Menjelang Asar, lelaki penjual sayuran berdiri di teras rumah.
“Mari kita diskusi soal ketuhanan,” katanya, suaranya pelan penuh keyakinan.
Aku tertegun menatap penampilannya: baju kumal, sandal usang, sepeda butut dengan keranjang reyot. Meski begitu, ada sesuatu yang berbeda dalam caranya berbicara. Terlintas di pikiranku orang ini bukan sembarang tukang sayur. Mungkin sufi yang menyamar, atau seorang wali. Siapa tahu.
“Aku tidak suka diskusi, apalagi soal keyakinan,” jawabku singkat, sembari menyelidik.
“Mengapa begitu?” tanyanya.
“Karena aku ingin keyakinanku mantap. Diskusi hanya membuat akal menjadi buntu, menjadikan ragu, dan akhirnya malas salat.”
Dia tersenyum tipis. “Allah memberimu akal untuk dimanfaatkan. Kamu diangkat sebagai khalifah-Nya, menjadi wakil-Nya, justru karena akalmu. Binatang lain tidak diberi kedudukan setinggi ini.”
Dengan lancar dia mengutip ayat, "Afalaa ya'qiluun? Afalaa yatafakkaruun? Apakah kau tak berakal, tak berpikir dan merenung?”
"Memanfaatkan akal adalah bentuk syukur kepada-Nya. Dan syukur itulah jalan mendekatkan diri pada Tuhan. Keyakinanmu justru akan lebih kuat jika dipupuk dengan akal sehatmu," kata dia.
Aku tersentak. Kata-katanya tajam, sarat hikmah. Siapa orang ini? Tanpa sadar, aku mengangguk dan mempersilakannya masuk. Kami mulai tenggelam dalam diskusi.
Diskusi yang awalnya sederhana, berubah menjadi kompleks. Kami membahas Tuhan—tentang theisme dan atheisme, Friedrich Nietzsche, Jean-Paul Sartre, dan Bertrand Russel hingga ilmu kalam yang berliku, dari Asy’ariyah hingga Mulla Sadra. Tak hanya itu, kami juga melompat ke masalah takdir, kebebasan, dosa, pahala, dan kehidupan setelah mati. Diskusi itu begitu mendalam, menukik, filosofis dan merangsang pikiranku.
Sesekali aku melempar pertanyaan nakal, mencoba memancing reaksinya, menguji pengetahuannya. Tapi dia selalu menjawab dengan tenang, bahkan memuji kecerdasanku. Katanya aku kritis, khas ilmuwan sejati. Hatiku berbunga-bunga. Dia mengatakan aku punya potensi besar menjadi ulama pewaris nabi. Ucapannya membuatku semakin bangga.
Namun, di sela-sela diskusi, aku merasa ada yang aneh. Lelaki ini begitu pintar, seperti orang yang pernah belajar filsafat, tapi di sisi lain, dia tampak sederhana. Dari sudut mata, aku memperhatikan wajahnya. Ada sesuatu yang misterius, tapi tak kutemukan jawabannya.
Aku melirik sepeda bututnya yang bersandar di halaman. Sepeda dengan dua kronjot berisi sayuran layu. Apakah dia tukang sayur sungguhan? Atau seorang intelektual yang hidup dalam penyamaran? Atau mungkin seorang majdzub—sufi yang sedang mengalami jadzab, sebuah kondisi spiritual anomali di mana seorang sufi terombang-ambing antara realitas dunia dan pengalaman mistis yang melampaui logika.
Aku teringat Imam Al-Ghazali yang meninggalkan segalanya demi mencari kesejatian. Berkelana di jalan sunyi, mengasingkan diri, hingga akhirnya menghasilkan karya agung, Ihya Ulumuddin. Mungkinkah pedagang sayur ini sosok seperti itu?
Kami melanjutkan diskusi, semakin intens. Gema azan Asar masjid depan rumah tenggelam di tengah percakapan kami. Aku makin larut terbawa.
Seorang tetangga melintas , tersenyum padaku, "Mangga (mari) salat jemaah, pak," katanya ramah.
Tamuku memicingkan mata, tidak senang. “Riya, ujub, pamer,” gumamnya pelan.
"Betul. Sok religius," timpalku, merasa percakapan kami lebih bermakna dari apa pun.
Kami terus berbincang. Kali ini tentang negara, pemerintah korup, sistem pendidikan buruk, generasi muda dekaden. Semua dikritiknya dengan cerdas, sinis, seperti seorang pengamat di televisi. Aku semakin kagum, perasaan hormatku bertambah. Orang-orang yang berangkat ke masjid tampak seperti bayangan tak berarti.
"Sesekali tidak jemaahlah. Ini momen langka," pikirku apologis.
Tamuku mencondongkan diri, berbisik dengan suara lembut, "Perbincangan kita ini majelis ilmu. Ribuan malaikat mendoakan kita ke hadirat Allah."
Aku tersenyum bangga. Betapa mulianya kami, berdiskusi soal Tuhan di majelis ilmu seperti ini. Hatiku semakin mekar. Kami melanjutkan diskusi. Berbuih-buih.
Tiba-tiba azan Magrib berkumandang. Aku tersentak sadar.
"Ya Allah, kita belum salat Asar!" teriakku, penuh penyesalan.
Tamuku menunduk, tetapi tidak menyesal. Malah terlihat tenang. Aku menatapnya gusar. "Berbuih kita bicara soal Tuhan, tapi lupa salat! Bagaimana ini?!"
Ia tersenyum dan terkekeh lirih. Bahunya berguncang menahan tawa. Perlahan dia mendongak, menatapku.
Aku terkejut. Wajah yang damai dan tenang hilang dan berubah. Matanya menyala dan kepalanya tumbuh tanduk. Mukanya memerah diikuti senyum kemenangan. Seketika kekagumanku lenyap.
Iqamat dari masjid melengking, tamuku melayang dan terurai menjadi asap, lalu lenyap.
Setan itu pergi.
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.
Editor:


