Sastra: Peranakan Tionghoa dan NU

Sastra: Peranakan Tionghoa dan NU

Di penanggalan Masehi, kita menjelang peringatan 99 tahun Nahdlatul Ulama. Peringatan pada 31 Januari 2025 berbeda dengan nostalgia merujuk kalender Hijriah. Di akhir bulan, peringatan mengenang NU berdekatan dengan Tahun Baru Imlek: 29 Januari 2025.

NU dan Tahun Baru Imlek mengingatkan sosok bernama Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia menggerakkan NU. Pada pembentukan biografi, ia menjadi pembaca buku-buku sastra dan berseru demokrasi. Ia memberi perhatian dan pembelaan terhadap kaum peranakan Tionghoa. Pada masa berkuasa, kebijakan-kebijakan Gus Dur memberi kebahagiaan atas nama kebhinnekaan, termasuk sukacita dalam mengartikan Tahun Baru Imlek di Indonesia.

Kita tak sedang membuka halaman-halaman biografi Gus Dur. Urusaan terpenting itu jalinan NU, kesusastraan, dan kaum peranakan Tionghoa. Kita mencoba mencari titik-titik temu meski masih samar. Ikhtiar kecil dan sembrono dalam menentukan pemaknaan masa lalu.

Pada 2024, terbit novel berjudul Kudus dalam Gelap Gulita gubahan AA Achsien. Semula, novel itu terbit pada 1941. Novel sulit terlacak dalam arus perkembangan sastra Indonesia bila kita membaca ulang buku-buku garapan HB Jassin, A Teeuw, Jakob Sumardjo, Ajip Rosidi, dan Sapardi Djoko Damono.

Novel itu dimunculkan lagi oleh penerbit Beruang (Demak), mengikutkan catatan dan pengantar dibuat oleh Widyanuari Eko Putra. Kita pun mendapat keterangan kecil biografi pengarang: “Alwi Abubakar Achsien (1915-1979) adalah penulis, jurnalis, dan aktivis Nahdlatul Ulama.” Pengarang lahir di Kudus. Ia menjadi jurnalis sejak masa 1930-an dan mengarang cerita. Tulisan-tulisan terbit di Soeara Ansor, Terompet Pemoeda, Seroean Kita, dan Berita Nahdlatoel Oelama.   

Widyanuari melacak jejak pengarang dan buku-buku. Keterangan-keterangan singkat diperoleh meski tak lengkap: “Novel berjudul Kudus dalam Gelap Gulita digolongkan ke dalam sastra Tionghoa peranakan oleh Claudine Salmon.” Pengarang selaku jurnalis dan tekun berdakwah di NU itu peranakan Tionghoa? Kita perlahan memikirkan NU, peranakan Tionghoa, dan kesusastraan (berbahasa) Indonesia.

Kita membuka buku tipis garapan A Teeuw berjudul Khazanah Sastra Indonesia (1993). Ia mengingatkan keberlimpahan rujukan sastra di seantero Indonesia. Kemunculan sastra modern terbentuk dari babak-babak panjang dan “urunan” kesusastraan biasa dicap tradisional. Ia menjelaskan: “Dalam cerita modern sering terungkap dasar kebudayaan tradisional atau konflik nilai budaya dalam penghayatan manusia modern.” Kutipan itu cocok digunakan saat kita membaca novel berjudul Kudus dalam Gelap Gulita. Di situ, ada hal-hal menandakan lakon hidup tradisional dan pembentukan manusia modern mencipta beragam konflik. Novel gubahan AA Achsien dalam arus sastra modern tapi menguak jejak-jejak tradisional.

Pembaca menemukan hajatan-hajatan “tradisional” dalam tatanan hidup modern. Pengarang menampilkan “kriminalitas” mementingkan kehadiran aparat (polisi) dan penguasa dalam mencipta tertib dan patuh. Hukum diinginkan tegak saat bermunculan gejolak sosial, politik, dan kultural di Kudus.

Deskripsi nostalgia disampaikan AA Achsien: “Kota Kudus masih belum seramai sebagai pada masa sekarang. Selain daripada rumah-rumah macam dahulu yang terbuat daripada kayu dengan ukiran yang amat elok, belumlah tertampak rumah-rumah gedung yang indah-indah seperti pada zaman sekarang.” Kota itu memiliki tokoh ditakuti dan disegani. Orang-orang menganggap ia sebagai penjahat. Nama penjahat diajukan pengarang: R Godikdirjo. Nama itu berpengaruh dengan akibat: “sekalian orang jadi jerih hatinya dan gemetar sendi tulangnya.”

Penjahat itu terpelajar. Di sepanjang novel, pembaca tak usah kaget jika mengetahui R Godikdirjo terbiasa menulis surat atau pesan di kertas dalam beragam peristiwa. Ia mungkin selalu berbekal pena di saku baju dan kertas untuk menunaikan misi-misi. Novel memuat surat-surat buatan penjahat terbukti terpelajar dan fasih bersilat kata. Penjahat memiliki kesaktian bersurat.

Novel mengisahkan hajatan tradisional dengan hiburan: “Suara gamelan yang disertakan dengan nyanyian ronggeng… Lonceng telah memukul dua belas kali, suatu tanda bahwa telah pukul dua belas malam. Sekalian tamu yang tidak begitu gemar dan senang pada tari, telah banyak yang pulang. Sedang mereka yang pendapatan sebaliknya, makin malam, makin berbuat bergila-gilaan. Sebentar pula dalam tarub telah banyak orang yang mabok…”

Penokohan ronggeng sebelum Ahmad Tohari menulis Ronggeng Dukuh Paruk. Kita mengetahui perbedaan ronggeng dalam novel garapan AA Achsien dan Ahmad Tohari. “Kebetulan” atau kekagetan saja saat pembaca menemukan masalah ronggeng dalam novel masa 1940-an untuk mengisahkan kota, kejahatan, asmara, perjudian, dan lain-lain. AA Achsien tak bermaksud mementingkan ronggeng dengan membuat judul “Ronggeng Kota Kudus.” Ronggeng dalam cerita itu memberi keutuhan peran R Godikdirjo dan kerja aparat atas nama hukum.

Ahmad Tohari (2003) menerangkan: “… tidak mudah bagi saya menjawab pertanyaan tentang maksud atau tujan saya menjadi pengarang. Misalnya, saya telah menulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Novel tersebut saya tulis selama lima tahun (1980-1985) dan sebelumnya telah mengusik batin saya selama 15 tahun.” Ia mungkin tak membaca dulu atau terpengaruh novel gubahan AA Achsien. Kita sekadar mengetahui jika ronggeng telah hadir dalam novel “modern” berbahasa Indonesia sebelum ketenaran Ahmad Tohari.

Ronggeng dalam cerita buatan AA Achsien menjadi siasat untuk keapesan dan jebakan asmara bagi R Godidirjo. Cerita tak seromantis atau setragis dengan buatan Ahmad Tohari. Persamaan tetap ada: ronggeng dalam uruasan “tradisi”, kekuasaan, aparat (hukum), dan asmara. AA Achsien mengisahkan: “Gamelan telah jua disediakan orang dan tukang tabuh pun sudah bersedia pula memukulnya. Tiada seberapa lama, maka terdengar bunyi gong dipukul oorang dengan merdunya sedang ronggeng yang memang sengaja didatangkan dari Salatiga sudah mulai melakukan kewajibannya, menyanyikan lagu-lagu yang merdu... Adapun bentuk tubuh ronggeng itu menyedapkan pada sekalian orang laki-laki, seolah-olah perempuan itu hanya dijadikan tukang tari belaka agaknya dalam dunia ini.” Kita menduga ada perbedaan “kategori” ronggeng berdasarkan latar sosial-kultural dalam novel gubahan AA Achsien dan Ahmad Tohari.

Kita tinggal dulu isi cerita. Claudine Salmon menganggap Kudus dalam Gelap Gulita masuk daftar kesusastraan peranakan Tionghoa. Di buku berjudul Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa (2010), kita mendapat keterangan melimpah dari Claudine Salmon mengenai nama dan hasil-hasil cerita dari kaum peranakan Tionghoa, dari masa ke masa. Kita perlu membaca lagi keterangan diajukan Claudine Salmon: “Sebenarnya hanya baru pada permulaan 1920-an, penulis-penulis peranakan Tionghoa menunjukkan minat yang besar pada masyarakat pribumi Indonesia dan menempatkan masyarakat itu dalam cerita-cerita mereka.”

Kita bisa berpendapat bila novel gubahan AA Achsien itu “terdampak” dari selera atau mazhab sastra sedang bertumbuh di Indonesia dalam pengaruh gerakan Balai Poestaka atau keriuhan sastra peranakan Tionghoa. Di tulisan-tulisan Claudine Salmon, belum ada usaha dalam menunjukkan latar pengarang-pengarang berkaitan NU. Para pengarang sering merujuk dalam organisasi, perkumpulan, partai politik, atau penerbitan pers tanpa harus ada singgungan dengan NU atau Muhammadiyah pada masa lalu.

Usaha kita untuk mengenali AA Achsien dengan membuka buku-buku tak menjanjikan memberi keterangan bertambah panjang. Di hadapan kita ada tiga buku tanpa memberi petunjuk terang untuk mengaitkan peranakan Tionghoa, sastra, dan NU. Kita membuka buku berjudul Peranakan Idealis: Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya (2002) garapan H Junus Jahja. Di situ, kita gagal menemukan imbuhan penjelasan. Kita berlanjut membaca buku berjudul Biografi Delapan Penulis Peranakan: Dari Penjaja Tekstil sampai Superwoman (2004) susunan Myra Sidharta. Kita mengetahi sejarah dan perkembangan sastra peranakan Tionghoa tapi tak mengajak kita makin mengenali AA Achsien dan novel-novel pernah ditulis. Di akhir, kita menghadapi buku berjudul Tokoh Tionghoa dan Identitas Indonesia (2010) susunan Leo Suryadinata. Kita sekadar mendapat keterangan sejarah di Indonesia tanpa mengarah kepada pengarang-pengarang sibuk bersastra dan bergerak dalam agenda-agenda NU. Penerbitan ulang Kudus dalam Gelap Gulita gubahan AA Achsin masih memberi “gelap” dalam biografi dan kesesejarahan. Begitu.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo