Pasar boneka perempuan berbasis artificial intelligence (AI) saat ini menjamur. Paling banyak disoroti dari Tiongkok. Negara tirai bambu ini menjadi produsen utama yang memproduksi robot humanoid interaktif dan emosional. Pada tahun 2024-2025 produsen di negeri itu meluncurkan robot seks didukung AI yang dirancang lebih realistis, mampu bergerak dan berinteraksi. Boneka ini dibuat untuk memberikan pendampingan sosial dan interaksi fisik.
Fenomena tersebut sudah sejak lama diramalkan akan terjadi. Pada tahun 2014, Alex Garland, lewat film garapannya bertajuk Ex Machina menampilkan persoalan perempuan dan AI. Setahun sebelumnya, 2013, film bertajuk Her yang disutradarai Spike Jonze juga menyoroti hal yang sama. Dua film menampilkan bagaimana tubuh perempuan dialihwahanakan lewat teknologi mesin dan kecerdasan buatan. Wacana yang digulirkan dalam film punya pesan yang sama tentang bagaimana perempuan diciptakan dan akhir setelahnya.
Ex Machina (2014) garapan Alex Garland mengisahkan seorang programmer muda bernama Caleb diundang ke rumah terpencil milik Nathan, seorang jenius teknologi. Di sana ia dipertemukan dengan Ava, robot humanoid yang dilengkapi kecerdasan buatan. Tugas Caleb adalah menguji apakah Ava benar-benar memiliki kesadaran. Mendekati akhir pengujian itu interaksi mereka berkembang menjadi permainan manipulasi hingga Caleb menyadari bahwa eksperimen ini bukan sekadar uji coba teknologi, melainkan pertarungan antara kontrol manusia dan keinginan mesin untuk bebas.
Dalam Ex Machina (2014), sosok perempuan dan kecerdasan buatan menjadi pusat narasi. Ava, robot humanoid berwajah perempuan disuguhkan bukan sekadar mesin, melainkan entitas yang mampu mengekspresikan emosi, keinginan, dan kecerdikan. Film ini menyoroti bagaimana tubuh dan citra perempuan dijadikan medium eksperimen teknologi, sekaligus simbol keterkungkungan.
Sementara itu, dalam Her (2013), sosok perempuan hadir bukan dalam wujud fisik, melainkan suara dan kepribadian bernama Samantha—sebuah kecerdasan buatan yang diciptakan untuk menjadi asisten digital. Samantha digambarkan dengan kelembutan, kecerdasan, dan rasa ingin tahu yang terus berkembang, sehingga ia tampak lebih “hidup” daripada sekadar program.
Dari sisi perempuan dan AI, film ini menyoroti bagaimana Samantha membangun identitasnya sendiri: ia belajar merasakan, mencintai, bahkan merindukan kebebasan yang melampaui keterbatasan sistem.
Dua film di atas punya kesamaan pembentukan citra perempuan (dalam wujud mesin dan AI). Narasi itu diawali percobaan penciptaan oleh laki-laki, ketegangan, lalu masalah membesar karena mesin dan AI perempuan yang dibuat memberontak, hilang. Ini tak jauh berbeda dengan mitos yang dilekatkan pada penciptaan perempuan.
Mitos penciptaan perempuan dalam berbagai tradisi sering kali dibangun dengan narasi yang menempatkan perempuan sebagai pihak inferior. Ada beberapa pola miring yang berulang. Contoh narasi yang sering dituturkan: perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Ini bisa mengandung maksud perempuan digambarkan sebagai “turunan” atau “pelengkap” laki-laki, bukan makhluk yang berdiri sendiri.
Perempuan sebagai penggoda, melalui kisah Hawa yang merayu Adam untuk memakan buah khuldi menempatkan perempuan sebagai sumber kesalahan, dosa, dan kejatuhan manusia. Perempuan sebagai ancaman, dalam banyak mitos, perempuan dikaitkan dengan godaan, kelemahan, atau bahaya yang harus dikendalikan. Perempuan sebagai objek ciptaan, narasi bahwa perempuan diciptakan untuk melayani, menemani, atau memenuhi kebutuhan laki-laki.
Narasi demikian ditemui dalam sebuah buku sastra fiksi mini gubahan Panji Sukma berjudul Iblis dan Pengelana (2020). Salah satu cerita berjudul Sejarah Iblis mengandung maksud serupa di atas:
Neil Amstrong kaget, ternyata bulan dipenuhi dengan perempuan cantik. Sebab itu, ia bergegas turun dari pesawat kebanggaannya untuk menghampiri salah satu perempuan yang duduk di ayunan.
“Siapa namamu?” tanya Neil.
“Aku iblis.”
“Mustahil perempuan secantik kamu iblis. Lagi pula iblis makhluk yang diciptakan untuk membuat kekacauan.”
“Kamu tidak percaya?”
“Beri aku bukti.”
“Ajak aku pulang ke tempat asalmu.”
Dalam fiksi mini tersebut, pembaca menemukan penandaan negatif untuk perempuan, sebaliknya dengan laki-laki. Amstrong, selaku representasi laki-laki sebagai astronot yang menjelajahi ruang angkasa. Narasi itu mengandung pengertian bahwa ia berani, berpengetahuan, dan aktif. Lain hal dengan perempuan.
Perempuan direpresentasikan sebagai iblis lalu digenapi dengan kalimat “makhluk yang diciptakan untuk membuat kekacauan”. Kata kekacauan selalu merujuk pada padanan negatif yang bisa berarti kekalutan, ketidakberesan, kekusutan, dan huru-hara.
The Other dan Logika Patriarki
Simone de Beauvoir dalam The Second Sex pernah menyatakan perempuan sering dikonstruksi sebagai “The Other”, bukan subjek utama, tapi pelengkap laki-laki. Gagasan itu berangkat dari filsafat eksistensialisme (Jean-Paul Sartre). Dalam eksistensialisme, manusia idealnya diartikan sebagai subjek, makhluk yang bebas, menentukan makna hidupnya sendiri.
Tapi dalam praktik sosial, selalu ada relasi subjek (self) yang mendefinisikan, dan objek (other) yang didefinisikan. The other dimaknai sebagai pihak yang tidak menjadi pusat, melainkan diletakkan sebagai “yang lain”, “tambahan”, atau “pelengkap”
Hubungan AI atau robot perempuan, jika menggunakan analisis Beauvoir, perempuan sebagai “ciptaan”, dalam mitos perempuan diciptakan dari atau untuk laki-laki. Dalam AI, robot perempuan benar-benar didesain, diprogram, dan dikustomisasi. Fenomena ini bentuk ekstrem dari otherness, bukan hanya dikonstruksi secara sosial, tetapi secara liberal dibuat sebagai objek.
Meski pada dua film di atas, Robot dan AI perempuan digambarkan punya kendali dan kesadaran sebagai subjek, dalam dunia nyata realitas itu tidak terjadi. Robot dan AI perempuan yang diproduksi menjadi objek secara totalitas atau the other.
The other menurut Beauvoir dimaknai tidak punya otonomi penuh, tidak menentukan dirinya sendiri. Robot atau AI perempuan jelas tidak punya kehendak bebas, responnya ditentukan sistem, jadi bukan hanya sekadar “other”, tetapi “other tanpa kemungkinan menjadi subjek”.
Dalam relasi nyata, perempuan manusia masih bisa melawan, menolak, mendefinisikan diri, dalam AI tidak ada perlawanan. Agaknya, ini bisa dibaca sebagai eskalasi atau puncak dari logika patriarki, menuju objek ideal yang sepenuhnya patuh di ranah publik hingga privat, termasuk urusan ranjang.
AI atau robot perempuan seperti menjadi ‘other’ yang dikonstruksi material. Keduanya berangkat dari imajinasi bahwa perempuan adalah sesuatu yang bisa didefinisikan, dibentuk, dan diarahkan oleh pihak lain. Meski bukan perempuan manusia melainkan dalam bentuk mesin, logika yang digunakan dalam penciptaan melanggengkan ideologi yang menempatkan salah satu gender berkuasa dan punya kehendak penuh atas gender lain.
Logika ini bertentangan dengan semangat kesalingan atau kerjasama yang mengidealkan antara gender bisa saling berdialog dan menjadi subjek dalam menjalani hidup.
Editor:


