Dark
Light
Dark
Light

Dari Objektifikasi ke Pemulihan: Narasi Lingkungan dalam Sastra Anak

Dari Objektifikasi ke Pemulihan: Narasi Lingkungan dalam Sastra Anak

Sepanjang hidup, orang-orang mencari Tuhan dengan beragam cara. Ada yang berlari, berjalan, hingga merangkak. Konon, Tuhan dapat ditemui di tempat-tempat ibadah yang kemudian dibakukan menjadi 'Rumah Tuhan'.

Namun, seorang sufi asal Persia memberi pandangan lain soal hal itu, ia mengatakan: "Dulu aku mencari Tuhan di masjid namun tidak kutemukan Tuhan di sana. Aku beralih ke gereja, aku juga tidak menemukan Tuhan di sana. Aku beralih dari tempat ibadah yang satu ke tempat ibadah yang lain namun aku tidak menemukan Tuhan di sana. Justru aku menemukan Tuhanku ketika aku menengok ke dalam diriku sendiri, ketika merenungkan tentang samudera diri ini."

Kalimat itu menghentikan sejenak pikiran kita yang terlanjur menempatkan Tuhan secara terpisah. Seolah-olah, Tuhan ada di suatu tempat nun jauh di sana, sementara manusia berada di suatu tempat tersendiri. Pembagian itu akhirnya berimbas pada pemaknaan aktivitas  ibadah, lalu merambat pada cara pandang manusia terhadap makhluk lain.

Jika Tuhan diposisikan secara terpisah, maka alam yang didalamnya memuat berjuta makhluk hidup, juga tentu ditempatkan terpisah dari diri manusia. Hal yang dikhawatirkan, pemisahan itu berimbas pada cara pandang simplistik untuk melihat “di luar dari manusia” adalah objek, second class, dan inferior.

Karen Armstrong dalam Sacred Nature (Mizan, 2023) menceritakan beragam keyakinan dalam mendefinisikan alam. Salah satunya adalah monoteisme, keyakinan pada satu Tuhan yang merupakan iman utama kaum Yahudi, Kristiani, dan Muslim-merupakan pengecualian besar.

Pada bagian yang sangat awal dari Alkitab Ibrani, bab pertama Kitab Kejadian, Tuhan mengeluarkan perintah kepada manusia generasi pertama, memberi penguasaan total atas alam: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Tidak seperti kitab-kitab suci lainnya, Alkitab Ibrani tidak berfokus pada kesucian alam, karena penduduk Israel mengalami yang Ilahi di tengah-tengah manusia, bukannya di dunia alam. Perubahan itu mengakibatkan pergeseran pandangan manusia dalam melihat alam. Dari yang sakral perlahan dilucuti menjadi profan.

Pandangan itu ternyata tidak hanya dilekatkan pada bacaan orang dewasa tapi juga anak-anak. Penciptaan (Adolos Publishing, 2002) gubahan Helen Haidle, mengutipkan firman serupa. Buku anak dengan kertas tebal, berwarna, dan penuh gambar apik itu mengisahkan proses penciptaan semesta. Di dalamnya memuat pembuatan langit dan bumi, terang dan gelap, cakrawala, laut, bintang-bintang, beragam binatang dan tumbuhan, lalu manusia.

Menjelang akhir halaman, penulis mengutipkan kalimat serupa yang dituliskan dalam buku Sacred Nature. Kata “taklukkanlah, berkuasalah” mengesankan superioritas manusia di tengah alam. Asosiasi kata itu menghadirkan pemaknaan bahwa manusia berhak untuk menundukkan makhluk lain. Pembacaan tekstual pada teks tersebut amat mengkhawatirkan di tengah krisis ekologis yang makin parah.

Sebuah bacaan anak mengisahkan dampak terburuk dari cara pandang yang memisahkan antara manusia dan alam. The Twits (1980) gubahan Roald Dahl bercerita tentang sepasang manusia yang sama-sama membenci dan menghabiskan hari demi hari untuk saling menyiksa. Siksaan itu berimbas juga pada hewan-hewan peliharaan yang mereka miliki.

Empat monyet peliharaan Mr dan Mrs Twit diperintahkan untuk jungkir balik. Mereka harus berdansa, bermain sepak bola, makan dan minum dengan cara jungkir balik (bertumpu pada tangan mereka dengan kaki di atas). Tak peduli apakah para monyet itu akan pusing atau pingsan karena banyaknya darah yang mengalir di kepala, Mr dan Mrs Twit tetap memerintahkan jungkir balik untuk dilakukan. Jika tidak, mereka akan datang dengan tongkatnya yang keji.

Suatu ketika, datang burung Roly-Poly menolong. Bersama dengan hewan-hewan lain mereka membuat perhitungan pada The Twits. Apa yang dahulu dilakukan oleh kedua orang jahat itu dibalas serupa oleh para hewan. Hal yang dianggap tidak masuk akal, tapi bisa terjadi dengan caranya sendiri.

Kita boleh menafsir, yang terjadi dalam The Twits (1980) adalah analogi kekuatan alam. Yang dilakukan oleh manusia pada alam adalah yang akan dipetiknya dikemudian hari. Alam akan begitu penyayang tapi juga mengerikan. Laut bisa memberikan berjuta-juta anugerah tapi juga bencana, gunung memberikan sumber kehidupan tapi juga kematian.

Menghitung paradoks dari wajah alam, upaya untuk memaknai arti alam dengan penuh cinta sangat perlu diupayakan. Kesadaran itu tidak bisa dicapai hanya dengan pendekatan lewat perundangan juga sosialisasi secara ilmiah. Diperlukan pengisahan dan pelibatan tubuh secara langsung.

Tidak seperti dalam wacana modern yang sangat positivistik, pengisahan berupa mitos leluhur, dongeng, dan folklore sangat diperlukan. Dalam teks tersebut, alam disajikan secara imajinatif dan estetis daripada ilmiah dan perintah-perintah. Bentuk tersebut lebih banyak melibatkan emosi dan tubuh. Keyakinan untuk sampai pada kesadaran “mencintai alam” lebih dekat untuk direkuh.

Mendekatkan diri pada alam juga bisa menjadi upaya untuk memunculkan kembali keterhubungan pada yang sakral. Misalnya dengan memberikan waktu khusus untuk menghayati keagungan di balik alam.

Kapan terakhir kali kita mengizinkan mata dan telinga untuk sungguh-sungguh bersentuhan dengan alam? Tanpa gawai, tanpa kepentingan pekerjaan, tanpa kebutuhan eksistensi sosial media. Kita hanya benar-benar menaruh diri di tengah-tengah alam Yang Maha Luas. Memandang pohon tergerak oleh angin, mendengar kicauan burung, dan menyadari hirupan udara yang kita lakukan detik demi detik.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo