Pertama kali menonton film Before Sunrise, ketika masih menjadi mahasiswa S-1 IAIN Sunan Ampel di Malang. Saya memiliki kesan yang sangat dalam hingga meninggalkan gema yang jauh melampaui sekadar kenangan menonton film drama romantis.
Ada sesuatu yang magis, hampir kontemplatif, bahkan sakral, ketika kita menyaksikan Jesse dan Celine turun dari kereta di Kota Wina, lalu membiarkan diri mereka terhanyut dalam perjalanan dan obrolan panjang tanpa skrip yang pasti, tanpa jaminan masa depan. Kesan spiritual tentang film itu pernah saya sampaikan kepada D. Zawawi Imron, sastrawan dari Madura, dalam sebuah diskusi kebudayaan di Pesantren al-Hikam, Malang, di awal tahun 2000-an.
Film Before Sunrise adalah film drama romantis tahun 1995. Tahun 1995 adalah tahun keempat saya kuliah di IAIN Sunan Ampel Malang. Tahun ketika saya menghabiskan seluruh mata kuliah dan tinggal menyisakan tugas akhir penulisan skripsi untuk diselesaikan tahun berikutnya. Sebagai mahasiswa akhir, saya sudah merasakan hampir semua kisah anak kuliahan: semangat, gairah, pedih, cemas, hingga keraguan tentang masa depan.
Film Before Sunrise mengisahkan pertemuan tak sengaja antara Jesse (Ethan Hawk) dan Celine (Julie Delpy). Dikisahkan, pada 16 Juni 1994, mereka bertemu secara tak sengaja di di dalam gerbong kereta dari Budapest menuju Paris. (Ini berarti, pada saat Jesse bertemu Celine, saya sedang berada dalam situasi paling menyedihkan di Malang. Merasa sendirian dan terbuang. Tapi hidup seperti kereta, ia harus terus melaju dan baru berhenti jika sampai di stasiun tujuan).
Jesse sedang menuju Wina untuk mengambil penerbangan yang akan membawanya pulang ke Amerika esok harinya. Sementara, Celine menuju Paris untuk kembali kuliah setelah menjenguk neneknya di Budapest. Di atas kereta, mereka segera terlihat dalam obrolan yang akrab.
Ketika sampai Wina, Jesse yang memang harus turun mengajak Celine turun bersamanya. Celine yang semula tampak agak ragu, dengan mendapat sedikit gombalan akhirnya mau turun bersama. Karena sama-sama mahasiswa yang tidak cukup punya uang untuk membayar penginapan, mereka memutuskan untuk berjalan menyusuri sudut-sudut Kota Wina sampai esok pagi.
Setelah menyusuri jalanan Kota Wina, mengunjungi berbagai landmark kota yang sangat indah dan historis, saat matahari terbenam di ufuk barat, saat Kota Wina mulai temaram dan lampu-lampu mulai menerangi, vibe Wina membawa perasaan indah pada dua anak muda itu. Mereka mulai merasakan sebuah hubungan romantis antarkeduanya. Mereka mulai saling membuka diri. Dalam kejujuran itu, di atas jalanan Kota Wina, mereka terlibat dalam obrolan yang dalam tentang cinta, sejarah, kehidupan, agama, dan tema-tema eksistensial lain.
Mereka saling mengakui perasaan masing-masing malam itu sekalipun mereka sadar bahwa mereka mungkin tidak akan bertemu lagi. Karena itu, mereka memutuskan untuk mengisi waktu berdua seindah yang bisa dilakukan.
Sepanjang malam hingga fajar menjelang, mereka berjalan kaki menelusuri berbagai sudut kota yang temaram, dari kafe, taman, hingga jembatan tua, sambil berbagi cerita tentang kehidupan, cinta, masa depan, kekecewaan, dan tema-tema spiritual. Setelah penat menyusuri jalanan, mereka duduk-duduk dan tiduran di sebuah taman Kota Wina yang indah. Tanpa rencana, kebersamaan singkat itu justru menumbuhkan ikatan emosional dan percintaan yang sangat kuat di antara keduanya.
Esok pagi menjelang siang di stasiun kereta, mereka berdua akhirnya harus berpisah. Celine melanjutkan perjalannya ke Paris, sedang Jesse naik bus ke bandara untuk terbang pulang kembali ke Amerika. Mereka memutuskan tidak saling berbagi nomor kontak. Hanya sebuah janji yang disepakati bahwa mereka akan bertemu kembali di tempat yang sama enam bulan kemudian. Janji cinta yang hanya disandarkan pada tekad dan kesetiaan, tanpa kepastian apa pun dari takdir.
