak terlupakan oleh dunia, yaitu Helen Keller (1880-1968). Ia adalah perempuan tunanetra-tunarungu yang menaklukkan dunia dengan tulisan dan ceramahnya. Kisahnya menginspirasi jutaan orang untuk mempercayai bahwa tiada yang tidak mungkin di hadapan keterbatasan. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih impiannya, tanpa terkecuali.
Dalam buku bertajuk Aku Buta dan Tuli Sejak Bayi (Kayla Pustaka, 2010), Keller meninggalkan catatan pergulatan batinnya selama puluhan tahun ketika kegelapan dan kebisuan menyelimuti hidupnya. Ia menukilkan: “Dunia yang dibangun oleh imajinasi dari pengalaman dan gagasan yang tak terhitung jumlahnya jauh lebih indah daripada dunia yang dapat diindra.” Keller melanjutkan dalam tulisan lainnya: “Segala hal memiliki keajaiban, termasuk kegelapan dan kesunyian, dan aku belajar bahwa bagaimanapun keadaanku, pasti ada kepuasan di dalamnya.”
Pada akhirnya, peringatan hari tuli nasional tidak hanya bisa dirayakan dengan ucapan tetapi juga perenungan untuk saling menghargai dan mendukung satu sama lain. Perenungan bisa dilakukan melalui berbagai film juga buku-buku yang mengajak penonton atau pembaca menyelami lebih dalam kehidupan teman-teman tunarungu juga disabilitas lainnya.
Editor:


