Pada masa 1960-an, Indonesia dilanda beragam persoalan besar. Politik sedang terpanggang. Uang jarang berada di tangan. Sastra memuat kecamuk mengandung benci dan dendam. Pangan sulit tersedia di meja makan. Indonesia masa 1960-an, Indonesia penuh tanda seru dan misteri-misteri belum bisa tersingkap sampai sekarang.
Kita bernostalgia tanpa keharusan selalu membuka buku-buku sejarah buatan sarjana asing atau pemerintah. Di hadapan kita, selembar uang dari tahun 1960. Uang itu senilai 1 rupiah. Kita belum ingin menjadi kolektor uang-uang lama. Urusan terpenting mengetahui nostalgia tersimpan atau tercetak dalam lembaran uang.
Gambar tersaji: hamparan sawah dan gunung, Kita pun melihat empat petani sedang bekerja di sawa. Pemandangan berimajinasi pangan. Indonesia memiliki tanah-tanah subur untuk pertanian padi. Para petani tampak tulus dalam bekerja demi Indonesia makmur.
Gambar di uang itu indah. Di lakon pangan Indonesia masa 1960-an, pemerintah kebingungan dalam ketersediaan pangan. Pilihan memajukan pertanian padi berakibat “pengabaian” atau “peminggiran” jenis-jenis tanaman digunakan sebagai pangan (pokok) di pelbagai pulau. Padi masih diistimewakan di Indonesia dalam arus revolusi. Soekarno pasti menginginkan padi mengesahkan revolusi dan memuliakan Indonesia di mata dunia.
Di sisi berbeda, kita membaca keterangan mengenai penerbitan uang kertas oleh pemerintah. Kata-kata dicetak dalam ukuran kecil. Gambar agak terlihat di bawah keterangan: jagung, kacang tanah, kentang, dan lain-lain. Sajian gambar dalam lembaran uang makin mengabarkan Indonesia itu “surga” bagi beragam tanaman. Indonesia menghasilkan beragam pangan. Di kerja politik dan kesibukan revolusi, padi tetap keutamaan dibandingkan beragam pangan ditanam dan dipanen di Indonesia.
Kita memegang uang kertas lama dalam kondisi rusak. Uang itu senilai 2,5 rupiah, diterbitkan pada 1961. Uang tetap bertema pangan atau pertanian. Uang dihiasi gambar-gambar apik mengisahkan (impian) Indonesia. Di satu sisi, terlihat gambar dua lelaki dan satu perempuan bekerja di ladang. Sosok perempuan menggendong jagung. Satu lelaki sedang memilih hasil panen jagung. Satu sosok lagi bekerja dengan cangkul. Indonesia itu bekerja dan pangan!
Kita membalik lembaran uang, terlihat gambar padi dan jagung. Pesan terbesar: jutaan orang Indonesia terlarang kelaparan. Indonesia memiliki cerita-cerita (abadi) mengenai padi. Jagung pun mendapat pengisahan dalam ritual dan peristiwa-peristiwa sosial kultural di Indonesia. Konon, cerita paling moncer dan diwariskan sampai sekarang berpihak padi. Kita mengenali cerita berjudul Dewi Sri.
Uang-uang lama masih bisa ditemukan dan dipelajari meski sudah tak bisa digunakan dalam urusan keseharian. Kini, kita memiliki lembaran-lembaran uang berbeda. Pada setiap hari, kita kadang dibingungkan jumlah lembar uang dimiliki dan kebutuhan pangan dalam keluarga. Kita masih dalam tahun-tahun sulit mencari duit. Pangan tetap pokok tapi minta disiasati agar anggaran tak boros atau sia-sia.
Pada saat memikirkan uang dan pangan, pemerintah mengeluarkan seruan-seruan besar: makan bergizi gratis dan swasembada pangan. Kita ingin ikut mesem dan tepuk tangan tapi nasib dalam keseharian sedang rawan. Orang-orang sulit mendapat pekerjaan dan menghasilkan nafkah. Harga pangan sulit dijamin murah. Uang dan pangan itu tema besar harian membuat pusing, senewen, cengeng, marah, dan murung. Nasib berbeda bagi orang-orang memiliki jabatan atau pekerjaan mapan. Duit mereka bisa digunakan mengadakan makanan sesuai selera dan menerbitkan gengsi di tatapan mata publik.
Pusing akibat lakon sedih masa sekarang berkaitan uang dan pangan bisa diselingi nostalgia. Dua lembar uang lama sudah dilihat lagi. Gambar-gambar berpesan pangan di Indonesia. Kita bermimpi lagi swasembada pangan. Pemerintah dan para sarjana terus berkhotbah agar kita tak melulu makan nasi setiap hari. Anak-anak dan kaum remaja diusahakan dapat makanan bergizi agar mereka bisa membentuk masa depan.
Nostalgia masa 1960-an mengikutkan pidato dan tulisan bertema pangan. Pada 1964, Soekarno berulang memberi perintah agar orang-orang Indonesia “menggunakan djagung disamping beras sebagai makanan rakjat”. Perintah itu diterjemahkan oleh kementerian kesehatan dengan membuat kebijakan berdasarkan pertimbangan: “Bahwa rakjat Indonesia terlalu besar membatasi pilihan pokok makanannja kepada beras karena kurang pengertian mengenai gizi. Djika rakjat Indonesia membatasi pilihan pokok makanannja pada beras, Indonesia mungkin terus-menerus kekurangan beras. Perlu perbaikan gizi rakjat ini diusahakan dengan segera agar rakjat mengerti untuk memperbaiki gizi.” Kita mencatat gugatan terhadap “kekuasaan” beras dan kesadaran gizi.
Satrio selaku Menteri Kesehatan RI menjelaskan situasi Indonesia: “Sembojan-sembojan lebih mudah untuk dimengerti daripada dilaksanakan karena umumnja makanan itu tak terbeli oleh rakjat…. Sebab jang pertama jakni kurangnja daja beli rakjat, memerlukan pemetjahan ekonomi-sosial, jakni pekerdjaan bagi setiap orang dengan upah jang lajak serta djaminan sosial dalam rangka usaha kolektif sebagaimana pentingnja dalam negara sosialis jang kita idamkan.” Menteri membuat kebijakan mengandung peringatan. Pangan tak sekadar makan. Kita mendapat penjelasan tentang pekerjaan dan upah (uang) wajib diusahakan oleh pemerintah agar orang-orang di seantero Indonesia berbahagia.
Kita berlanjut membuka nostalgia dengan buku warisan masa kekuasaan Soekarno. Buku diadakan dan diterbitkan pemerintah itu berjudul Mustikarasa (1967). Buku menjadi “kitab suci” dalam memasalahkan pangan di Indonesia tapi hadir dalam epilog kekuasaan Soekarno.
Pejabat pemerintah mengungkapkan: “Maka dari itu, pemerintah telah mengambil suatu keputusan jang radikal revolusioner, jaitu merobah menu rakjat dari beras melulu mendjadi beras, djagung, umbi-umbian, dan lain-lain, bahan makanan jan tumbuh di Indonesia ditambah dengan ikan dan daging." Pemerintah mengaku bekerja keras saat politik makin semrawut dan anggaran makin menipis.
Nostalgia itu terbuka lagi mumpung rezim Prabowo-Gibran sibuk berurusan makanan bergizi gratis dan swasembada pangan. Kita masih menanti pelbagai kebijakan dan pembuktian. Masa menanti dapat kita gunakan bernostalgia uang dan buku-buku lama. Kita merasakan ada persamaan-persamaan dalam “kebahasaan” dan siasat membuat impian pangan itu melangit. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