***
Pertemuan yang lahir dari ketidaksengajaan di atas kereta api itu bertransformasi menjadi sebuah pengalaman yang, bagi saya saat itu, menyentuh ranah spiritual.
Film ini bukan tentang romansa kilat yang klise. Ia adalah sebuah perayaan atas kehadiran (presence), tentang bagaimana dua jiwa asing tiba-tiba diizinkan untuk menembus cangkang kesunyian eksistensial masing-masing.
Secara spiritual, momen paling menggetarkan dalam Before Sunrise bukanlah gestur-gestur dramatis, melainkan dialog-dialog yang mengalir jujur. Ketika Jesse dan Celine membicarakan reinkarnasi, kematian, ketakutan, kesepian, dan pencarian makna hidup di lorong-lorong kota Wina yang temaram, malam itu berubah menjadi sebuah altar kejujuran.
Pertemuan mereka menunjukkan bahwa manusia kerap kali menghabiskan seumur hidupnya untuk hidup di dalam tembok perlindungan, mengenakan topeng pencitraan, dan takut untuk benar-benar terlihat oleh orang lain. Namun, di hadapan orang asing yang baru dikenal, pertahanan itu runtuh. Jesse dan Celine saling melihat tanpa syarat, tanpa prasangka masa lalu, dan tanpa beban masa depan.
Terasa ada kehadiran Sang Maha Pengasih di saat-saat jeda percakapan mereka. Suasana itu mengingatkan kita bahwa keindahan hidup tidak jarang tersimpan rapi di balik kerapuhan (vulnerability) yang dibagikan secara tulus. Momen-momen seperti ini menyerupai sebuah epifani, penyingkapan tabir, atau kasyf dalam istilah tasawuf.
Waktu di dalam Before Sunrise memiliki hukumnya sendiri. Hanya sekitar empat belas jam, Jesse dan Celine merajut sebuah kedekatan yang terasa lebih padat dan bermakna ketimbang hubungan bertahun-tahun yang hampa.
Hubungan mereka dibatasi oleh waktu kepulangan Jesse dan Celine esok paginya. Keterbatasan inilah yang memaksa mereka untuk hadir sepenuhnya, di sini dan saat ini. Mereka tidak sibuk merencanakan masa depan atau mengkhawatirkan hari esok. Mereka merayakan detik demi detik dengan kesadaran penuh. Hal ini mengajarkan kita tentang makna kefanaan yang lebih substantif dan mendalam. Spiritualitas sering kali mengajarkan hal yang serupa, bahwa keabadian sejati bukanlah tentang lamanya durasi waktu, melainkan tentang kedalaman intensitas saat kita mencintai, mendengarkan, dan menghargai kehidupan.
Puncak dari perjalanan spiritual film ini adalah adegan perpisahan di stasiun kereta pagi hari. Tidak ada janji manis yang dipaksakan, tidak ada drama air mata yang berlebihan, melainkan sebuah penerimaan yang tenang. Mereka berjanji untuk bertemu kembali di tempat yang sama enam bulan kemudian, tanpa kepastian apakah takdir akan merestui janji tersebut. Perpisahan ini adalah sebuah keindahan yang diikhlaskan.
Di titik ini, Before Sunrise menyentuh hakikat pelepasan. Pertemuan mereka adalah anugerah yang tidak untuk dimiliki secara egois, melainkan untuk disyukuri. Terkadang, semesta mempertemukan dua jiwa bukan untuk disatukan dalam satu atap selamanya, tetapi untuk saling menyadarkan, membangkitkan, dan mengubah cara pandang hidup satu sama lain sebelum masing-masing melanjutkan jalan takdirnya.
Mengenang kembali Before Sunrise adalah mengenang saat-saat ketika hidup terasa begitu lapang dan penuh kemungkinan. Film ini mengundang kita untuk merenung: Kapan terakhir kali kita benar-benar hadir untuk orang lain? Kapan terakhir kali kita berani membuka diri, melepas segala kepenatan duniawi, dan mendengarkan denyut nadi kehidupan melalui cerita orang lain? Pada akhirnya, hidup ini mirip perjalanan Jesse dan Celine di Wina: Momen singgah sesaat yang indah, di mana yang bisa kita lakukan hanyalah merayakan setiap detiknya sebelum fajar menyingsing dan kita harus kembali ke rumah masing-masing.
====
Catatan Ringan Menjelang Reuni Akbar dan Pelantikan Ikatan Alumni UIN Malang, 2026
Penulis adalah Alumni PAI-IAIN Malang, Angkatan 1991.
Ahmad Inung
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kemenag RI
Editor:


