Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنُ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Pertama-tama, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat yang tak ternilai, yaitu nikmat kemerdekaan. Kemerdekaan adalah anugerah terbesar yang kita peroleh dari perjuangan panjang para pahlawan yang telah mendahului kita. Mereka berjuang dengan penuh semangat, tanpa pamrih, dan dengan keyakinan yang teguh untuk memerdekakan bangsa ini dari belenggu penjajahan.
Dengan kemerdekaan yang kita nikmati dan merupakan hasil jerih payah para pahlawan, kita dapat menjalankan semua aktivitas kehidupan dengan tenang, terutama dalam menjalankan misi utama hidup di dunia yakni beribadah kepada Allah swt. Itulah mengapa kemerdekaan penting untuk menunjang ibadah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Az-Zariyat: 56)
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Rasa syukur atas kemerdekaan bukan hanya ditunjukkan melalui upacara dan perayaan, tetapi juga dengan menjaga, merawat, dan mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi bangsa. Bersyukur atas kemerdekaan berarti kita harus menyadari bahwa nikmat ini bukanlah hal yang datang dengan mudah, melainkan hasil dari pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa.
Hal ini penting untuk disampaikan kepada para generasi muda yang tidak ikut merasakan sulitnya merebut kemerdekaan. Sebagai generasi yang hidup di era kemerdekaan, tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa rasa syukur ini terwujud dalam setiap tindakan kita. Salah satu cara terbaik untuk mengekspresikan rasa syukur adalah dengan tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa. Sejarah bukan hanya sekadar catatan masa lalu, tetapi adalah cermin yang memberi kita pelajaran dan inspirasi untuk masa depan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18)
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Agar rasa syukur tetap terpatri dalam jiwa bangsa Indonesia dari generasi ke generasi, mengajarkan sejarah kepada generasi penerus tidak boleh hanya terbatas pada hafalan nama dan tanggal. Lebih dari itu, kita harus menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam perjuangan para pahlawan, seperti semangat juang, keberanian, keikhlasan, tidak mudah menyerah, dan cinta tanah air. Inilah yang harus terus kita wariskan kepada generasi muda agar mereka tidak hanya mengenang, tetapi juga merasakan dan memaknai setiap perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita.
Generasi muda harus bisa bersyukur dengan berterimakasih pada para pahlawan dan berkomitmen untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang baik. Rasulullah bersabda:
لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
Artinya: “Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Wujud berterimakasih ini bisa dilakukan dengan mengisi kemerdekaan melalui hal-hal baru yang positif dan inspiratif. Para generasi muda saat ini harus terus mengembangkan kreativitas dan inovasi dengan menemukan cara-cara baru untuk memecahkan masalah yang dihadapi bangsa, baik dalam bidang teknologi, pendidikan, ekonomi, maupun budaya. Generasi muda harus mampu menciptakan solusi-solusi yang orisinal dan relevan dengan tantangan zaman.
Generasi muda Indonesia harus optimis dan yakni untuk bisa menjadi jiwa-jiwa yang mampu menjadi pionir terselenggaranya kebaikan. Ibnu Ajjurumi dalam kitab Imrithi mengatakan:
إِذِ الْفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِعْ # وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَم يَنْتَفِعْ
Artinya: “Karena derajat seorang pemuda diukur dari keyakinannya. Bagi siapapun yang tidak punya yakin, maka ia tidak akan bisa mengambil manfaat.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Pemuda di era modern saat ini harus mampu mengisi kemerdekaan dengan menciptakan karya-karya yang membanggakan dan berprestasi. Baik dalam bidang seni, olahraga, sains, maupun teknologi. jadilah inspirasi bagi orang lain, Tunjukkan bahwa kita bisa bersaing di tingkat global tanpa melupakan identitas kita sebagai bangsa Indonesia.
Jangan sampai para generasi muda terbawa arus negatif perkembangan teknologi informasi modern, terutama media sosial. Pemuda harus memahami bahwa tidak semua informasi di media sosial adalah benar dan tidak semua tren harus diikuti. Oleh karenanya pemuda harus membekali diri dengan pengetahuan tentang cara menggunakan teknologi dengan bijak. Literasi digital meliputi kemampuan menilai informasi yang akurat, menjaga privasi, dan memahami etika bermuamalah di dunia maya harus dipegang teguh.
Hiasi kemerdekaan ini dengan menciptakan suasana yang sejuk dan positif di lingkungan masing-masing. Pemuda harus berusaha bergaul dengan ekosistem atau teman yang mendukung tujuan positif dan membatasi interaksi dengan orang-orang yang berpotensi membawa pengaruh negatif. Pemuda harus menjadi orang-orang yang tak lupa sejarah dengan menjadi sosok yang memberi manfaat pada orang lain di era kemerdekaan.
Rasulullah bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain." (HR Ath-Thabari).
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Menutup khutbah ini, mari kita ingatkan diri kita kembali untuk mendidik para generasi muda untuk tidak lupa pada sejarah agar kita bisa bersyukur dan bersemangat dalam mengisi kemerdekaan ini. Amin
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS Ibrahim: 7).
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً، اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ ﷲ ... اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا وَلوْ بِشِقِّ تَمْرةٍ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ... ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
Editor:


