Para seniman menggubah lagu demi Indonesia. Kita diajak bersenandung untuk mengenang episode-episode sejarah Indonesia. Peristiwa-peristiwa terpenting di Indonesia sering berlagu.
Peristiwa 1945 pun memicu para seniman menggubah lagu agar peristiwa tak terlupa. Pada 10 November 1945, hasrat merdeka mau “ternoda” akibat keangkuhan penjajah ingin merengkuh lagi Indonesia. Di mata negara-negara kolonial, Indonesia belum diikhlaskan menjadi negara mulia. Detik-detik setelah Proklamasi, Indonesia masih harus berlakon perang dan darah. Lakon itu memunculkan para pahlawan.
Peristiwa puluhan tahun silam terus diperingati takzim. Peringatan rutin untuk Hari Pahlawan biasa mencatat daftar kegiatan: upacara bendera, ziarah, pengumuman nama pahlawan “terbaru”, pentas seni, lomba, penerbitan buku dan seminar. Kita ingin menderet ingatan dan misi pemaknaan melalui lagu. Di Indonesia, lagu-lagu bertema pahlawan berlimpah, selalu bertambah setiap tahun. Dulu, para seniman mewariskan pada kita lagu-lagu berpahlawan. Sekian lagu telah tenar tapi ada lagu-lagu tak sempat mendekam dalam ingatan jutaan orang dan jarang disenandungkan dalam peringatan hari bersejarah.
MP Siagian menggubah lagu berjudul Hari Pahlawan. Lagu berisi ingatan dan pujian. Lagu jarang terdengar dalam acara-acara di sekolah. Kita sejenak menjenguk lirik lagu agar persembahan tak sia-sia: Hari pahlawan nusa/ Kini kukenang/ Tertumpah darah suci/ Belan sang merah putih/ Bakti dan satriamu/ Pahlawan nan sakti/ Tetap dijunjung tinggi/ Tiap putra-putri/ Pahlawan yang kucinta/ Kusuma sejati/ Harum sepanjang masa/ Kenangan abadi. Lirik sederhana, tak bermaksud puitis. Lagu cenderung ingin bersesuaian cara ungkap jutaan orang saat memberi pujian dan menghormati pahlawan. Lirik cukup menggunakan kata-kata lazim tanpa sengatan metafora agar muncul senandung berimajinasi sejarah dan ketokohan.
Lagu paling teringat tentu gubahan T Prawit berjudul Mengheningkan Cipta. Lagu rutin disenandungkan bersama dalam suasana haru dan tenang. Kita fasih melantunkan lirik: Dengan seluruh angkasa raya memuji pahlawan negara/ Nan gugur remaja di ribaan bendera/ Bela nusa bangsa... Lagu telah bersejarah bersama kemauan si penggubah untuk bertaut ke peristiwa-peristiwa masa silam. Kita ingin mengenang pahlawan dengan ratusan lagu, bukan melulu lagu gubahan Prawit. Dulu, Sujasmin menggubah lagu pendek berjudul Pahlawan Mulia. Lagu tak terkenal. Kita jarang mendengar dan mengenang. Lirik tetap sederhana: Pahlawan mulia, kusuma bangsa/ Gugur berjasa, pembela negara/ Pahlawan mulia di alam baka. Pahlawan tanpa cerita. Pengenalan dan penghormatan tokoh hampir tanpa biografi dan peristiwa. Sebutan pahlawan telanjur bepengertian baku: berjasa dan membela negara di medan perang.
Lirik lagu-lagu bertema pahlawan sering menggunakan kata atau ungkapan sama. Kita mungkin jenuh. Sajian kata untuk bermakna justru terjerat ke pengulangan sebutan dan ragu dalam bercerita. Perkamusan dalam lagu pahlawan sulit bertambah dan merangsang ke titian imajinasi berlimpahan makna. Dua seniman terkenal, Cornel Simandjuntak dan Usmar Ismail, turut menggarap lagu bagi pahlawan. Lirik dikerjakan pujangga dan sutradara film bernama Usmar Ismail. Kita menduga lirik bakal puitis dan bergelimang cerita. Dugaan itu luput.
Lirik masih biasa saja: Dengarlah, dengar, nyanyian gembira/ Bagimu pahlawan kusuma bangsa/ Dengarlah, dengar, seruan mulia/ Seluruh negara memuji dikau/ Dengarlah derap langkah pahlawan menuju medan perang/ Memanggil setiap putra ikut bela bangsa. Perkembangan lirik lagu seperti berjalan pelan dan lungkrah. Para penggubah lagu cuma ingin orang-orang gampang menghapal lirik. Ajakan berbahasa dan berimajinasi agak terabaikan.
Kita mengingat T Prawit dengan lagu berjudul Mengheningkan Cipta. Ia pernah menggubah lagu berjudul Pahlawan. Lagu jarang diperdengarkan pada murid-murid di sekolah. Kita simak lirik dalam lagu panjang: Maju jalan terus, maju jalan/ Itulah semboyan pahlawan/ Berjuang berbakti ikhlas rela/ Menuju cita-cita mulia/ Tak kenal menyerah pada musuh/ Itulah sifatnya pahlawan... Lagu mengajak orang-orang berpikiran bahwa kemunculan pahlawan harus dalam perang. Pahlawan itu berani mati. Pahlawan masih terbakukan dalam peristiwa perang ketimbang ajakan mengerti pahlawan dalam pendidikan, seni, ekonomi, dan sosial-kultural. Prawit sulit mengelak dari pengulangan kata dan penokohan pahlawan di Indonesia.
Pahlawan itu darah dan kematian muncul lagi dalam lagu berjudul Kepada Temanku Pahlawan gubahan A Saleh dan Suwandi. Petikan dari lirik lagu tak puitis: Dengan tulus hati, kau korbankan jiwamu/ Kaubasahi bumi dengan darah satriamu/ Takkan lenyap jasamu daripada ingatan/ Perjuangan kuteruskan sampai akhir zaman. Kita mengandaikan menjadi murid mendapat pelajaran mengacu ke lagu-lagu bertema pahlawan tentu merasa jenuh. Senandung pahlawan selalu sama tanpa ada kerja kebahasaan dan persembahan cerita memberi pijakan memuliakan Indonesia. Lagu melulu perang dan darah!
Kita ajukan lagi lagu tak terkenal untuk menguatkan anggapan atas penceritaan pahlawan dalam lirik-lirik lagu telah baku. N Simanulangkit menggubah lagu berjudul Pahlawan yang Pergi. Lagu haru dan memuji meski tak memiliki cerita menggugah. Tatanan kata dalam lirik: Tak kusia-siakan segala perjuanganmu/ Kubela dengan jiwa dan raga pengorbananmu/ Apabila air mata berlinang segala kenangan menambah cinta pada bangsaku/ Negaraku, tanah airku, selamanya. Lagu sengaja tanpa cerita tapi hampir propaganda repetitif, sulit merangsang hasrat pemaknaan. Sekian lagu bertema pahlawan dari masa lalu telah teringat tapi memberi keinsafan atas pengulangan kata dan kesungkanan menabur makna. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


