Akhir Oktober 2025 kemarin, saya mendapatkan novel Ajengan Anjing (2025) susunan Ridwan Malik. Buku ini setebal 330 halaman, tapi tak terasa tebal jika dibaca. Selain karena ukurannya yang kecil, cara bercerita si penulis sangat renyah. Ia berhasil membuat novel ini betah ditatap, antingantuk. Namun, ditengah segala kelebihannya, sayangnya terjadi banyak pengulangan ide cerita dalam beberapa paragraf.
Salah seorang teman saya dulu pernah menunjukkan buku ini (sebelum saya memiliki) sambil memuji sampul depannya: "Keren, nih. Liat, geh, ada tulisan arabnya di depan.” Saat itu saya hanya mengiyakan sambil membatin dalam hati ingin segera memilikinya. Dan baru beberapa hari terakhir ini saya bisa memegang dan menyelesaikannya.
Sampul novel Ajengan Anjing memang unik. Hijau tua, merah, hitam, dan putih menjadi kombinasi warna yang dipilih untuk menggambarkan situasi isi buku. Tulisan solawat, gambar anjing berlari, dan kondisi geografi lingkungan perdesaan turut menghiasi cover novel ini. Setelah tamat membaca, saya baru bisa memahami, setiap gambar dalam sampul punya jatah cerita dalam isi novel.
Memilih anjing sebagai tokoh pencerita yang serba tahu dalam novel Ajengan Anjing, mengingatkan saya pada buku lain. A Dog’s Life (2005) juga mengisahkan hidup anjing dengan pemakaian orang pertama sebagai narator. Anjing itu bernama Squirrel. Novel karya Ann M.Martin ini memuat potret perjuangan sosok ibu, keadaan kota dan desa, hari raya agama dalam tatapan anak-anak, situasi keluarga, dan kehidupan lansia. Beberapa novel lain yang juga berkisah tentang anjing: Greyfriars Bobby karya Eleanor Atkinson dan Because of Winn-Dixie karya Kate DiCamillo.
Linda Christanty pernah mengulas novel Ajengan Anjing (2025) di Kompas (21/11/2025) bertajuk Otokritik dalam Beragama. Ia menyoroti kesamaan antara Ceng Aom, tokoh fiksi dalam novel, dengan Leluhur Kesultanan Banten pada abad ke-17, yaitu Sultan Haji. Lewat kedua tokoh itu Linda melihat ada kemunduran dalam hal kualitas kepemimpinan pada generasi lebih muda, yang tidak lagi dekat dan memahami masyarakatnya.
Secara garis besar Ajengan Anjing mengisahkan peralihan dari Mama Aleh ke Ajengan Oyong, hingga Ceng Aom dalam memimpin pesantren Bahrul Ulum di Citamiang. Peralihan itu menyeret perubahan cara pandang dalam memahami agama dan kebudayan. Mama Aleh dan Ajengan Oyong ditampilkan sebagai kiai yang sangat mengerti kondisi masyarakatnya. Mereka sangat piawai memadukan ajaran agama dengan kebudayaan sehingga masyarakat tidak sulit memahami dan mengamalkan ajaran agama.
Berbeda dengan generasi selanjutnya, Ceng Aom, ia hadir sebagai pemimpin baru yang memberikan jarak amat besar pada masyarakat. Gagasan modern dan kaku yang diberlakukan di Citamiang membalik keadaan masyarakat dari yang semua bahagia, guyub dan rukun, menjadi serius dan menegangkan.
Pesan yang mengarah pada isu agama sangat kuat ditemukan dalam novel ini. Gejala eksklusivisme dalam beragama, pesan ekoteologis, kritik pembunuhan tahun 65, dan struktur sosial dalam masyarakat, disajikan penulis dalam satu benang merah.
Di tengah banyaknya isu yang disorot, saya ingin mengulas dari sisi lain, yaitu psikologis salah satu tokoh. Dikisahkan Ajengan Oyong memiliki empat anak: Ceng Bernas, Ceng Ojan, Ceng Badal, dan Ceng Aom. Dari keempat putranya tersebut, Ceng Badal menjadi anak paling pintar. Kepintarannya digambarkan melebihi ketiga saudara plus ayahnya jika digabungkan. Masyarakat tak ada yang meragukan, Ceng Badal akan memegang estafet kepemimpinan selanjutnya.
“Ceng Badal kecil tumbuh bertabur puji-pujian. Seorang anak emas yang menyandang predikat putra mahkota, yang diproyeksikan untuk menggantikan posisi serta tugas Ajengan Oyong di masa depan.”
Namun, sayangnya nasib berkata lain. Nyai Atikah (Ibu Ceng Badal) meninggal dunia. Tragedi itu sangat melukai hati Ceng Badal. Psikologisnya terguncang. Luka di hatinya tak kunjung sembuh, apalagi saat baru menginjak beberapa bulan, Ajengan Oyong menikah lagi. Remaja laki-laki itu sangat kecewa, merasa tak terima, betapa cepat ibunya digantikan oleh perempuan baru, terlebih usia ibu tirinya hampir sama dengannya. Hidup Ceng Badal terasa kian ditarik dalam lubang kegelapan.
“Sejak kehilangan ibunya Ceng Badal sontak menjadi anak yang berbeda. Ia yang tadinya periang berubah menjadi pemurung. Setiap hari orang-orang dapat dengan mudah melihat kesedihan telah tertanam begitu dalam di wajahnya.”
Hingga akhir cerita, Ceng Badal tetap larut dalam duka nestapa. Ia seperti kehilangan kompas hidup. Saya setengah kesel saat membaca, menyayangkan nasib Ceng Badal. Rasa geram itu menuntun saya pada sebuah pertanyaan: Bagaimana bisa kesedihan membalikkan kepribadian seseorang?
Kesedihan dan Perubahan Hidup
Kesedihan ternyata bisa membalikkan kepribadian saat mengguncang inti psikologis seseorang secara dahsyat. Kesedihan bisa dianalogikan seperti air hujan yang meresap ke tanah. Jika takarannya pas, ia bisa menyuburkan, tetapi jika terlalu deras bisa membuat tanah menjadi longsor hingga banjir besar.
Kesedihan bukan sekadar emosi sesaat, kesedihan bisa menjadi pengalaman psikologis mendalam yang mempengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku. Dalam banyak kasus, kesedihan yang intens atau berkepanjangan mampu mengubah kepribadian seseorang secara drastis, termasuk dalam kisah Ceng Badal.
Elisabeth Kubler-Ross mengembangkan teori Five Stages of Grief (lima tahap kesedihan). Ia menjelaskan cara manusia merespon kehilangan besar seperti kematian orang terdekat atau perubahan hidup drastis. Lima tahap itu adalah denial (penolakan), anger (kemarahan), bargaining (tawar-menawar), depression (depresi), dan acceptance (penerimaan). Kelima tahap ini tidak selalu berurutan, seseorang bisa maju mundur antartahap.
Jika ditarik pada hidup Ceng Badal, saya melihat ada kesedihan yang bertumpuk dalam dirinya. Ia bergelut pada fase denial, anger, dan depression. Ketika baru berupaya akan melakukan tawar menawar atas kematian ibunya, sang ayah menambah lukanya dengan menikah lagi. Keputusan itu makin menjauhkan Ceng Badal dari proses tawar-menawar dan penerimaan. Bagaimana upaya yang mengungkinkan Ceng Badal bisa bangkit?
Saya membayangkan, pada awalnya, tentu ia terjebak dalam penolakan, menolak kenyataan pahit kematian ibunya. Namun, secara perlahan ia pasti bisa melangkah, berani menghadapi realitas, mengakui bahwa kehilangan itu nyata. Setelah itu, kemarahan yang muncul perlahan disalurkannya secara sehat, misalnya melalui aktivitas di pesantren atau lingkungan yang bisa membebaskan energi emosional.
Ketika memasuki tahap tawar-menawar, Ceng Badal mungkin dihantui rasa bersalah dan pikiran “seandainya”, tetapi saya pikir ini tipis, sebab selama ibunya hidup, ia menjadi anak yang berbakti. Tahap depresi menjadi titik paling berat. Di sinilah semestinya dukungan sosial hadir. Barangkali jika saat itu Ajengan Oyong tak cepat-cepat menikah, melainkan memberikan dukungan pada anaknya, Ceng Badal akan bisa melangkah pada fase penerimaan. Sayangnya tidak. Sang ayah justru menambah kekecewaan dalam diri Ceng Badal.
Fase penerimaan sangat penting, bukan untuk penghapusan rasa sakit, tetapi sebagai langkah awal untuk berdamai dengan luka dan menemukan makna baru. Andai jika Ceng Badal bisa melewati setiap tahap ini, kesedihan yang tadinya begitu gelap tentu bisa berubah menjadi kekuatan yang menumbuhkan kedewasaan dalam dirinya.
Editor:


